Monday, March 30, 2015

27 DAN MAKNA SEBUAH STATUS



Apa yang pertama terpikirkan olehmu ketika usiamu memasuki angka 27? 

Source: www.quickmeme.com

Bagi kebanyakan pria, 27 tahun mungkin adalah saat dimana mereka telah mencapai suatu tahap pendewasaan. Akan tetapi, bagi sebagian wanita, usia 27 bisa bermakna lebih dari itu. Sebuah survei menunjukkan bahwa pria akan mencapai titik usia paling matang pada umur 43 tahun, sedangkan wanita pada usia 32 tahun. Selain itu, pria lebih lama mengalami pendewasaan dibandingkan dengan wanita, yaitu sekitar 11 tahun.

Eh, kenapa saya jadi membahas soal umur ya?
Hmm, sebenarnya tulisan ini berangkat dari pengamatan saya ketika pernah tinggal di luar negeri (baca: Australia). Pasalnya ketika saya kembali ke Indonesia bulan Januari lalu, saya merasa tiba-tiba ada yang mengganjal di benak saya. Bagaimana ya pandangan orang terhadap saya ketika saya kembali berada di tengah-tengah mereka? Sebagian besar dari mereka tentu saja menyambut saya dengan ucapan selamat dan syukur, tapi tak sedikit pula dari mereka yang tampak semangat menanyakan ini: "UDAH SELESAI YA, TERUS KAPAN NIKAH?"

Seolah-olah seperti petir di siang hari bolong (maaf kali ini saya lebay, he he he), saya bingung lho ditanya begitu. Saya pun nggak tahu mau jawab apa. Rasanya jawaban "mohon do'anya" diiringi senyum tipis sudah menjadi jawaban andalan saya (hingga kini). Tapi yang semakin membuat saya kaget adalah ketika mereka mengaitkannya dengan umur: "UMURMU MEMANG BERAPA SIH SEKARANG?" Loh, memang ada apa dengan umur saya? Apa kaitannya?


Jika dibandingkan dengan di Indonesia, pada umumnya orang asing merasa risih jika ditanya tentang perihal tersebut. Bagi mereka itu adalah hal yang sangat privasi dan kurang pantas untuk ditanyakan. Tetapi, saya pun tersadar, saya sudah kembali ke kampung halaman saya sehingga suka tidak suka, pertanyaan itu akan terus ditujukan ke saya. Namun, ketika usia saya mencapai 27 apakah memang sebuah keharusan bagi saya untuk menikah? Apakah status menikah atau tidak menjadi sangat penting?

Jujur saja, saya dulu bercita-cita menikah pada usia 25 tahun. Umum banget ya? Tetapi ternyata Tuhan lebih menginginkan saya untuk lebih dulu bersiap meniti pendidikan yang lebih tinggi di Australia. Menyesal? Tentu saja tidak! Hidup itu pilihan, dan pilihan itu tidak serta merta datang, tetapi Tuhan yang menunjukkan. Lantas, saya masih belum paham oleh makna sebuah status bagi mereka, para wanita (atau mungkin pria) yang sudah mencapai angka 27 dalam hidupnya.

Allah SWT bersabda bahwa manusia menikah jika memang sudah layak menikah.

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan" (QS. 24:32)

Di samping itu, Allah SWT juga menjanjikan bahwasanya:

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik..." (QS. 24:26)

Bahkan Allah SWT tidak menyebutkan secara rinci batas usia seorang manusia untuk menikah. Seseorang dipersyaratkan menikah hanya jika dia telah memasuki masa baligh. Oleh karena itu, usia berapa pun asalkan seseorang sudah dalam kondisi baligh maka dapat dikatakan sudah siap untuk menikah. Namun mengapa sepertinya status demikian begitu penting di masyarakat, khususnya bagi mereka wanita yang sudah berusia 25 tahun ke atas?

