Showing posts with label Beasiswa. Show all posts
Showing posts with label Beasiswa. Show all posts

Wednesday, June 7, 2017

Berguru di Negeri Kincir Angin




Assalamu'alaikum.

Dua bulan vakum dari aktivitas blogging karena mengurus segala persiapan studi ke Belanda ternyata benar-benar membuat saya rindu setengah mati sama blog ini. Rasanya kok seperti ada yang hilang ya. Tekad saya untuk tetap menulis selama di sana pun pada kenyataannya kandas karena alasan kesibukan. Tiga minggu di Amsterdam memang terasa begitu melelahkan bagi saya. Tapi alhamdulillah-nya, rasanya semua terlewati begitu cepat. Kalau kata orang, itu tandanya saya bisa beradaptasi. Nggak tahu juga, mungkin ada benarnya, meskipun saya mengalami lagi yang namanya cultural shock

Selama di Belanda, saya mengikuti short course mengenai Sexual and Reproductive Health Rights Policy, Governance and Financing di sebuah perguruan tinggi di Amsterdam bernama Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT), atau sering disebut dengan Royal Tropical Institute. KIT mungkin memang bukan salah satu perguruan tinggi yang memiliki rangking 50 besar dunia, tapi setelah saya googling, ternyata universitas ini memiliki reputasi yang mumpuni di dunia kesehatan internasional, terutama dalam bidang health system and development. KIT juga ternyata memiliki sejarah kerjasama yang cukup panjang dengan World Health Organisation (WHO) dalam berbagai proyek mengenai health system. KIT bahkan menjadi WHO Strategic Centre of Expertise untuk beberapa isu kesehatan, termasuk HIV dan AIDS, serta menjadi WHO Collaborating Centre for Research, Training and Development untuk bidang Human Resources of Health. 



Saya, saat baru pulang sekolah :)

Gedung KIT tampak dari depan

Suasana di dalam hall utama KIT yang sangat bergaya Eropa klasik


Teman-teman sekelas saya di program SRHR policy

Hari-hari saya saat menyelesaikan tugas akhir, ditemani secangkir kopi espresso

Ngomong-ngomong soal program studi, saya mengambil studi tentang kebijakan kesehatan karena tanpa diduga program studi yang saya apply di awal, yaitu Sexual and Reproductive Health Rights: Organising Effective Response tidak jadi dibuka. Qadarullah, semua mungkin sudah atas ijin Allah. Kurang lebih tiga bulan sebelum keberangkatan, pihak universitas tiba-tiba meng-email saya tentang perihal pembatalan tersebut. Rasa kecewa tentunya ada, tapi setelah pertimbangan yang cukup panjang, pada akhirnya saya menerima tawaran mereka untuk mengikuti program lain yang akan dilaksanakan di waktu yang sama. Alhamdulillah, pihak Stuned pun setuju dan tidak mempermasalahkan. Jujur saja, kebijakan kesehatan selama ini adalah topik yang tidak terlalu saya minati. Namun, yang membuat saya tertarik tak lain karena adanya mata kuliah mengenai analisis kebijakan dan penyusunan policy brief, yang saya yakini akan sangat berguna ketika saya kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai seorang peneliti.



Menariknya belajar di KIT adalah metode pembelajarannya yang menurut saya inovatif. Perkuliahan tidak hanya diisi oleh pembelajaran tatap muka antara dosen dengan mahasiswa, tetapi juga melalui metode lain seperti group quiz, debat, tutorial, role playing (atau bermain peran) dan journal club. Mau nggak mau, saya mesti mempersiapkan diri sebelum masuk ke kelas dan diusahakan sudah membaca terlebih dahulu materi-materi yang akan dibahas di dalam setiap sesi, khususnya saat sesi debat atau journal club. Tugas akhir yang diberikan pun adalah membuat policy brief yang sesuai dengan topik kesehatan reproduksi dan seksual. Dalam tugas ini, saya dan kawan-kawan tidak hanya diminta menyelesaikan policy brief kami masing-masing, tetapi juga harus memberikan feedback satu sama lain yang ternyata berguna sekali dalam proses penyempurnaan policy brief kami

Albert Cuyp market - open market di Amsterdam favorit saya yang hanya tutup pada hari Sabtu

Salah satu open market di kota Haarlem

Gluten-free stroopwafels yang saya temukan di pasar kaget di Haarlem

Salah satu toko yang menjual segala jenis produk gluten-free

Produk-produk bebas gluten yang dijual, mulai dari roti, tepung, biskuit, dll

Hidup di negeri orang memang selalu memiliki tantangan tersendiri. Meskipun hanya tinggal sebentar, saya juga perlu berdaptasi selama di Belanda - mulai dari mengenal bahasa dan kebiasaan warga lokal, menyesuaikan waktu tidur dan ibadah shalat, hingga mencari makanan yang ramah untuk orang Muslim seperti saya. Kendala bahasa saat berbelanja ke supermarket serta bersepeda layaknya warga lokal adalah dua contoh kesulitan yang sempat saya alami ketika baru tiba pertama kali di Amsterdam. Maklum, bahasa Belanda yang saya tahu hanya sebatas ucapan terima kasih, selamat pagi dan sampai jumpa, hehe. ðŸ˜„. Di supermarket, misalnya, hampir seluruh produk makanan dan minuman dijual dalam bahasa lokal. Dengan berbekal kamus yang ada di ponsel, saya berusaha mengartikan kandungan bahan yang ada di dalam setiap produk agar tidak salah tafsir. Sebenarnya sebagian besar warga Belanda juga bisa berbahasa Inggris, namun tetap saja, ada hal-hal lucu dan sedikit 'menjengkelkan' yang terjadi karena kendala bahasa, seperti saat saya salah membeli hati ayam karena mengira sosis ayam, salah memilih kasir karena tak bisa membaca petunjuk bahwa kasir tersebut tidak menerima pembayaran cash, hingga gagal berbelanja di sebuah halal butcher yang penjualnya ternyata berkebangsaan Turki tapi sama sekali tak bisa berbahasa Inggris.😊😄.

