Showing posts with label Hati. Show all posts
Showing posts with label Hati. Show all posts

Saturday, December 13, 2014

IMAJINASI

Menghayal itu ternyata mengasyikkan ya? Aku baru sadar, ternyata sudah bertahun-tahun aku seperti berbaring dalam hamparan bunga tidur yang enggan membuatku terbangun. Oh, atau mungkin aku tidak tahu saja bahwa selama itu pula ada seseorang yang hendak membangunkanku. Layaknya pangeran yang menyelamatkan Putri Tidur dari lelapnya yang panjang?
Ah, aku menghayal lagi 'kan. Sudah ah! Mungkin memang sudah bukan waktunya lagi bermain imajinasi dan menghayal sesuatu yang tidak pasti. Tapi jika itu hanya sepenggal cerita fiksi, salahkah?
Mereka bilang, cerita fiksi kadang perumpaman kisah yang sebenarnya terjadi dalam nyata. Bagiku, itu adalah refleksi diriku, suasana hatiku, pengalamanku dan ya, imajinasiku. Tuh 'kan, lagi-lagi soal imajinasi. Tapi aku bingung, apakah mencintaimu juga adalah sekedar imajinasiku?
Sepertinya, sudah pernah kutanyakan itu kepadamu. Yah, maklum saja, aku ini kadang lupa. Aku saja hampir lupa kalau aku pernah mencintaimu. Atau sebenarnya sengaja lupa. Itu mungkin aku lakukan karena aku tahu diri, aku pasti masih dalam posisi terlelap dalam mimpi. Karena kini aku tahu bagaimana rasanya saat sudah tersadar.
Aku bersyukur kini ada sesuatu yang membuatku terjaga. Sesuatu yang bahkan hatiku sendiri sulit untuk menjelaskannya. Tapi kupastikan ini bukan imajinasiku lagi. Karena aku sadar betul bahwa aku sekarang dibuat menjauh darimu. Entah apa yang membuatku begitu. Kecewa dan penyesalan? Ah, jeleknya aku bahkan tidak tahu itu apa. 
Tapi, percayalah, sudah jutaan kali aku mencari tahu jawabannya. Dan aku tetap tak tahu alasannya. Atau mungkin lagi-lagi aku lupa. Aku dibuat lupa oleh cintaku pada rasa sakitnya. Tidak hanya olehmu, tapi oleh orang-orang sebelum dirimu yang menamai diri mereka 'cinta sejati'. 
Memang ada cinta sejati di dunia ini? Apa itu hanya imajinasiku?

Thursday, November 6, 2014

PRIA DALAM DO'A


Teruntuk kamu yang ada dalam do'aku,

Ini memang sudah dini hari, tapi hatiku belum berhenti tergerak untuk menyebut namamu. Aku masih ingin mengangkat kedua tanganku sebelum aku berangkat tidur, membisikkan alunan do'a yang selalu hampir sama setiap harinya. 

Teruntuk kamu yang ada dalam do'aku,

Jika kamu hendak bertanya apa isi do'a tersebut, maka maafkanlah aku. Bahwasanya hanya aku dan pencipta-Mu lah yang pantas mengetahuinya. Karena aku meminta melalui-Nya maka kuharap Dia yang akan menjawabnya.

Teruntuk kamu yang ada dalam do'aku,

Ketahuilah bahwa cara ini yang membuatku tenang berada jauh darimu. Aku gelisah, kukatakan ini terus terang. Aku gelisah akan rindu yang membuncah kepadamu, yang kadang menghantuiku di kala sepi. Aku kesal hanya bisa mengirimkanmu do'a-do'a ini. Tapi kukatakan ini bukan tanpa sebab. Karena kurasakan ada dinding besar membentang dalam perasaanku, sebut saja dinding keraguan. 