Hmm, hal ini mungkin terkait usia reproduktif seorang wanita yang dimulai sekitar 15 tahun. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa jika seorang wanita berhubungan seksual pada usia 20-an, maka dia akan terhindar dari risiko kanker payudara dan ovarium. Selain itu, emosi akan semakin terbentuk saat mulai memasuki usia 20 tahun sehingga menjadi bekal penting bagi kehidupan rumah tangga kelak. Menurut penelitian lain, fertilitas berangsur-angsur menurun pada usia 30-an. Tiga puluh lima tahun juga menjadi batas yang sering digunakan bagi mereka yang ingin memiliki buah hati mengingat salah satu risiko kematian ibu didasari oleh adanya 4T (4 Terlalu) yang salah satunya adalah "Terlalu Tua". Oleh karena itu, age sometimes does matter, doesn't it?! :)

Nah, mungkin karena itulah status seringkali dianggap sangat penting saat memasuki usia tersebut. Yah, saya sih sudah merasakan itu sejak lama, tapi ya bagaimana wong belum (eh, kok malah curcol, he he he). Tapi saya heran, banyak teman-teman saya di Australia tak terlalu ambil pusing akan hal ini, terlebih teman-teman wanita saya. Tetap saja saya pasti kepikiran...

So, intinya penekanan usia pada sebuah pernikahan tidak menjadi soal. Disebutkan bahwa yang penting sebenarnya dalah kesiapan fisik dan mental, yaitu mulai dari persiapan moral (kematangan visi keislaman), persiapan fisik, kepribadian, materi dan sosial. Oleh karena itu, (buat teman-teman yang masih single) jangan khawatir! Tanamkan saja agenda persiapan tersebut di dalam benak kita dan laksanakan semampu kita seraya menunggu. Perkara kapan dan di usia berapa, jawabannya kita serahkan sama Tuhan saja. Jadi, jika kamu berusia 27 tahun dan ditanya apa statusmu, bilang: TANYA SAJA SAMA TUHAN! He he he he :))

(Tulisan ini dibuat bukan dengan maksud menggurui ya, hanya memberikan motivasi saja buat teman-teman dan saya pribadi tentunya)

Semangat!

Saturday, March 21, 2015

MENJADI PENELITI UNTUK NEGERI



Saya saat menjadi penyaji poster ilmiah di sebuah Simposium Kesehatan Nasional

Meneliti adalah...
 Berusaha melihat lebih dekat,
Mendengar cerita lebih lama,
Mengamati lebih seksama,
Mencoba mengerti dengan logika, dan 
Menarik analisis sesuai dengan kondisi nyata.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Assalamu'alaikum.

Adakah di antara kalian yang pernah mendengar apa itu profesi peneliti? Tahu nggak sih apa saja yang peneliti lakukan di dalam pekerjaannya?

Menurut saya, tak banyak yang mengetahui profesi ini sebenarnya. Orang awam sering mengira bahwa peneliti itu cenderung seperti Einstein. Penampilannya terlihat sangat 'nerd' alias kutu buku dan sibuk bereksperimen untuk menghasilkan sebuah penemuan. Hmm, pada dasarnya, tidak semua peneliti demikian lho. Peneliti tidak selalu identik dengan orang yang 'freak' akan ilmu, senang menyendiri dan tidak memperdulikan penampilan. Sebaliknya, [eneliti itu ternyata sebuah profesi yang menurut saya sangat mengasyikkan. Mengapa?


Memperkaya wawasan dan ilmu

” ….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah [58] : 11)

Selama lima tahun terakhir ini, saya menggeluti bidang penelitian kesehatan masyarakat. Banyak hal yang saya peroleh dengan menjadi seorang peneliti. Pertama, saya merasa ilmu saya semakin bertambah. Ilmu sebenarnya tidak hanya didapatkan melalui pendidikan formal, tetapi juga ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai lulusan S1 Kesehatan Masyarakat, saya mungkin dinilai sudah cocok menekuni profesi ini. Tapi, saya ternyata masih harus memiliki ilmu lain untuk menjadi seorang peneliti. Untuk menjadi seorang peneliti, saya dituntut harus mampu bekerja baik sebagai individu maupun sebagai tim. Peneliti harus memiliki rasa kekeluargaan dan kerja sama yang tinggi. 