Meski begitu, hal membahagiakan yang saya rasakan ketika tinggal di Belanda salah satunya adalah kemudahan menemukan produk makanan bebas gluten baik di supermarket maupun restoran di Amsterdam dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan di Indonesia. Meskipun saya harus melihat dari segi kehalalannya juga, tapi paling tidak saya bisa dengan aman mengkonsumsi berbagai macam roti dan makanan manis khas Belanda yang sarat akan gluten, contohnya stroopwafels, poffertjes dan pancake. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan sehari-hari warga Belanda untuk menikmati roti saat sarapan di pagi hari, baik menggunakan mentega dengan topping irisan keju, coklat meises (sprinkles), sirup ataupun selai. Menariknya, saya jadi bisa dengan mudah menemukan roti bebas gluten di kota ini, serta membeli berbagai bahan makanan seperti pasta dan tepung gluten-free di toko khusus yang menjual produk-produk tersebut. 

Rijksmuseum yang merupakan salah satu museum terbesar di kota Amsterdam

Amsterdal Centraal station, stasiun tersibuk di kota Amsterdam

Salah satu sudut pemukiman warga di kota Haarlem

Ciri khas bangunan rumah di kota Amsterdam, termasuk rumah terapung (houseboat)

Bangunan-bangunan yang didirikan di atas kanal di kawasan Damrak, layaknya bangunan di kota Venice
Weekend atau akhir pekan tentunya adalah saat yang ditunggu-tunggu untuk refreshing sambil melakukan plesiran ke kota-kota di sekitar Amsterdam. Meskipun tidak jadi mampir ke Lisse dan mengunjungi taman tulip di Keukenhof karena musim bunga yang sudah habis, alhamdulillah saya masih bisa berplesir ke beberapa kota di sekitar Amsterdam, seperti Haarlem, Volendam dan Zaandam. Kalau dihitung-hitung, Belanda sebenarnya memiliki banyak tempat wisata yang menarik. Kota Zaandam saja misalnya, memiliki sebuah desa kincir angin bernama Zaanse Schans, yang sekaligus menjadi tempat produksi coklat. Perjalanan menuju ketiga kota tersebut pun dapat ditempuh menggunakan bus atau pun kereta antar kota (intercity) dengan jarak tempuh tak kurang dari 1,5 jam. Bagi saya, mengelilingi Belanda dan berkunjung ke wilayah perdesaannya sudah sangat menyenangkan.

Kota Amsterdam sendiri sebenarnya juga menawarkan kegiatan wisata yang tak kalah menarik. Tercatat ada lebih dari 90 museum di kota Amsterdam. Beberapa di antaranya merupakan museum yang sudah mendunia, seperti museum Van Gogh, Anne Frank House, Rijks museum dan Royal Palace. Selain itu, Amsterdam memiliki kanal sepanjang lebih dari 100 km yang menjadikan kota ini dikenal dengan sebutan Venice of the North. Menyusuri kanal di Amsterdam menjadi salah satu kegiatan wisata yang wajib, lho! Untuk urusan belanja, Amsterdam juga memiliki sejumlah open market yang menjual berbagai macam barang kebutuhan, mulai dari sayur dan buah-buahan segar, boga bahari, pakaian, sepatu, barang kebutuhan rumah tangga hingga barang antik, dengan harga yang relatif terjangkau. Buah tangan atau souvenir khas Belanda juga bisa ditemukan dengan mudah. Open market ini layaknya pasar kaget di Indonesia, yang buka pada hari-hari tertentu. Pasar ini tentu bisa jadi pilihan bagi para shopaholic. 

Pemandangan kota Haarlem di sepanjang kanal

Wisata di sekitar Edam, Volendam dan Marken yang dapat dijangkau menggunakan bus dengan tiket harian

Suasana pedesaan di kota Broek in Waterland yang sangat asri dan menenangkan

Pemukiman warga di daerah pedesaan di kota Broek in Waterland

Kota nelayan yang sangat sibuk di Volendam

Suasana di kota Marken, terletak di pulau kecil yang berada di tenggara kota Volendam

Beberapa kincir angin yang terdapat di desa Zaanse Schans

***

Itu tadi sebagian cerita mengenai pengalaman saya saat berguru di negeri kincir angin, Belanda. Saya sekarang paham bahwa pengaruh kolonialisme Belanda terhadap Indonesia sungguh besar. Begitu pula sebaliknya, Indonesia juga memberikan banyak pengaruh pada sebagian budaya dan tradisi di negeri van oranje ini. Terbukti dari sejumlah makanan khas Indonesia yang telah menjadi makanan sehari-hari warga Belanda, bahkan sebagian dianggap makanan mewah karena harganya yang selangit. Namun demikian, saya akui Belanda memang negara yang nyaman untuk ditinggali. Tak heran kalau banyak sekali warga Indonesia yang menetap di sana.

Jadi, apakah kamu juga tertarik kuliah di Belanda? Ayo raih kesempatanmu untuk bisa meraih pendidikan di negeri oranye. Tak usah khawatir dengan biaya pendidikan karena kini sudah banyak beasiswa pendidikan ke Belanda yang disediakan bagi mahasiswa Indonesia, salah satunya beasiswa Stuned. Semoga cerita saya bisa menginspirasi teman-teman pembaca semua. Sampai jumpa di artikel saya berikutnya!


Sunday, December 11, 2016

QADARULLAH DAN KETIKA PINTU HIDAYAH TERBUKA



Assalamu'alaikum.

Teman-teman pernah nggak merasakan hal seperti dibukakan jalan sama Tuhan? Rasanya tuh seperti ketika kita sedang terkunci di dalam kamar mandi, lalu datang seseorang untuk menolong dan membukakan pintu hingga akhirnya kita bisa keluar? Saya yakin pernah ya.

Nah, kebetulan saya lagi nggak ada mood untuk menulis blog seputar jalan-jalan ataupun dunia perdapuran, he he he. Soalnya minggu-minggu ini saya lagi nggak boleh terlalu capek, jadi jarang bereksperimen dengan bahan makanan yang ada di dapur. Saya justru tengah asyik membaca buku berjudul Agar Doa Dikabulkan Allah yang ditulis oleh Bapak Manshur Abdul Hakim. Buku ini nggak cuma memuat tentang doa, namun juga beragam kisah orang-orang yang dikabulkan doanya oleh Allah, termasuk di dalamnya kisah para Nabi.

Jadi sudah beberapa hari ini, saya giat melanjutkan bacaan saya yang sempat terputus oleh kesibukan saya dengan deadline (ah, klise ya?). Hingga terakhir yang saya baca adalah kisah Nabi Musa as yang berdoa agar Allah memimpinnya ke jalan yang benar saat berusaha keluar dari Mesir untuk menghindari pasukan Fira'un yang berusaha untuk membunuhnya (QS. 28: 22).

