Showing posts with label #ihbchallenge. Show all posts
Showing posts with label #ihbchallenge. Show all posts

Saturday, May 23, 2015

CERITA DI BALIK SETIAP CERITA

Assalamu'alaikum.

Setelah sempat nggak ikutan IHB April Blog Post Challenge karena dihimpit kesibukan, maka kali ini saya putuskan untuk ikut meramaikan challenge selanjutnya. Kebetulan tema kali ini adalah "Behind the Scene of Your Blog Post". Wah menarik!

Sebenarnya saya belum terbilang blogger yang sukses, lho. Sering kali saya kena penyakit writer's block. You know what it is, kan? Kalau hari kerja, biasanya saya paling sulit menulis. Setiap malam sehabis pulang bekerja, saya sudah tidak punya gairah menulis lagi. Alih-alih capek, membuka laptop pun rasanya sudah malas bukan main. 

Memang tidak mudah untuk menjadi seorang blogger. Tapi, saya yakin banyak blogger di luar sana yang sukses menulis setiap saat tanpa mengalami penyakit seperti yang saya alami. Salah satunya adalah sahabat dunia maya saya, dek Primadita Rahma. Blognya bisa dilihat sini (Eh, saya nggak sedang promosi lho!). Menurut saya, dia itu patut dijadikan salah satu contoh blogger sejati karena dia mampu membagi waktunya untuk blogging di samping menyelesaikan kuliahnya. Pasti dia punya resep tersendiri hingga bisa rajin menulis di blog dan bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Lantas, bagaimana dengan saya? 

Ada cerita apa di balik setiap cerita di blog saya?

Getting my inspiration
Kata orang, mencari ide atau inspirasi itu gampang-gampang sulit. Kalau udah mentok, rasanya susah banget mau mengeluarkan ide dari kepala. Tapi bagi sebagian orang, memunculkan ide itu semudah membalikkan telapak tangan. Buat saya, hal itu bisa berlaku keduanya. Kadangkala, rasanya mudah sekali memunculkan inspirasi menulis, mulai dari hanya dengan mendengarkan lagu, menonton televisi, bahkan dari apa yang dialami sehari-hari. 

Ide tulisan dalam blog saya biasanya muncul dari pengalaman pribadi, misalnya dari perjalanan atau travelling saat liburan hingga kegiatan memasak resep-resep menarik yang saya peroleh dari internet atau tayangan di televisi. Selain pengalaman pribadi, saya juga sering memperoleh ide tulisan dari pengalaman orang lain. Ini biasanya saya tuangkan pada cerita-cerita flashfiction yang saya buat untuk kompetisi menulis cerita di blog. Sudah beberapa kali saya menggunakan karakter dari pengalaman pribadi orang lain, termasuk keluarga atau teman. Tapi, identitas mereka tentu saja tidak saya munculkan di dalam cerita. 

Tuliskan!
Setelah mendapat ide, maka selanjutnya yang saya lakukan adalah langsung menuliskannya di dalam blog. Meskipun saya sering kewalahan dalam hal membagi waktu untuk menulis, tapi saya lebih senang langsung menuliskan ide-ide tadi ke dalam blog saat itu juga. Hal ini juga berlaku untuk tulisan saya berupa cerita flashfiction. Untuk jenis tulisan ini, saya bahkan bisa menghabiskan waktu hingga 2 jam, he he he. Saya harus terus berada di depan komputer dan menjaga agar aliran ide cerita yang sudah membumbung di kepala tidak menguap begitu saja. Oleh karena itu, waktu yang tepat untuk menulis bagi saya adalah malam hari. Selain lebih tenang, saat malam hari paling tidak saya sudah menyelesaikan rutinitas saya, termasuk sholat lima waktu yang tidak boleh begitu saja ditinggalkan.