Kedua, dengan melakukan penelitian memungkinkan seorang peneliti untuk terus belajar dan belajar. Penelitian membuka gerbang saya untuk belajar menganalisis fenomena dan masalah yang saya teliti, untuk selanjutnya saya jadikan sebagai ilmu baru. Jadi, peneliti sebenarnya dapat belajar dari hasil penelitian yang diperolehnya. Selain itu, seorang peneliti mungkin saja juga menemukan sesuatu yang menarik dan tidak pernah ada sebelumnya. Misalnya, penemuan vaksin HIV/AIDS. Hebat 'kan?! Oleh karena itu, saya senang berkarya sebagai peneliti. Saya banyak belajar keilmuan di luar ilmu dari latar belakang pendidikan saya. Saya belajar dari banyak peneliti-peneliti senior yang memiliki bidang keilmuan berbeda dari saya. Ketika saya diajak dalam sebuah penelitian mengenai pengendalian Demam Berdarah contohnya, saya juga belajar tentang ilmu biologi nyamuk dan ilmu kesehatan lingkungan dari mereka. Menarik bukan?

Saya bersama teman saya memeriksa perkembangbiakan jentik nyamuk 

Mengenal karakter orang dan lingkungan sekitar

Penelitian itu pada prinsipnya tidak selalu dilakukan di dalam ruangan tertutup, misalnya di laboratorium. Penelitian yang berbasis masyarakat seperti yang saya lakukan sebenarnya lebih banyak dilakukan di lapangan. Kalau kalian pernah melihat sales penjual barang yang suka berkeliling ke rumah-rumah, mungkin peneliti juga bisa dianalogikan demikian, he he he. Peneliti kesehatan masyarakat lebih banyak berinteraksi dengan manusia dan alam. Dari situ saya jadi tahu bagaimana harus menyesuaikan diri beradaptasi dengan lingkungan. 


Tim enumerator Riskesdas saya yang siap turun ke lapangan

Saya ingat beberapa tahun lalu meneliti bagaimana status kesehatan masyarakat di Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Tergabung dalam tim Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI, saya bersama tim enumerator saya bergerak menyusuri kampung dan desa yang ada di Kabupaten tersebut. Saya memasuki satu per satu rumah yang terdaftar sebagai sampel penelitian kemudian melakukan wawancara terhadap seluruh anggota keluarga di rumah-rumah tersebut. Sungguh saat itu, saya banyak memperoleh pelajaran. Saya tidak hanya harus bisa membaur dengan mereka, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dengan baik. Saya mau tidak mau jadi bisa mengenal karakter orang, termasuk orang-orang yang ada tim penelitian saya.

Salah satu bagian di dalam sebuah penelitian: analisis data

Meningkatkan kreativitas dan inovasi

Menjadi peneliti itu dituntut harus bisa kreatif dan inovatif. Tapi bukan berarti saya itu orangnya sangat kreatif ya.. :) Nah, mengapa harus kreatif? Ide penelitian itu bisa sangat luas. Kita bisa meneliti dari hal yang kecil hingga yang besar sekali pun. Agar penelitian itu bisa menarik dan hasilnya bisa berguna bagi orang banyak, peneliti tentu saja harus bisa sekreatif mungkin menuangkan ide-idenya ke dalam sebuah penelitian. Misalnya saja, penelitian tentang tanaman obat sebagai bahan dasar jamu. Orang mungkin banyak tahu beberapa jenis jamu yang umum dikonsumsi seperti jamu kunyit asam dan beras kencur, tetapi jika kita mau berinovasi, kita bisa menghasilkan jamu dari bahan dasar lain yang tentunya memiliki khasiat yang lebih banyak. Peneliti yang kurang kreatif mungkin terkesan tidak up-to-date dan cupu ya. Tapi itu benar lho! He he he. Jadi, kreativitas dan inovasi menjadi kunci penting bagi seorang peneliti.


Menjadi pribadi yang jujur,  berani dan tangguh

"Peneliti itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong!"

Kata-kata di atas juga mencerminkan seorang peneliti lho! Hasil-hasil penelitian tentunya tidak selalu sempurna dan berhasil. Kadang peneliti bisa gagal menjawab tujuan dari penelitiannya. Maka dari itu, peneliti itu boleh saja salah. Penelitian itu 'kan proses interaksi orang yang meneliti dengan apa yang ditelitinya, jadi error atau kesalahan bisa saja terjadi. Dengan menjadi peneliti saya dituntut menjadi pribadi yang jujur, berani dan tangguh. Jujur terhadap proses dan hasil penelitian serta berani dan tangguh dalam menghadapi hambatan di dalam penelitian.