Kisah ini lalu mengingatkan saya tentang satu hal, Qadarullah, atau takdir Allah. Kalau saja Nabi Musa as nggak segera meninggalkan Mesir, mungkin beliau nggak akan selamat dari kekejaman kaum zalim Fira'un. Tapi balik lagi... Qadarullah wama sya'a fa'alaAllah telah menakdirkan segala sesuatu, dan Dia berbuat menurut apa yang Dia kehendaki. Nabi Musa as pun akhirnya diselamatkan oleh Allah dan dipertemukan dengan sebuah keluarga yang kemudian menjadi keluarga barunya.
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.

Hmm, mungkin cara Allah memberikan tiap kebaikan pada hamba-Nya itu beda-beda ya. Seperti yang saya alami belum lama ini. Jadi, ceritanya alhamdulillah saya baru saja dikasih kepercayaan lagi sama Allah buat menimba ilmu di negeri Kincir Angin alias Belanda tahun 2017. Sebenarnya nggak lama, karena memang cuma short course 3 minggu tentang Sexual and Reproductive Health. Informasi mengenai short course ini juga awalnya saya dapatkan melalui keisengan saya buka-buka situs study finder tahun lalu. Berbekal informasi juga dari seorang teman, saya pun akhirnya menemukan short course mengenai kesehatan reproduksi yang diadakan oleh Royal Tropical Institute. 

Saya coba beranikan diri mendaftar dan alhamdulillah lolos. Saya pun sudah mendapatkan Conditional Letter dari pihak universitas akhir tahun 2015 lalu. Tapi sayangnya, saya nggak berhasil mendapatkan beasiswa NFP (Netherland Fellowship Program) karena nggak memenuhi salah satu persyaratan, yaitu belum diterima di universitas yang bersangkutan. "Loh, kok bisa? Kan tadi katanya sudah diterima?" Hehe, iya. Itu karena saya 'ujug-ujug' daftar NFP lebih dulu, baru kemudian daftar short course-nya. Maklum saya merasa nggak well-prepared waktu itu dan nggak memperhatikan semua persyaratannya. Alhasil, saya nggak bisa diikutkan pada program yang diadakan tahun 2016.

Saya pasrah. Kalau pun nggak jadi berangkat, ya mungkin bukan rejeki saya. Mungkin ada skenario lebih baik yang sudah Allah siapkan (misalnya saja, menikah? hihi ðŸ˜€). Tapi, ini mungkin yang namanya sudah Qadarullah ya. Akhirnya saya bisa diikutkan di program tahun berikutnya. "Yeah, alhamdulillah! Wah.. tapi masih tahun 2017. Masih lama.", pikir saya. Mau daftar NFP di tahun ini, belum juga kunjung ada pembukaannya. Pendaftaran NFP sendiri baru dibuka sekitar bulan Oktober/November. Entahlah, saya nggak tahu harus cari beasiswa apa lagi. Yang saya tahu hanya beasiwa NFP yang bisa membiayai pendidikan singkat seperti short course di Belanda. 


Namun kemudian di sinilah saya merasa pertolongan dan hidayah Allah itu sangat dekat. Tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan, tanggal 31 Agustus lalu saya di-email oleh salah seorang tim course administrator dari Royal Tropical Institute. Terus terang saya kaget saat menerima email tersebut dan melihat subject atau judul email-nya: URGENT REMINDER! Aduh.. Tapi setelah saya baca, saya baru ngeh dia sebenarnya mengingatkan saya untuk apply  beasiswa StuNed (Studeren in Nederland).😀 Ternyata beasiswa StuNed juga menerima aplikasi untuk short course, dan nggak hanya untuk pendidikan Master atau PhD. Astaga, kemana saja sih saya? Seorang teman padahal sudah sempat men-tagging saya di Facebook perihal informasi beasiswa StuNed ini, tapi saya nggak hiraukan sama sekali.

Lalu saya pun panik karena deadline-nya satu hari setelah email tadi itu masuk di inbox saya alias besok harinya. Si pengirim email bahkan mengingatkan saya untuk segera memasukkan berkasnya saat itu juga, dan meminta saya untuk mencoba menghubungi pihak penyelenggara agar membolehkan saya menyusulkan berkas jika nggak selesai menyiapkan. Ya Allah, kumaha ieu? Saya 'kan nggak cuma isi formulir terus kirim, tapi saya juga harus melampirkan berkas yang lain, seperti fotokopi ijazah, transkrip, essay sampai surat persetujuan dari atasan. Aduh, ini yang sulit. Kalau bos saya lagi nggak ada di tempat, bagaimana? Belum lagi saya harus basa-basi dan menjelaskan tentang niat saya mengikuti kursus di Belanda. Nah, di sinilah lagi-lagi pertolongan dan hidayah Allah itu sangat dekat.
Believe you can, and you're half way there! - Theodore Roosevelt
Sore itu juga saya mencoba menghubungi pihak Nuffic Neso untuk menanyakan perihal deadline pengiriman berkas lamaran. Alhamdulillah, berkas lamaran bisa dikirim via pos dan masih bisa masuk hingga tanggal 1 September 2016 cap pos. Alhamdulillah, berarti masih ada waktu untuk mempersiapkan. Berbekal waktu cuma 2 jam setelah telepon saya tadi, saya memastikan draft surat persetujuan sudah saya buat dan formulir sudah saya isi, jadi esok harinya saya tinggal membuat essay dan menyiapkan kelengkapan yang lain. Dukungan dari beberapa teman di kantor turut menyertai saya dua hari itu. Alhamdulillah, seluruh berkas lamaran bisa terkirim dan beberapa minggu berikutnya saya mendapat informasi kalau berkas saya sudah diterima.