Teruntuk kamu yang ada dalam do'aku,

Ya, aku ragu. Aku ragu akan hadirnya sosokmu dalam beberapa kali mimpi yang mengganggu nyenyaknya tidurku. Tak tahukah dirimu kalau aku sesak dibuatnya. Aku ragu apakah perasaan ini sejatinya tepat jika harus kau yang memiliki. Singkatnya, aku meragukanmu. Aku meragukan setiap pesan manis yang kau balas dari balik ponselmu. Aku meragukan setiap senyum yang kau lempar untukku di antaranya. Ah, aku ragu. Hingga suatu malam pun aku ragu apakah aku harus terus menyebut namamu, wahai pria yang ada dalam do'aku.

Teruntuk kamu yang ada dalam do'aku,

Aku mengagumi sosokmu sedari dulu hingga kini. Mungkin dimulai saat pertama kali aku merasakan dekat denganmu, meski kini kau sudah kembali ke kotamu. Aku mengagumi caramu mengingatkanku pada-Nya. Aku mengagumi keuletanmu menuntut berbagai ilmu yang kau peroleh dalam hidupmu. Aku mengagumi kesabaranmu belajar menghadapi ujian-ujian terberatmu. Dan aku mengagumi setiap keyakinan yang kau bangun dalam dirimu, bahwa apa yang menurut kita baik belum tentu baik dari sisi-Nya. Bahwasanya hanya Dialah tempat kita menaruh harapan.

Teruntuk kamu yang ada dalam do'aku,

Jika memang hanya Dialah tempat kita menaruh harapan, maka biarkanlah aku untuk terus mendo'akanmu. Biarkanlah aku untuk terus menyebut namamu hingga tiba saat Dia menjawab semua do'a tersebut. Karena sejatinya aku sudah memilihmu.

Teruntuk kamu yang ada dalam do'aku,

Entah cepat atau lambat aku yakin kau akan membaca tulisan ini. Aku hanya berdo'a pada saat kau membaca ini, Dia sudah memberikan jawabannya. Aamiin.

*Ditulis pada pukul 2 dini hari.

Sydney, 7 Nov 2014
Seorang teman yang akan terus mendo'akanmu.

AR

Friday, August 1, 2014

BINAR MATA ARIOLA

"Aduh, cantiknya!"
"Iya. Dia memang cantik."
Aku mengangguk seraya memandangi selembar brosur pertunjukkan teater dengan seksama. Kulihat wajah seorang pesohor terkenal terpampang jelas di halaman muka. Dia cantik dan tampak mempesona. Wajahnya yang persegi dihiasi sepasang mata bulat dan sebuah lesung pipi di pipi kanannya. Kulitnya putih mengilap. Pantas saja jika temanku itu terbuai dibuatnya.
"Bagaimana Adam? Jadi tidak kita menonton pertunjukkan itu besok malam?", tanya temanku yang berdiri di sebelahku, masih memandangi gambar artis favoritnya itu.
"Oke... apa salahnya.", aku mengiyakan ajakannya sambil melempar senyuman jahil.
"Nah! Gitu dong..". Dia pun senang bukan kepalang. "Kapan lagi 'kan kita bisa melihat dia tampil. Oke kalau begitu. Besok kita bertemu di tempat biasa aja ya. Kali ini gue deh yang bawa mobil. Lo duduk manis aja, nanti gue jemput."
"Sip!" 
Kami pun akhirnya berpisah dan pergi meninggalkan gedung teater sore itu. Karena hari itu aku tidak bawa kendaraan, kuputuskan untuk menaiki bus hingga ke rumah. Jarak lokasi teater tadi dengan rumahku terbilang tak terlalu jauh. Jadi aku tak terlalu khawatir dengan padatnya lalu lintas. 

Sesampainya di rumah, entah mengapa aku masih penasaran dengan sosok artis idaman temanku itu. Ron, biasa aku memanggil temanku tersebut, sudah dua bulan terakhir ini menjadi pengagum rahasianya. Aku pun baru mengenal sosok salah satu bintang teater kenamaan itu berapa minggu terakhir, sejak pertunjukkan fenomenalnya yang berjudul "Rinduku yang Tak Pernah Padam" menjadi bulan-bulanan perbincangan kaum adam. 