Bagi peneliti lapangan seperti saya, kendala lebih banyak datang dari luar. Akses geografi dan komunikasi yang sulit sering menjadi hambatan dalam kegiatan penelitian, contohnya jalan yang rusak, becek dan berlumpur, dan tidak adanya sinyal telepon. Bahkan jalan tidak bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor, harus dilalui dengan berjalan kaki selama berjam-jam. Hal inilah sebenarnya yang mengasyikkan dari seorang peneliti. Kita jadi lebih mandiri dan siap dengan kondisi apa pun!

Salah satu kendala di lapangan, akses jalan yang rusak
Bekerja sambil berwisata

Nah, hal lain yang tak ketinggalan adalah kesempatan berwisata sambil bekerja. Mungkin kita sering mendengar pepatah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Pepatah ini bisa berlaku bagi seorang peneliti. Mengapa? Penelitian yang dilakukan di banyak daerah di Indonesia memungkinkan saya untuk lebih mengenal tempat-tempat wisata yang ada di daerah-daerah tersebut. Saat di lapangan atau di waktu senggang, saya bisa sambil menikmati keindahan alam dan budaya masyarakat daerah setempat. Saya jadi semakin bersyukur dan mencintai Indonesia... :)

Nah, itu tadi sedikit pengalaman dan sharing saya tentang profesi sebagai peneliti. Tertarik untuk mengikuti jejak saya? 

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi teman-teman pembaca. Pada dasarnya, semua pekerjaan atau profesi itu menarik asalkan halal, bermanfaat dan membawa berkah bagi orang yang menjalankan dan orang lain di sekitarnya. Jadi, jalankan profesimu dengan rasa cinta dan keikhlasan maka kamu insyaa Allah akan berhasil!

Selamat berkarya!

Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge bulan Maret.

Sunday, February 1, 2015

MARTABAK MANIS (TANPA RAGI)




Dear food lover,

Siapa yang nggak pernah bosen makan martabak manis?! He he he.

Makanan yang satu ini jelas sudah menjadi favorit bagi kebanyakan orang termasuk saya sendiri. Rasanya yang tentu saja manis dan legit paling pas disajikan sebagai sajian penutup. Istilah martabak manis ternyata ada macam-macam lho! Mulai dari martabak Bangka, martabak Terang Bulan sampai martabak manis Bandung. Ayo, kamu lebih suka beli yang mana? He he he. Isian martabak pun kini beragam, dari yang sangat sederhana seperti coklat meises, susu dan ketan item, sampai isian yang mahal sekali pun seperti selai coklat Nutella atau Toblerone.

Kalau kamu salah satu penyuka panganan yang satu ini, wajib sesekali mencobanya di rumah. Memang sih nggak usah pusing-pusing kalau lagi pengen. Tinggal keluar rumah sebentar, penjual martabak manis biasanya udah menjamur di pinggir-pinggir jalan. Tapi nggak ada salahnya lho kalau kamu mau membuatnya di rumah. Selain hemat, isiannya bisa kamu gunakan dengan bahan yang lebih variatif.

Setelah sebelumnya saya sudah pernah posting resep martabak manis di sini, kini saya mau membagi resep martabak manis yang tanpa menggunakan ragi. Memang apa sih bedanya? 

Yang jelas, ada perbedaannya. Pertama dari tingkat kemiripan dengan yang dijual oleh penjual martabak. Kedua adalah tekstur martabak itu sendiri. Martabak manis yang tanpa menggunakan ragi dikenal sebagai resep yang biasa digunakan penjual martabak pada umumnya. Kalian bisa membedakannya dari tekstur kulit dan kue martabak. Rahasianya ada pada penggunaan BAKING SODA atau SODA KUE! 

Nah, resep yang akan saya share sekarang telah saya modifikasi dari resep berikut ini. Karena adonan yang dibuat dalam resep tersebut terlalu banyak, jadi saya kurangi jumlah takarannya pada resep saya. Tapi jangan khawatir, martabak yang saya buat pun berhasil.