Setelah 2 bulan, masa penantian saya pun akhirnya berakhir. Skenario-Nya memang selalu tepat dan nggak disangka-sangka. Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa StuNed tersebut dan saya bersyukur masih diberikan kesempatan sama Tuhan. Tadinya, sempat terlintas dalam pikiran saya tentang bagaimana dengan rencana saya yang ini dan yang itu. Bagaimana kalau tahun depan saya menikah lalu hamil terus nggak jadi berangkat...? He he... ada saja pikiran-pikiran aneh yang lewat. Tapi lalu saya sadar, buat apa yang begitu dipikirin? Yeah, I mean we don't know what gonna be happened in the future. Just face it and do our best! Kalau memang Allah sudah menakdirkan begitu, ya jalani saja. Itu pun saya dapat sudah dengan usaha, kerja keras, doa and the power of kepepet. Perkara ada skenario-Nya yang lain nyelip di situ, ya itu cerita berbeda. Berdoa saja agar diberikan skenario yang terbaik. Well, kapan lagi saya bisa merasakan waktu puasa yang panjang di Belanda kan? (insyaa Allah) he he he. ðŸ˜€

Jadi, kembali ke konsep Qadarullah tadi, janganlah kita berhenti berdoa dan meminta diberikan kebaikan dari-Nya. Bersemangatlah meraih keinginan dan cita-cita, lalu minta tolong kepada-Nya untuk memudahkan jalan kita mendapatkannya. Jangan katakan 'andaikan aku mengerjakan ini, niscaya aku akan begini dan begitu', ya seperti saya tadi. Tiba-tiba, pas sudah lolos, semangat justru jadi mendadak kendor terus loyo, he he he. Tapi katakan, 'Qadarullah wama sya'a fa'ala'Allah telah menakdirkan segala sesuatu, dan Dia berbuat menurut apa yang Dia kehendaki. Mudah-mudahan ada salah satu pintu hidayah yang kemudian terbuka dan mengijinkan kita untuk masuk ke dalamnya, aamiin. 


Semoga pengalaman saya ini bisa memberikan semangat untuk teman-teman juga ya. ðŸ˜€
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan dan diberikan-Nya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. - (QS. At-Talaq (65): 2-3)

Sunday, September 25, 2016

TIPS MOVE ON SAAT GAGAL DALAM SELEKSI BEASISWA





Assalamu'alaikum.

Apakah kamu baru saja gagal dalam sebuah seleksi beasiswa studi luar negeri? Apakah seketika kamu merasa dirimu adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia?

Saya yakin semua orang terlahir untuk merasakan yang namanya kegagalan, penolakan bahkan ketertinggalan dalam hidupnya. Sedih, kecewa? Wajar saja. Itu manusiawi kok. Nggak ada keberhasilan di dunia ini yang diraih dengan mulus, semulus rel kereta api. Pengusaha sekelas Steve Jobs saja pasti sering mengalami kegagalan dan harus melewati jalan berliku sebelum akhirnya berhasil. 

Banyak yang menyebutkan bahwa gagal atau fail (kosakatanya dalam bahasa Inggris) berarti First Attempt in Learning. Artinya, kegagalan hanyalah awal mula usaha kita dalam belajar. Jadi kegagalan adalah sebuah pembelajaran yang pastinya kita harapkan tidak akan terulang lagi berikutnya. 

Nah, sekarang konteksnya kamu sudah gagal dalam meraih beasiswa studi yang sudah sekian lama kamu impikan. Lalu, bagaimana kamu harus menghadapinya? Hey, move on! Kamu nggak sendiri untuk menjadi yang gagal, dan (remember this!) kamu nggak sendiri untuk menjadi yang mampu bangkit. Berikut tips dari saya supaya kamu bisa move on saat gagal seleksi beasiswa. :)


BERSEDIHLAH, LALU BERDAMAI DENGAN HATI

Seperti yang saya bilang sebelumnya, sedih setelah gagal itu wajar banget kok. Sedih itu kan juga bagian dari emosi manusia. Nah, setiap emosi ya bagusnya dikeluarkan, jangan justru dipendam. Saat kamu sedih dan seketika meneteskan air mata, kamu otomatis mengeluarkan hormon stres dari tubuhmu dan tentunya kamu akan merasa lebih baik dan lebih rileks. Kesedihan terkadang kamu butuhkan untuk bangkit lagi. Tapi, jangan lama-lama juga nangis dan galaunya ya. Kan nggak asyik juga kalau sampai matamu terus-terusan sembap. :) Jika emosimu sudah kamu keluarkan, maka kamu perlu mencoba berdamai dengan hatimu. Sematkan dalam pikiranmu bahwa kegagalan ini hanyalah permulaan. Gagal bukan berarti kamu bodoh or dumb. No, not at all. Banyak orang tua berpesan "Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda". Yes, itu cuma perkara belum waktunya saja. Jadi, berdamailah dengan hati, jangan pernah menyalahkan diri karena kamu menjadi orang yang paling tidak beruntung di dunia. Please, don't! Yakinkan saja diri kamu bahwa mungkin Tuhan belum meridhoi saat ini tapi berikutnya pada saat yang tepat, kamu insyaa Allah pasti akan dapat!



BERHENTI MEMBANDINGKAN DIRIMU DENGAN ORANG LAIN

Kamu mungkin bukanlah yang sendiri menjadi pejuang. Bisa jadi ada beribu pelamar beasiswa lain yang berkompetisi seperti dirimu. Mungkin banyak juga teman-temanmu yang ikut mencoba, namun mereka justru lebih beruntung dibandingkan dirimu. Eits, jangan pernah membandingkan hasil yang mereka dan kamu peroleh ya. Kamu nggak pernah tahu kan apa yang telah mereka lewati untuk meraih kesuksesan tersebut? Bandingkan seberapa besar kerja keras kamu dengan mereka, apakah kamu juga sudah berusaha sekeras mereka? Anggap saja itu adalah rejeki mereka yang mungkin juga sempat tertunda, yang akhirnya tiba pada waktunya. Cobalah untuk bahagia bersama mereka dan ucapkan kata-kata selamat karena mereka sudah berhasil melalui perjuangan. Dengan begitu, kamu akan lebih bisa ikhlas dan siap untuk bangkit. 

Photo credit: http://techttalks.com/

MULAI INTROSPEKSI DIRI DAN KENALI POTENSI

Setelah hatimu sudah siap untuk bangkit, mulailah untuk introspeksi diri dan mengenali potensi yang membuatmu gagal. Coba tanyakan ke dalam dirimu "Kalau mereka bisa, kenapa saya nggak ya? Kenapa ya?". Saya yakin kamu pasti akan bertanya-tanya seraya bingung sendiri: saat seleksi berkas, kamu masukkan seluruh dokumen yang diperlukan, sampai-sampai kamu sertakan pula piagam kejuaran olahraga yang kamu peroleh saat masih di bangku SMA; saat wawancara pun, kamu sudah menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan oleh para pewawancara tanpa terbata-bata, sampai-sampai kamu ikutan asyik mengobrol dengan mereka. Lantas, kenapa saya bisa nggak lolos? 