Selepas mengganti pakaian, aku lantas menyambangi meja kerjaku. Aku diam-diam mulai mencari tahu tentang jati dirinya di internet.    
"Ariola... Stephanie... oke, klik", sautku sambil menuliskan nama panjang artis itu pada kotak pencarian di halaman Google.
Tak berapa lama, beberapa situs internet berisi namanya bermunculan di layar komputerku. Ada sekitar dua juta hasil pencarian yang ditemukan. Astaga, sudah seterkenalkah itu dia? Kenapa aku tidak pernah memperhatikannya ya? Jangan-jangan aku terlalu sibuk mengurusi bisnis agen perjalanan baruku. Rasa penasaranku pun berlanjut. Aku membuka tiap halaman situs yang berisikan tentang kehidupannya. Aku membaca tiap artikel itu dengan agak teliti. Rasanya ada yang tak asing dari dirinya. 

Ah, benar saja! Dia teman satu kampusku tujuh tahun silam.
"Hmm. Masa iya...", bisikku dalam hati.
Aku lantas mengambil album kenangan semasa kuliah dari dalam kabinet di dekat meja kerja. Aku membuka halamannya satu per satu, memperhatikan tiap foto yang tertempel di album tersebut. 
"Stephanie...? Stephanie...!"
Sungguh terkejutnya aku. Aku menemukan foto seorang wanita yang parasnya tak jauh berbeda dengan Ariola. Astaga! Dia memang Ariola. Matanya sama bulatnya, ditambah lesung pipi yang sama persis dengan milik Ariola, terletak di bagian pipi kanannya. Namun, aku tetap menemukan perbedaan dalam diri Ariola, atau Stephanie kala itu. Dia masih menggunakan kacamata dan rambutnya masih ikal sebahu. Bentuk tubuhnya pun masih padat berisi, belum langsing seperti sekarang. 
"Ya Tuhan. Dia benar-benar Ariola."
Aku masih tak percaya artis yang dikagumi Ron itu adalah teman kuliahku. Yang lebih membuatku tak habis pikir adalah aku tiba-tiba teringat bagaimana hubungan pertemanan di antara kami berdua. Dia adalah salah satu perempuan yang cintanya pernah aku tolak. Yup, pernah aku tolak. Sebenarnya dulu aku tak terlalu mengenal sosoknya. Dia adalah mahasiswa biasa dan tidak pernah terlibat dalam kegiatan apa pun. Sementara aku sudah sibuk berorganisasi sejak tahun pertama perkuliahan. Tapi anehnya entah mengapa aku tak pernah menyukainya. Hingga pada akhirnya dia menyatakan perasaannya kepadaku, tepat saat malam keakraban di tahun kedua. Aku menolaknya. Ya, aku menolaknya dengan alasan yang klise, karena ingin berkonsentrasi pada kuliah. Alasan yang menurutku cukup bisa diterima dibandingkan harus berkata jujur bahwa tak ada perasaan cintaku terhadapnya.
 "Ah.. nyesel gue..."
Aku sungguh menyesal, menyesal karena tak menerima cintanya. Dan aku menyesal tak membiarkan diriku mengenalnya lebih jauh. Jika saja aku menerima cintanya saat itu, mungkin saja kami masih bersama sampai detik ini. Atau, bahkan bisa saja kami sudah menikah. Akan tetapi, pada kenyataannya sekarang aku masih sendiri alias masih menjomblo.
"Yah... mungkin memang gue nggak berjodoh sama dia.", ucapku lirih, berusaha menerima kesalahan diri sendiri.
Malam makin larut. Aku sampai lupa makan malam karena terlalu asyik memandangi wajahnya di album tersebut. Aku lama-lama terkantuk dan seketika tertidur di atas sofa.