Penasaran? Yuk, dicatat bahan-bahan dan cara membuatnya. Selamat mencoba ya!!
Bahan-bahan:
  1. 300 gram tepung terigu, ayak
  2. 1/4 sdt vanili bubuk/ esens vanili
  3. 1/4 sdt garam
  4. 2 butir telur
  5. 4 sdm gula pasir
  6. 250 ml susu cair
  7. 1/2 sdt soda kue/baking soda
  8. Gula secukupnya, sebagai taburan
  9. Margarin, sebagai olesan
  10. Pisang/meises coklat/selai coklat, kacang atau buah-buahan/keju cheddar parut/susu kental manis, sebagai topping
Cara membuat:
  1. Campurkan tepung terigu yang sudah diayak bersama garam dan vanili pada wadah kering. Sisihkan.
  2. Pada wadah terpisah, kocok telur bersama gula pasir menggunakan mikser dengan kecepatan tinggi selama kurang lebih 5 menit hingga adonan telur berwarna putih pucat.
  3. Setelah itu kurangi kecepatan mikser lalu masukkan terigu dan susu cair secara bergantian ke dalam adonan telur hingga tercampur rata.
  4. Terakhir masukkan soda kue/baking soda, aduk rata lalu matikan mikser.
  5. Tutup wadah dan diamkan adonan selama kurang lebih 1 jam.
  6. Setelah 1 jam, siapkan wajan anti lengket berdiameter kurang lebih 20 cm (di sini saya menggunakan wajan dengan ukuran yang lebih kecil). Panaskan di atas api sedang.
  7. Tuang kurang lebih 2-3 sendok sayur adonan ke dalam wajan, kecilkan api. Tutup wajan dan masak hingga muncul banyak pori pada permukaan martabak.
  8. Jika sudah muncul banyak pori seperti itu, taburkan gula pasir secukupnya di atas permukaan martabak. Tutup wajan kembali dan masak hingga matang.
  9. Setelah martabak matang dan permukaannya telah berwarna kecoklatan, angkat martabak.
  10. Selagi panas, oleskan margarin di atasnya. Kemudian, taburkan topping sesuai selera. Lipat martabak lalu potong-potong. Sajikan.

Campur tepung terigu, garam dan vanili bubuk ke dalam satu adonan.


Kocok telur dan gula pasir hingga putih pucat.



Masukkan sedikit demi sedikit terigu bergantian dengan susu cair


Adonan yang sudah siap didiamkan selama 1 jam.


Taburkan gula pasir ketika pori-pori pada martabak telah muncul


Martabak yang telah matang dan siap diangkat


Olesi martabak yang baru diangkat dengan margarin secukupnya.


Olesi dengan topping sesuai selera (saya menggunakan selai coklat dan irisan pisang)

KONSEP HUJAN DAN RIZKI



Assalamualaikum.

Apa kabar teman-teman? Masih hujan kah di sekitar tempat tinggal kalian saat ini? Semoga hujan tidak membuat kita jadi justru lebih senang bermalas-malasan ya. He he he.

Memasuki musim penghujan, suasana memang seringkali membuat kita lebih senang berada di dalam rumah. Tak terkecuali saat akhir pekan datang. Rasanya kita tidak mau beranjak dari tempat tidur.

Akan tetapi, sebenarnya hujan itu adalah bagian nikmat Allah yang besar untuk kita. Mengapa?

Air hujan sebenarnya diturunkan ke muka bumi bukan tanpa tujuan. Allah SWT pernah berfirman:

وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ

"Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan." (QS. Al-Baqarah: 164)

Kita tahu bahwa air merupakan sumber kehidupan bagi manusia, hewan maupun tumbuhan, dan salah satu sumber datangnya air tersebut adalah melalui turunnya hujan dari langit. Maka bayangkan jika hujan tidak pernah turun di suatu daerah. Daerah tersebut akan dilanda kekeringan dan kehidupan pun akan ikut terganggu.

Sumber: images.google.com

Dari firman di atas, kita seharusnya sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa Allah menurunkan air hujan untuk menghidupkan bumi dan segala isinya. Dari air hujan tersebut, Allah menumbuhkan segala jenis tanaman termasuk sayur mayur dan buah-buahan yang merupakan sumber makanan bagi kita, sebagaimana firman Allah SWT yang lain:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ


"dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu." (QS. Al-Baqarah: 21)

Jadi, air hujan adalah air yang penuh berkah. Air hujan juga merupakan air suci yang juga mampu menyucikan. Bahkan Rasulullah SAW (PBUH) pernah mengatakan bahwa air hujan membawa banyak kebaikan.

Dalam riwayat Muslim, diketahui bahwa Rasulullah SAW (PBUH) juga pernah menyibakkan bajunya agar tubuh beliau terkena air hujan. Saat beliau ditanya tentang air hujan tersebut, beliau menjawab:

لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

"Karena sesungguhnya hujan ini baru saja Allah Ta’ala ciptakan." (HR. Muslim)

Sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi, hal ini dikarenakan hujan adalah rahmat, maka beliau meminta berkah melaluinya. 