Proses seleksi beasiswa itu memang hampir mirip dengan proses lamaran kerja, unpredictable :) Yang awalnya kamu yakin banget saat menjalani prosesnya, eh ternyata justru kamu yang malah gagal. Coba tengok lagi, kamu sudah kenal potensimu dengan baik atau belum? Apakah potensimu itu yang memang mereka cari? Pihak donor tentunya punya kriteria khusus bagi tiap kandidat penerima beasiswa. Mungkin saja mereka melihat dari kesiapan kamu untuk melanjutkan kuliah di negara mereka. Apakah kamu sudah yakin kamu sudah cukup menjelaskan kepada mereka kalau kamu sudah siap? Bagaimana dengan bahasa? Nilai TOEFL/IELTS-mu boleh jadi tinggi, tapi saat wawancara, tiba-tiba mulutmu seperti terkunci. Jadi, mungkin saja mereka juga melihat hal lain yang lebih mendetail, misalnya saja kemampuan interpersonal.

(Baca juga How to Win ADS/AAS Scholarship)

Kemampuan interpersonal kamu juga harus unggul, dimana contohnya kamu bisa menyampaikan goals kamu tanpa terkesan ke-PD-an atau kamu bisa berinteraksi dengan pewawancara menggunakan bahasa Inggris yang lebih mumpuni. Nah, kalau sudah mengenali potensimu tadi, saya yakin kamu langsung mulai belajar memperbaiki kekurangan-kekurangan yang mungkin ada. Entah itu di masalah bahasa atau interpersonalmu sekalipun. Ayo ayo ambil cermin, he he :)




BANGKIT DAN COBA KEMBALI!

Saya kenal beberapa teman yang sudah sampai pada titik ini, dan percaya atau nggak, mereka tetap gagal. Well, kamu memang nggak akan pernah tahu usaha yang keberapa yang akan berhasil, tapi setidaknya kamu patut berbangga atas semua usahamu itu. Saya ingin sedikit menyelipkan cerita keberhasilan teman saya yang pada akhirnya berhasil menggapai mimpinya kuliah di Australia tahun lalu setelah dua kali gagal mencoba. Kak Mawar, panggil saja demikian, sudah tiga tahun ini berjibaku dengan buku-buku IELTS. Dia bahkan saya dengar sering meluangkan waktu membaca buku-buku fiksi dan non-fiksi berbahasa Inggris di sela-sela waktu sibuknya. Tekadnya cuma satu, lolos beasiswa Australia Awards Scholarship untuk yang ketiga kalinya mencoba. Usaha pertamanya dia lakukan saat belum berada satu gedung kantor yang sama dengan saya. Gagal, lantas dia pun mencoba di tahun berikutnya, namun kemudian kembali gagal. Hingga akhirnya kesuksesan saya meraih beasiswa serupa pada tahun 2013 lalu yang mengembalikan semangat Kak Mawar untuk mencoba yang ketiga kalinya. Alhamdulillah, pada tahun 2014 dia pun dinyatakan lolos dan sejak 2015 sudah berada di Australia untuk melanjutkan studi Master of Public Health selama, insyaa Allah, dua tahun.

Pasti bahagia banget ya jika apa yang sudah kita usahakan sekian lama, pada akhirnya membuahkan hasil. Saya yakin kamu juga termasuk pribadi yang sama seperti tokoh yang baru saya ceritakan tadi - tidak menyerah begitu saja pada kegagalan. Dan saya yakin nggak akan pernah ada kesia-siaan buat siapa pun yang mau berusaha mewujudkan mimpi dan keinginan. Toh, akhirnya teman saya lolos juga kan?! Jadi, jika kamu sekarang gagal, don't worry be happy. Cobalah untuk melihat peluang! Kesempatan yang sama kadang nggak datang dua kali, tapi apa salahnya mencoba peluang dari kesempatan yang lain. Jika kamu merasa tidak ada masalah untuk mengubah lokasi tujuan studimu, kamu bisa mencoba beasiswa dari universitas atau negara yang berbeda. Mungkin saja, ada rejekimu terselip di situ. Kalau nggak dicoba, mana kita tahu? Selagi masih ada peluang dan kamu yakin potensimu bisa mengantarmu meraihnya, kenapa nggak dicoba? Jadi, tetap semangat ya! :)

Photo credit: http://blog.movingworlds.org/

Sunday, December 15, 2013

THE BIGGEST SURPRISE


Tahun 2013... Tahun yang mendatangkan berbagai kejutan dalam hidup saya. Kejutan yang jika saya ingat kembali, saya akan sangat bersyukur kepada Tuhan. Di awal tahun 2013, tepatnya bulan Februari lalu, saya officially terpilih sebagai penerima beasiswa Australia Awards Scholarship. Ceritanya pun pernah saya share di sini. Dan pada bulan November kemarin, saya resmi menerima kontrak dari Pemerintah Australia untuk melanjutkan pendidikan di University of Sydney.

Setelah kurang lebih 1 tahun menghadapi proses seleksi yang cukup ketat di tahun 2012, mulai dari seleksi berkas administrasi, tes IELTS hingga wawancara, saya akhirnya memperoleh jawaban dari penantian panjang itu. Semua proses tersebut tentu saja meninggalkan kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan. Keberhasilan yang saya raih itu semacam kesempatan dan kepercayaan yang Tuhan kasih ke saya, termasuk pelipur duka saya karena gagal meraih impian untuk sekolah di Jepang. 