***
"Ya ampun antriannya... Gila!"
Aku dan Ron baru tiba di depan pintu gerbang teater. Sejumlah orang sudah tampak berbaris rapi mengantri untuk masuk ke dalam gedung. Kami pun turut berdiri di barisan paling belakang.
"Lo yakin udah dibawa kan tuh tiket, bro?", tanya Ron soal tiket.
"Tenang, udah sampai lima kali mungkin gue cek. Nih...", jawabku seraya mengambil dua tiket pertunjukkan dari dalam saku kemejaku. 
"Sip...", balasnya. "Ngomong-ngomong, tumben lo rapi hari ini, bro?", tanya Ron kembali. Kali ini dia memperhatikanku dari ujung rambut hingga kaki.
"Ya masa lo aja yang boleh tampil keren. He he he...", ucapku sambil tertawa.
"Wah udah mulai suka kayaknya lo sekarang ya. Gawat nih gue ada saingan", balas Ron lagi sambil menyeringai. 
 "Yah.. let's see!"
Antrian tak berapa lama terurai dan kami pun perlahan-lahan memasuki gedung pertunjukkan. Kami sangat beruntung hari itu karena mendapatkan dua tiket VVIP dengan harga super murah. Pasalnya Ron sudah berupaya mati-matian memperoleh tiket istimewa itu agar bisa melihat artis idamannya tersebut hanya dalam jarak beberapa langkah darinya. Aku sungguh bersyukur. Kami pun duduk di barisan paling depan tapi tidak tepat di tengah panggung. Ah, tak apalah! Walau bagaimana pun, aku tetap akan bisa melihat Stephanie dengan jelas lalu-lalang di hadapanku. 

20 menit kemudian pertunjukkan pun dimulai. Ruangan mendadak gelap gulita dan riuh tepuk tangan seketika menggema dalam ruangan. Tak berapa lama cahaya kemerahan muncul dari balik tirai panggung. Sesosok wanita berpakaian hitam menawan dengan kerlipan beberapa butiran berlian yang terhias di antaranya datang dengan diiringi suara latar belakang yang meriah, sama meriahnya dengan tepuk tangan para penonton yang sejak awal sudah meneriaki namanya. Dia sungguh mempesona. Aku benar-benar terbius olehnya dan tak bisa berkata apa-apa. Binar matanya tiba-tiba membawa ingatanku ke masa lalu. Stephanie? Kaulah yang sekarang ada di hadapanku? 

***

Satu setengah jam pertunjukkan pun berlalu. Aku dan Ron hanya bisa terdiam, masih tak percaya dengan apa yang telah kami lihat. Aku setuju dengan pernyataan yang pernah terlontar oleh temanku ini, dia memang luar biasa. Dia tak hanya cantik, tapi aktingnya juga sungguh menarik, penuh dengan penghayatan. Kami yang masih terdiam dan sesekali melempar senyum kecil ini hanya bisa berjalan keluar gedung di antara kerumunan orang yang masih setia membicarakan penampilan Ariola malam itu. Sesampainya di luar gedung, Ron akhirnya buka suara
"Gila! Gila! Keren abis...! Ada ya cewek secantik itu di dunia ini. Aktingnya bro... sumpah keren abis.", seru Ron sambil memegangi bahuku dengan kedua tangannya. Tubuhku terasa berguncang. Aku pun tak kuasa tertawa.
"Ha ha ha.. Ron, kita semua sudah terbius sama dia. Gue akui dia memang super.", balik merangkul bahunya sambil mengajaknya berjalan menuju parkiran. Dia tetap saja bergumam sendiri, mengagumi tiap detail penampilan bintang favoritnya.
Sampai di dalam mobil Ron masih belum bisa berhenti berbicara. Hingga pada akhirnya dia merasa lapar dan memutuskan untuk mengajakku makan malam di restoran barbecue kesukaannya. Aku dengan segera mengiyakan.