Melihat banyaknya kebaikan yang Allah SWT turunkan melalui hujan, maka Rasulullah SAW (PBUH) mengajarkan kita agar memuji Allah SWT saat melihat hujan. Beliau juga mengajarkan kita agar selalu berdo'a saat melihat hujan dan meminta kebaikan kepada-Nya. Hal ini disebabkan karena saat-saat turunnya hujan adalah waktu yang mustajab.

Rasulullah SAW (PBUH) bersabda: 

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ وَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَنُزُوْلِ الْغَيْثِ

"Carilah pengabulan doa pada saat bertemunya dua pasukan, pada saat iqamah shalat, dan saat turun hujan." (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak: 2/114 dan dishahihkan olehnya. Lihat Majmu' fatawa: 7/129. Al-Albani menghassankannya dalam al-Silsilah al-Shahihah no. 1469 dan Shahih al-Jami' no. 1026)

Untuk itu, marilah kita senantiasa berprasangka baik pada Allah SWT bahwa hujan yang Dia turunkan merupakan bentuk nikmat-Nya untuk kita. Jangan justru mencela dan membenci kedatangannya yang menghambat aktivitas kita. Karena kebaikan yang Allah SWT limpahkan melalui air hujan, kita justru harus banyak memuji-Nya dan berdo'a kepadaNya. Fenomena banjir dan bencana alam lain yang sering kali terjadi di sekitar kita barangkali merupakan ujian dan teguran dari Allah SWT atas perbuatan kita sendiri yang mungkin sudah merusak alam. 


Cerita berikut mungkin bisa membantu kita untuk lebih memahami konsep hujan dan rizki. Semoga bisa menambah wawasan keIslaman kita ya. Mohon maaf kalau ada di antara kalian yang sudah pernah membacanya. Yuk ah, balik selimutan, hmm.. he he he :)


Hujan dan Tukang Rujak



Hari ini hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak numpang berteduh di teras ruko. Beliau saya pinjamkan tempat duduk dari dalam toko. Masih penuh gerobaknya dengan buah-buah tertata rapi. Kulihat dari dalam toko beliau membuka buku kecil. Rupanya sebuah Alquran. Beliau begitu tekun dengan Al-Qurannya.

Sampai jam setengah 11 hujan tak kunjung berhenti. Saya mulai risau karena sepi pembeli. Saya keluar sekadar memberikan air minum kemasan dan beberapa butir kurma. Tidak ada sedikitpun raut gelisah terlihat di wajahnya.

“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak… ” Kataku sambil menatap gerobaknya. 

“Masih banyak banget.” 

Beliau tersenyum, “Iya bu.. Mudah-mudahan ada rejekinya.. .” jawabnya. 

“Aamiin,” kataku. 

“Kalau gak abis gimana, Pak?” tanyaku penuh iba… 

“Ya.. Kalau gak abis ya risiko, Bu… Kalau yang gak bisa sampai besok kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga juga seneng daripada kebuang. Kalau kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah,” katanya tersenyum. 

“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi. 

“Ya Alhamdulillah bu… Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa dan meminta sesuatu sama Allah. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa bu…” Katanya sambil tersenyum. “Dikasih kesempatan berdoa juga kan rejeki, Bu…” 

“Terus kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi. 

“Berarti rejeki saya bersabar, Bu… Allah yang ngatur rejeki, Bu… Saya bergantung sama Allah.. Apa aja bentuk rejeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, bertahun tahun saya jualan rujak belum pernah sampai kelaparan. 

“Pernah gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa Bu, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Alqurannya ke kotak di gerobak. 

“Mumpung hujannya rintik, Bu… Saya bisa jalan .. Makasih yaa ,Bu…” katanya sambil menutup badannya dengan plastik dan membuka payung yang menempel di grobaknya. 

Saya terpana… Betapa malunya saya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rejeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata. 

Tiba-tiba hati yang tadinya gundah menjadi ceria, mumpung masih hujan … Masih ada kesempatan dapat berdoa di waktu mustajab. 