Setelah dinyatakan menjadi penerima beasiswa atau awardee, saya kemudian harus mengikuti kegiatan pelatihan bahasa dan persiapan akademik atau yang disebut Pre-departure Training Program (PDT) di IALF Jakarta, selama 3 bulan sejak Juli hingga Oktober. Program ini dikhususkan bagi setiap awardee sebelum diberangkatkan ke Australia. Lama programnya pun bervariasi, tergantung dari hasil tes IELTS yang diadakan pada proses seleksi, dimulai dari 6 minggu (6 weeks), 8 minggu (8 weeks), 3 bulan (3 months), 6 bulan (6 months) hingga yang terakhir 9 bulan (9 months), yang merupakan program dengan jangka waktu paling lama. Biasanya awardee yang mendapat nilai IELTS 5.0 akan ditempatkan pada program 9 bulan ini. Semakin bagus nilai IELTS yang diperoleh, maka semakin singkat program pelatihan yang diikuti dan semakin cepat pula akan diberangkatkan ke Australia. Keberangkatannya pun terbagi dalam 2 gelombang, yakni sekitar bulan Juni (winter intake), dan bulan Januari tahun berikutnya (summer intake). Saya sendiri akan berangkat bulan Januari 2014. Jadi tinggal 1 bulan saja.. :)

Foto bersama guru dan teman-teman sekelas, teman seperjuangan..
Banyak kenangan saya dapatkan selama mengikuti program PDT, program yang menurut saya bukan hanya sekedar tempat untuk mempersiapkan tes IELTS selanjutnya yang harus saya hadapi kembali sebelum berangkat, sebagai persyaratan masuk universitas, tetapi juga ajang untuk meningkatkan kemampuan akademik saya, khususnya dalam Bahasa Inggris. Bagi karir saya sebagai seorang calon peneliti dan akan sekolah di luar negeri, tentu saja itu penting.

Selama PDT, saya mendapatkan banyak ilmu dan informasi, mulai dari informasi tentang perkuliahan dan kehidupan di Australia hingga hal-hal apa saja yang jadi kebiasaan di sana. Semuanya dipelajari. Baru kali ini saya dituntut sangat aktif di kelas, berbeda dengan kursus-kursus Bahasa Inggris yang pernah saya ikuti semasa duduk di bangku sekolah. Dari senin sampai jumat, saya dilatih bagaimana menulis essay dalam Bahasa Inggris, bagaimana mengekspresikan pendapat dan berpikir kritis, bagaimana menyajikan presentasi, hingga ilmu dan informasi pendukung lainnya mulai dari komputer hingga cross-culture. Dan yang lebih menyenangkan lagi, saya bisa menikmati fasilitas perpustakaan yang sangat oke punya, tidak hanya buku dan materi yang lengkap tapi juga tersedia sarana audio-video lengkap, yah.. pas banget untuk latihan listening.

Perpustakaan IALF yang cozy banget..

Koridor audio-video. Paling asyik buat nonton dan latihan listening tapi selalu jadi rebutan ^^

Ruangan kelas yang akan selalu saya rindukan... :)

Ruang lab komputer. Where the magic of technology comes out!

So... sekarang saya sedang benar-benar mempersiapkan diri karena 1 bulan itu bukan waktu yang lama. Yang terpenting adalah persiapan mental harus meninggalkan orang tua, keluarga dan sahabat selama 1 tahun untuk menempuh pendidikan S2. Saya insha Allah mantap akan melanjutkan studi program Master of International Public Health di University of Sydney. Pas melamar dulu, entah mengapa saya sangat tertarik dengan program yang ditawarkan oleh uni tersebut. Ya.. mudah-mudahan kesempatan saya ini bisa menghantarkan saya menjadi seorang peneliti kesehatan sejati, khususnya di bidang kesehatan ibu dan anak, yang sudah saya geluti selama 2 tahun terakhir ini. Aamiin.. Doakan saya ya...! :))

Pengalaman di atas didedikasikan khusus untuk mengenang Moments to Remember #MTR2013 part 4 'Career'.

Monday, June 17, 2013

HOW TO WIN ADS/AAS SCHOLARSHIP

Dear all. Dua hari yang lalu saya merasa lega karena pada akhirnya saya bisa mencurahkan pengalaman dan inspirasi kepada sejumlah alumni dan adik-adik mahasiswa FKM UI di acara Sharing Beasiswa ADS/AAS. Sungguh perasaan yang bahagia bisa menyalurkan semangat yang pernah saya rasakan setahun yang lalu, tepat ketika saya mempersiapkan segala sesuatu dalam perjuangan saya meraih beasiswa ADS/AAS. 

Di acara berdurasi sekitar 2 jam itu, saya dan rekan saya, bang Jerico F. Pardosi telah memberikan berbagai informasi yang tentunya bermanfaat seputar beasiswa ADS/AAS serta tips bagaimana 'memenangkan' beasiswa tersebut. Sesi pertama tentu saja diisi oleh bang Jeri. Sebagai senior dan pendahulu saya sesama penerima beasiswa ADS/AAS, beliau sangat pantas menjelaskan hal-hal mengenai gambaran beasiswa ADS/AAS dan perkuliahan di Australia. Sedangkan saya ambil posisi sebagai pemberi tips dalam meraih beasiswa tersebut (slidenya bisa dilihat di sini). Tapi kembali lagi bahwa usaha yang pernah saya lakukan tentu bisa berbeda dari usaha teman-teman pejuang yang lain. Saya pun yakin ada berbagai tips di luar sana yang mungkin sekali tidak sama dengan yang saya jelaskan waktu itu, tapi pada dasarnya itu semua merupakan bagian dari pengalaman saya, dan ketika saya dinyatakan berhasil, tak ada salahnya untuk berbagi.



Tentu peserta acara yang hadir lebih dari cukup dari apa yang sebelumnya saya bayangkan. Saya melihat antusiasme dan rasa keingintahuan mereka terhadap beasiswa ADS/AAS. Hampir sebagian besar memang masih menjabat sebagai mahasiswa, ada juga yang alumni, tapi saya yakin info seperti ini bisa kapan pun kita bagikan tak memandang apakah mereka yang akan menerima masih duduk di bangku kuliah atau sudah lulus. Intinya adalah persiapan dan acara ini merupakan bagian dari persiapan mereka. Semoga ya.. hehe.