(Di dalam restoran)
"Apa? Jadi lo temen kuliahnya Ariola...? Serius?", tanya Ron dengan mata hampir melotot.
"Sayangnya iya...", jawabku pelan.
"Memangnya lo tau dari mana dia temanlo. Ah... dibuat-buat aja mungkin nih.", ucap Ron meragukan. 
"Hmm... kemarin. Gue coba cari tahu soal Ariola di internet. Eh, ketemu deh biografinya. Ya gitu deh.", sautku mencoba menjelaskan. Raut wajah Ron masih menyiratkan ketidaksukaannya mengetahui bahwa diriku mungkin lebih mengenal Ariola daripada dirinya. Tapi aku pun tak berani mengatakan bahwa sesungguhnya Ariola, atau Stephanie kala itu pernah menyukaiku, tapi aku menolaknya.
"Tapi kan gue pun udah lama nggak ketemu sama dia.", ujarku menambahkan.
"Iya sih. Tujuh tahun.", saut Ron sedikit menerima kekalahan. Sesekali dia menyeruput minuman soda yang ada di depannya. 
Setelah selesai menghabiskan makanan yang terhidang di meja, kami pun beranjak meninggalkan restoran. Kebetulan malam itu restoran sedang ramai sehingga Ron terpaksa harus memakirkan mobilnya agak jauh dari lokasi tempat makan. Dia pun pergi meninggalkanku lebih dulu untuk mengambil mobil.
"Tunggu sini Dam. Gue ambil mobil dulu."
"Oke."
Aku memutuskan berdiri menunggunya di pojok dekat dengan pintu restoran. Makin malam ternyata suasana tempat makan barbecue favorit Ron ini makin ramai. Pengunjung pun berduyung-duyung keluar dan masuk restoran. Aku sesekali memperhatikan mereka. Namun tiba-tiba seorang wanita dengan wajah yang sangat familiar mengalihkan pandanganku. Dia tampak sedang berjalan menuju ke arah parkiran. Wajahnya tak begitu jelas, tapi ada beberapa pria berkemeja hitam berjalan di sebelahnya. Karena penasaran, aku pun mengejarnya. Aku berusaha berjalan cepat agar bisa sampai lebih dekat dengannya. Hingga sudah lima langkah jarak kami, aku memanggilnya.
"Stephanie!", teriakku dengan lantang. 
Dia terkejut dan saat itu juga menoleh ke arahku. Aku berusaha mendekatinya lagi. Wajahnya kini tampak jelas. Binar matanya tiba-tiba menusukku. 
"Stephanie!"
"Adam?" 

Monday, December 30, 2013

DEAR ALLAH

Bekasi, 31 Desember 2013


Dear Allah,

Beberapa jam lagi di penghujung tahun, Engkau masih memberikanku kesempatan menulis satu patah kata di blog ini. Tahun ini begitu banyak cerita dan kisah yang mungkin kalau kata orang bisa jadi melodi dalam sebuah sinetron televisi, banyak rasa manis, masam dan getirnya. Dan di tahun ini aku benar-benar merasakan dirimu sangat sayang padaku. Engkau mengabulkan satu demi satu cita-citaku, yang salah satunya akan terlaksana di awal tahun depan. Sungguh karunia yang luar biasa.

Terima kasih ya Allah atas kesekian kalinya Kau menyelamatkan aku dari kenistaan dunia yang hampir menjerumuskan aku. Kali ini Kau mengajarkan aku tentang arti penting sebuah kesabaran, keikhlasan dan cinta yang sesungguhnya. Bahwa tidak semua apa yang kita inginkan bisa sekaligus kita peroleh, bahkan mungkin hanya sebagian darinya yang menurutMu pantas untuk didapatkan. Cobaan yang pernah datang rasanya hampir membuatku menyalahkanMu dan menuntutMu telah berlaku tidak adil padaku. Tapi ya Allah, semua aku tepiskan dengan keyakinan bahwa hal yang terjadi adalah bentuk Kau mendidikku dan mungkin menguji keimananku. 

Di mataku, tak ada yang berhak untuk lebih dicintai selain diriMu, Tuhan Sang Pemilik Cinta yang Abadi. Kini tinggal menunggu detik pergantian tahun itu muncul, yang akan menjadi tanda bahwa ada banyak kisah dan cerita luar biasa berikutnya yang telah Kau siapkan menungguku di sana. Mudah-mudahan menjadi kisah yang akan membawa rasa cinta ini lebih dalam lagi, cintaku kepadaMu. Aamiin. 

Surat di atas didedikasikan khusus untuk mengenang Moments to Remember #MTR2013 part 6 'Faith'.

Tips Untuk Membuat Tamu Rumah Liburan Merasa Senang Di Rumah Anda

Pernahkah Anda memiliki perasaan tidak pasti bepergian ke suatu tempat untuk tinggal bersama keluarga yang tidak Anda kenal dengan baik? ...