Wednesday, January 21, 2015

TACO FRIES WITH SMOKED CHEESE AND MUSHROOM




Dear friends,

How are you today? Demi mewujudkan resolusi blog saya di tahun ini, saya akan mulai mem-posting tulisan di blog setiap minggunya. Bismillah! 

Hari ini saya mau bagi-bagi resep istimewa yang bisa teman-teman coba di rumah. Resep kali ini mungkin judulnya agak kebarat-baratan, he he he. Resep ini mengingatkan saya dengan salah satu restoran cepat saji Lord of the Fries di Melbourne yang menyajikan menu kentang goreng dengan berbagai macam saus topping di atasnya. Kayaknya enak juga kalau saya bisa bikin di rumah, he he he.

Meski terlihat western, tapi saya yakin resep ini bisa teman-teman coba dengan menggunakan bahan-bahan lokal yang bisa dengan mudah ditemui di sekitar kita. Kalau kalian pecinta kentang goreng (fries/chips), dijamin resep ini bisa jadi alternatif yang pas untuk menemani kalian nonton TV atau berkumpul bersama keluarga. Tapi ada satu hal yang harus kalian waspadai ya! Kalorinya! He he he. Pasalnya, resep ini menggunakan minyak untuk menggoreng kentangnya dan tentu saja si keju yang melengkapinya. 

Selain itu, teman-teman juga harus menyiapkan bumbu utama dalam resep ini, yakni Taco seasoning (bumbu Taco). Bagi sebagian dari kalian, Taco mungkin tidak asing di telinga. Taco adalah sejenis makanan asal Meksiko yang dihidangkan menggunakan roti tortila dan berisi bermacam-macam jenis isian, seperti daging atau seafood, daun selada, potongan tomat dan bawang bombai. Bumbu yang digunakan sendiri sangat khas. Bumbu ini pun bisa kita buat sendiri, lho! Bahan-bahannya relatif tidak terlalu sulit karena hanya menggunakan campuran bahan-bahan kering, yakni cabai bubuk, bawang putih bubuk, oregano, paprika bubuk dan kunyit bubuk. Hanya saja, dalam resep ini saya menggunakan bumbu yang sudah jadi atau mix powder. Bumbu ini bisa teman-teman cari di supermarket. Jika ingin tahu lebih jelas tentang cara membuat bumbu Taco, kalian bisa baca di sini

Udah penasaran ya bagaimana cara membuat kentang gorengnya? Yuk kalau gitu disimak resepnya berikut ini.

Bahan-bahan:

500 gram kentang siap goreng, pilih yang unsalted (tidak dibumbui dengan garam)

Saus topping dan taburan:
200 gram jamur kancing kalengan, iris tipis
2 sdm tepung terigu
150 ml susu cair
1/2 buah bawang bombai, cincang halus
1 buah tomat, potong dadu
3 sdm bumbu Taco siap pakai (Taco seasoning)
1 sdm minyak zaitun (olive oil)
Garam, gula dan lada secukupnya

75 gram keju smoked cheddar yang sudah diparut (bisa diganti dengan keju cheddar biasa, atau keju mozarella jika suka)
1 buah daun bawang, iris-iris tipis


Cara membuat:
  1. Goreng seluruh kentang yang ada dalam resep hingga matang dan berwarna kuning kecoklatan. Angkat dan tiriskan sejenak.
  2. Panaskan minyak. Tumis bawang bombai hingga harum. Kecilkan api. Masukkan tepung terigu, aduk sampai bergumpal.
  3. Tuang susu cair sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai tidak lagi bergumpal dan adonan menjadi licin. Masukkan potongan jamur dan tomat. Beri bumbu seperti garam, gula dan lada secukupnya. Aduk sebentar hingga cairan mengental. Angkat.
  4. Panaskan oven bersuju 150 derajat Celcius. Sementara itu, siapkan pinggan tahan panas. Olesi dengan sedikit minyak di semua sisinya. Tuang kentang goreng ke dalam pinggan. Ratakan.
  5. Tuang adonan jamur di atasnya secara rata lalu taburi dengan parutan keju dan irisan daun bawang.
  6. Panggang kentang dalam oven selama 15 menit hingga matang dan keju meleleh. 
  7. Sajikan hangat.
Itu tadi cara membuat kentang goreng dengan bumbu taco dan keju ala saya. Jika kalian mau yang lebih berat lagi, jamur bisa diganti dengan daging cincang. Oke, mudah-mudahan bisa kalian praktekkan sendiri di rumah. Ditunggu eksekusinya ya! :)

Penampakan kentang sebelum dipanggang dalam oven.