Nah, kurang rasanya kalau saya tidak membagikan hal-hal yang sudah saya sampaikan tersebut di blog ini. Berikut adalah tips saya tentang bagaimana cara memenangkan beasiswa ADS/AAS. Tips ini tidak hanya merupakan hasil dari pengalaman saya tahun lalu, tapi juga hasil penelusuran saya terhadap kesuksesan dan keberhasilan orang lain. Silahkan disimak ya. :)

  1. Bagaimana pun juga meraih suatu beasiswa itu seperti suatu perjuangan di medan perang. Setiap akan maju berperang, tentu saja kita butuh amunisi yang cukup serta strategi dan taktik yang baik. Oleh karena itu, satu hal yang pertama kali akan kita lakukan tentu saja kenali beasiswanya. Teman-teman yang memang berniat melanjutkan studi di Australia dan melamar beasiswa ADS/AAS tentu harus tahu dengan pasti beasiswa tersebut, kan? Kenali mulai dari persyaratannya (eligible requirement), jenis beasiswa seperti apa yang akan diberikan nantinya, waktu seleksi hingga deadline. Semua ini harus teman-teman ketahui dengan seksama, agar bisa dipersiapkan secara matang. Saya yakin teman-teman sudah sering mendengar tentang beasiswa ADS/AAS? Jika tidak, teman-teman bisa buka website-nya. Sekarang tidak terlalu sulit menurut saya untuk mencari informasi, hanya berbekal sambungan internet, teman-teman sudah bisa menemukan harta karun berharga yang teman-teman cari. Intinya, jangan malu bertanya! Dan juga jangan segan mencari tahu! :) 
  2. Setelah kita sudah cukup tahu tentang beasiswa tersebut, lantas selanjutnya adalah tahap persiapan. Persiapan ini maksudnya mempersiapkan berkas-berkas dan persyaratan yang dibutuhkan dalam melamar. Oh ya, saya lupa. Satu hal yang penting adalah kemampuan bahasa. Saya yakin teman-teman sudah tidak awam lagi kalau kemampuan Bahasa Inggris menjadi penting ketika kita berencana sekolah ke luar negeri. Nah, kalau teman-teman merasa demikian, selayaknya teman-teman bisa mempersiapkan yang satu ini jauh sebelum pengumuman beasiswa ini dibuka. Kenali kemampuan kita! Ketika kita berniat melanjutkan studi ke LN tapi kita tahu kemampuan Bahasa Inggris kita masih kurang, nah di sinilah kita harus mulai meningkatkan kemampuan kita. Caranya? Tentu saja dengan belajar dan berlatih. Hal ini bisa kita lakukan dengan berlatih sendiri atau mengikuti kursus. Zaman yang modern ini memberi kita banyak kesempatan untuk dengan mudah belajar. Buku-buku persiapan TOEFL/IELTS atau online course bisa jadi alternatif sumber. Bisa juga dengan latihan membaca buku-buku atau jurnal berbahasa Inggris, menonton film/acara berita berbahasa Inggris tanpa membaca subtitlenya, dsb. Jadi bayangkan jika ketika teman-teman tahu bulan Maret-Agustus pembukaan seleksi beasiswa namun teman-teman belum punya nilai TOEFL/IELTS yang memadai dan belum sempat berlatih, tentu akan menjadi sulit bagi teman-teman, kan? Jadi, persiapkan secara matang! 
  3. Hal yang tak kalah penting adalah menetapkan jurusan dan peminatan yang dituju. Ini menjadi sangat penting karena jangan sampai ya kita pengen banget kuliah di Australia tapi bingung mau kuliah apa. :) Menurut saya, dalam proses seleksi, rencana kuliah termasuk jurusan/peminatan yang akan diambil tentunya menjadi salah satu poin penting dalam penilaian. Oleh karena itu, tentukan dari jauh-jauh hari jurusan apa yang akan kita tuju, termasuk universitasnya ya. Sering-seringlah mampir ke website universitas-universitas di Australia. Kenali jurusan-jurusan yang ditawarkan, mata kuliahnya, hingga bidang penelitian yang menjadi concern universitas tersebut. Pemilihan ini bisa bersandar dari minat kita, kelanjutan dari latar belakang pendidikan kita terdahulu, jurusan yang dibutuhkan di tempat kerja, dsb. Pasti banyak alasan teman-teman soal pemilihan ini. Yang pasti teman-teman harus tahu betul mengapa mengambil jurusan tersebut, dan mengapa harus di Australia. Nah, pertanyaan ini masuk di form aplikasi lho! ;)
  4. Jika teman-teman adalah calon pelamar S2 research atau S3, maka pencarian supervisor menjadi hal utama yang dipersiapkan. Pasalnya, ketika di perkuliahan nanti, kita akan lebih banyak berkecimpung dalam penelitian dan teman-teman akan membutuhkan seorang pembimbing/supervisor dalam hal ini. Pada dasarnya, mencari supervisor itu gampang-gampang susah, dibutuhkan kesabaran pada level skala tinggi. Teman-teman bisa mencari calon supervisor dengan sering-sering mengunjungi bagian research di website universitas yang akan teman-teman tuju. Kenali mereka dengan melihat profil singkat yang ada di website tersebut serta daftar publikasi ilmiah yang telah mereka hasilkan. Setelah itu tentu saja, menjalin komunikasi dengan mereka. Jika saat pertama mencoba, email teman-teman belum dibalas, jangan berkecil hati. Kemungkinan besar mereka sedang sibuk dan tak sempat membaca email kalian, atau mungkin judul email yang kurang eye-catching sehingga mereka enggan membacanya. Teruslah mencoba, gunakanlah bahasa yang sopan dan tidak 'menembak' mereka langsung dengan meminta untuk menjadi supervisor. Jika sudah berhasil, tidak ada salahnya melampirkan bukti komunikasi teman-teman dengan sang calon supervisor pada berkas form aplikasi. Menurut saya, ini akan menjadi nilai lebih karena menunjukkan bentuk keseriusan teman-teman.
  5. Selain mencari supervisor, hal lain yang tak kalah penting bagi teman-teman yang akan melamar S2 master by research atau S3 adalah proposal riset. Proposal riset menjadi sebuah keharusan untuk diisi pada form aplikasi dan merupakan salah satu indikator penilaian. Persiapkan secara matang. Oya, untuk teman-teman yang mengambil S2 master combination (coursework+research) seperti saya tentu juga harus mempersiapkan proposal riset. Menurut saya, menyiapkan proposal riset ini bukan perkara mudah. Dulu saya harus mengatur kalimat demi kalimat yang akan saya sampaikan dalam proposal riset agar menjadi rangkaian yang padat namun jelas. Bukan tanpa sebab, jumlah kata untuk setiap bagian proposal dibatasi. Misal latar belakang (background) dibatasi hanya 150 kata. Oleh karena itu, kita perlu menyiapkan ini dengan seksama. Jangan sampai karena dibatasi pun, penjelasan-penjelasan yang penting justru malah terlewati. Misal justifikasi masalah atau latar belakang yang tidak to the point. 
  6. Nah, jadi ketika mengisi form aplikasi, berhati-hati ya! Pertimbangkan bagaimana grammar-nya dan tentu saja ketepatan kosa kata yang digunakan. Kalau teman-teman merasa tidak yakin dengan apa yang sudah diisi, bisa minta cek oleh orang lain (tapi jangan malah minta dibuatkan ya, hehe). Mintakan mereka untuk melihat kembali form aplikasi yang telah teman-teman isi. Tentu saja, bisa siapa saja. Saudara, teman, sahabat, guru, atasan, atau siapa pun yang dirasakan memiliki kemampuan bahasa Inggris lebih baik. Saya juga dulu pernah melakukan hal yang sama, dan alhamdulillah cara ini berguna sekali. Selain itu, fill with your heart ya! Maksudnya jangan berlebih-lebihan. Utarakan maksud secara tulus tanpa menggambarkan keterpaksaan. Be humble and honest! :)
  7. Tips no. 1-6 itu adalah ketika teman-teman menghadapi proses seleksi awal. Nah ketika sudah  berhasil terpilih menjadi salah satu daftar pendek (shortlisted), maka teman-teman akan menghadapi tes IELTS dan wawancara JST (Joint Selection Team). So, you should be familiar with IELTS. Khususnya teman-teman yang waktu melamar menggunakan nilai TOEFL ITP. Kenali sebisa mungkin jenis pertanyaannya. Persiapkan dan berlatihlah selalu karena sebenarnya untuk bisa menempuh suatu ujian kuncinya hanya dengan sering latihan. Saya dulu hanya berbekal sebuah buku pelajaran IELTS yang lumayan tebal lengkap dengan beberapa contoh tes serta beberapa materi dan video tentang tips writing dan speaking IELTS yang saya peroleh dari internet. Saya pelajari itu semua dalam waktu kurang dari 3 bulan, pas setelah saya dinyatakan sebagai salah satu shorlisted candidate pada bulan November 2012 hingga waktu tes IELTS yang jatuh bulan Januari 2013. Minim? Tentu saja. Saya yakin jika saya berlatih lebih awal lagi, tentu skor yang saya peroleh akan lebih baik dari yang sekarang. Akan tetapi, kalau teman-teman masih sempat ikut kursus pun tidak ada salahnya. Sebelumnya saya bahkan sempat sengaja mengambil kursus conversation untuk melatih kemampuan bicara saya sekaligus meningkatkan rasa percaya diri saya. Jadi kembali lagi ke awal, prepare, prepare, and prepare. :)
  8. Lantas, bagaimana dengan tes wawancara? Tips saya, pelajari kembali form aplikasi yang teman-teman isi dan buatlah beberapa prediksi pertanyaan yang kemungkinan akan diajukan pewawancara. Seringkali, pertanyaan yang ditanyakan adalah semua hal yang teman-teman tulis di form aplikasi. Saat wawancara bulan Januari lalu, saya pertama kali langsung ditanyakan soal rencana studi saya. Tanpa basa basi salah satu pewawancara yang berasal dari universitas di Australia alias native saat itu menanyakan kepada saya tentang apa pekerjaan saya sekarang, jurusan S1 apa yang dulu saya ambil dan rencana jurusan yang kini akan saya tempuh, alasan apa memilih jurusan tersebut, lalu bagaimana jurusan tersebut bisa membantu Indonesia, bla bla bla.. Jadi kita diminta menjelaskan bukan malah menjawab pertanyaan. Saat itu saya sebisa mungkin seperti bercerita dan membuat alur, sehingga percakapannya tidak terdengar monoton dan terbentuk suasana yang tidak menegangkan. Selain itu, saya juga ditanyakan seputar proposal riset, mulai dari tujuan penelitian, mengapa memilih bidang itu, adakah penelitian yang sama sebelumnya, bla bla bla... Bahkan yang buat saya kaget, saya juga ditanyakan soal rencana S3 saya, kira-kira apa yang ingin saya teliti nantinya. Huaa... sungguh kalau yang ini di luar bayangan saya. Jadi teman-teman upayakan membuat daftar pertanyaan yang kira-kira bakal ditanyakan. Syukur-syukur dihafal ya isian form aplikasinya, hehe. Tapi jangan sampai apa yang kita sampaikan berbeda dengan apa yang pernah kita tulis. :p
  9. Terakhir, be optimist dan don't give up! Jika kamu salah satu dari sekian ratus orang yang gagal pada saat melamar pertama kali, tetaplah mencoba dan jangan menyerah. Karena kita tidak tahu kapan keberuntungan dan rejeki itu akan datang. Be confident tapi juga jangan over confident. Tetap apa adanya. Oh ya, sama satu lagi. Jangan lupa untuk terus berdo'a. Yakinlah bahwa Tuhan selalu ada untuk menyertai usaha-usaha kita, maka dekatkanlah terus diri kita padaNya. Pasrah tetapi juga tetap ikhtiar. Mintakan juga do'a orang-orang terdekat, terutama orang tua. Ada yang mengatakan bahwa do'a orang tua dapat membuka pintu rejeki seseorang. Tak lupa, do'akan juga teman-teman kita yang sedang berjuang sama seperti kita. Jika teman-teman tulus, insya Allah ada malaikat yang akan mendengarnya dan mendo'akan hal yang sama untuk teman-teman (baca dari hadist). :)
Bagaimana tipsnya? Mudah-mudahan bisa membantu ya. Kembali lagi bahwa yang apa saya sampaikan di sini adalah sebagian besar hasil pengalaman saya dan orang lain, bukan juga 100% yang saya lakukan. Karena tidak 100% makanya saya berikan tips ini biar hasil yang teman-teman dapat lebih baik dari saya. Aamiin. Oh ya, tips ini juga bisa teman-teman dapatkan dengan lebih jelas di beberapa website beasiswa, seperti miliknya Pak Made Andi, madeandi.com. Kenal kan siapa dia? Kalau tidak kenal, bisa kenalan sekilas di sini. Atau teman-teman bisa juga baca bukunya yang baru terbit berjudul "Berguru ke Negeri Kangguru". Saya juga masukkan ulasannya sedikit di sini. Ini bukan dalam rangka promosi, tapi beliau adalah salah satu guru saya, yang tentunya telah memberikan info tentang beasiswa ADS/AAS lebih banyak dari ini.
    So, selamat berjuang ya!!! Semoga bisa menginspirasi. :)

    Tips Untuk Membuat Tamu Rumah Liburan Merasa Senang Di Rumah Anda

    Pernahkah Anda memiliki perasaan tidak pasti bepergian ke suatu tempat untuk tinggal bersama keluarga yang tidak Anda kenal dengan baik? ...