Wednesday, January 14, 2015

MINGGUKU BERCERITA


Source: Google images, edited by Nissa

Assalamu’alaikum.

Bagaimana kabar pembaca sekalian? Memasuki minggu kedua di awal tahun 2015, adakah resolusi yang sudah kalian lakukan untuk segera diwujudkan? Atau apakah kalian justru masih menyusun resolusi untuk tahun ini?

Membuat resolusi biasanya menjadi agenda tahunan bagi sebagian orang untuk mengawali datangnya tahun yang baru. Resolusi berisi segala hal yang ingin dicapai dalam jangka waktu 365 hari ke depan. Nah, berhubung kebetulan saya memang belum membuat resolusi untuk tahun 2015 ini, saya akhirnya jadi semangat untuk mengikuti Blog Post Challenge yang diadakan oleh Indonesian Hijab Blogger (IHB) team, dengan tema pertamanya adalah membuat resolusi blog tahun 2015. Wah, seru ya!!!

Tapi ngomong-ngomong, daftar resolusi yang saya buat sangat simple lho. Resolusi blog saya di tahun ini adalah:

"MINGGUKU BERCERITA"

Lho, kok simple banget? He he he. Iya memang sangat simple. Sesuai dengan judul tulisan saya ini, saya ingin sekali bisa lebih berkarya dan lebih banyak menghasilkan tulisan, yakni caranya dengan setiap minggu bercerita! 

Saya akui saya sering sekali lho kena penyakit writer's block. Dalam beberapa bulan, tak jarang saya bahkan tidak sempat ataupun tidak ada ide untuk menulis. Oleh karena itu, tahun ini saya ingin sekali bisa sering menulis, paling tidak satu kali dalam seminggu. Makanya saya senang banget ada challenge dari IHB team. Saya bisa jadi makin semangat membuat tulisan di blog. Tentu saja tulisan itu akan banyak bercerita tentang karya-karya fiksi saya, resep makanan yang pernah saya buat serta sharing pengalaman maupun tips and trik seputar studi, perjalanan wisata dan kegemaran saya yang lain. Saya akan mengurangi tulisan-tulisan yang tidak perlu, curhat contohnya, he he he. 

Intinya, tahun ini, insyaa Allah, saya harus terus semangat menulis yang tentunya menulis sesuatu yang bisa bermanfaat bagi teman-teman pembaca, termasuk cerita-cerita fiksi yang bisa jadi teman ngopi atau ngeteh di kala sore, he he he. Jadi ingat sebuah pepatah Cina yang isinya seperti ini:

"When someone shares something of value with you and you benefit from it, you have a moral obligation to share it with others."

Semoga kita selalu bisa saling berbagi informasi yang bermanfaat ya...! Mari semangat menulis! :)

*Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge 2015

Source: http://indonesianhijabblogger.blogspot.com.au/

Saturday, January 3, 2015

TUNGGU AKU DI JAKARTA



Dua hari lagi.
Lelah sudah aku menunggu detik-detik keberangkatanku.
Karena semakin aku menunggu, semakin aku ragu untuk berjumpa denganmu.

Akan tetapi, membayangkan perjumpaan kita kembali membuat tenang hati ini.
Melihat senyum manismu dan merasakan peluk hangatmu adalah surgawi.
Rasa yang sudah setahun ini tak lagi sama kurasa.

Dua hari lagi.
Selesai sudah aku merangkul mimpiku di kota ini.
Berjuta kejutan dan keajaiban telah dia hadirkan untukku.

Dan, kini saatnya aku pulang.
Kembali menjemput kehidupan yang sempat kutinggalkan.
Berharap semua itu telah rapi kau simpan.

Jadi, tunggu aku ya!


Tunggu aku di Ibukota.


Sydney, 3 Januari 2015
Dini hari

*Prosa ini dipersembahkan untuk keluarga, teman dan sahabat tercinta

Tips Untuk Membuat Tamu Rumah Liburan Merasa Senang Di Rumah Anda

Pernahkah Anda memiliki perasaan tidak pasti bepergian ke suatu tempat untuk tinggal bersama keluarga yang tidak Anda kenal dengan baik? ...