"Cek dan Ricek"
Istilah ini mungkin sering kalian dengar di televisi. Ya, re-checking menjadi sebuah keharusan saat menulis blog (meski saya suka kelupaan sama yang satu ini). Cek setiap tulisan yang dibuat dan akan dipublish di dalam blog, mulai dari tata letak, bahasa, kesalahan penulisan hingga pengaturan gambar dan warna tulisan. Saya yakin ini bisa mempengaruhi pembaca. Tulisan yang berantakan dan tidak disusun dengan semestinya tentu saja bisa mengganggu mereka yang membaca tulisan kita. Bahasa juga faktor penting. Salah seorang teman saya pernah berpesan kepada saya bahwa bahasa itu cerminan diri kita. Bahasa formal memang tidak selalu dituntut dalam sebuah blog pribadi, tetapi kalau terlalu informal juga tidak enak dibacanya. Selain itu, jangan lupa untuk memasukkan tautan sumber, baik dari gambar atau tulisan yang kita gunakan pada blog kita (jika memang ada). Hal ini penting supaya tidak ada unsur plagiat dan pelanggaran hak cipta. 

Preview first
Selain mengecek draft tulisan yang sudah siap dipublish, biasanya saya juga akan melihat tinjauan setiap halaman dari tulisan saya tersebut. Dengan begitu, saya bisa memastikan bahwa tulisan saya telah layak untuk ditampilkan. 

Nah, jika keempat langkah tadi sudah dilakukan, maka selanjutnya ya tinggal klik publish. Ketika sudah mengklik tombol tadi, rasanya tuh lega dan campur senang banget lho, he he he. Jadi, itu tadi cerita di balik setiap cerita yang saya tampilkan pada blog ini ya. Semoga bisa membantu menginspirasi teman-teman sekalian.

Selamat menulis!

Tulisan ini diikutsertakan dalam #IHBMayBlogChallenge 

Saturday, March 21, 2015

MENJADI PENELITI UNTUK NEGERI



Saya saat menjadi penyaji poster ilmiah di sebuah Simposium Kesehatan Nasional

Meneliti adalah...
 Berusaha melihat lebih dekat,
Mendengar cerita lebih lama,
Mengamati lebih seksama,
Mencoba mengerti dengan logika, dan 
Menarik analisis sesuai dengan kondisi nyata.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Assalamu'alaikum.

Adakah di antara kalian yang pernah mendengar apa itu profesi peneliti? Tahu nggak sih apa saja yang peneliti lakukan di dalam pekerjaannya?

Menurut saya, tak banyak yang mengetahui profesi ini sebenarnya. Orang awam sering mengira bahwa peneliti itu cenderung seperti Einstein. Penampilannya terlihat sangat 'nerd' alias kutu buku dan sibuk bereksperimen untuk menghasilkan sebuah penemuan. Hmm, pada dasarnya, tidak semua peneliti demikian lho. Peneliti tidak selalu identik dengan orang yang 'freak' akan ilmu, senang menyendiri dan tidak memperdulikan penampilan. Sebaliknya, [eneliti itu ternyata sebuah profesi yang menurut saya sangat mengasyikkan. Mengapa?


Memperkaya wawasan dan ilmu

” ….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah [58] : 11)

Selama lima tahun terakhir ini, saya menggeluti bidang penelitian kesehatan masyarakat. Banyak hal yang saya peroleh dengan menjadi seorang peneliti. Pertama, saya merasa ilmu saya semakin bertambah. Ilmu sebenarnya tidak hanya didapatkan melalui pendidikan formal, tetapi juga ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai lulusan S1 Kesehatan Masyarakat, saya mungkin dinilai sudah cocok menekuni profesi ini. Tapi, saya ternyata masih harus memiliki ilmu lain untuk menjadi seorang peneliti. Untuk menjadi seorang peneliti, saya dituntut harus mampu bekerja baik sebagai individu maupun sebagai tim. Peneliti harus memiliki rasa kekeluargaan dan kerja sama yang tinggi. 

Kedua, dengan melakukan penelitian memungkinkan seorang peneliti untuk terus belajar dan belajar. Penelitian membuka gerbang saya untuk belajar menganalisis fenomena dan masalah yang saya teliti, untuk selanjutnya saya jadikan sebagai ilmu baru. Jadi, peneliti sebenarnya dapat belajar dari hasil penelitian yang diperolehnya. Selain itu, seorang peneliti mungkin saja juga menemukan sesuatu yang menarik dan tidak pernah ada sebelumnya. Misalnya, penemuan vaksin HIV/AIDS. Hebat 'kan?! Oleh karena itu, saya senang berkarya sebagai peneliti. Saya banyak belajar keilmuan di luar ilmu dari latar belakang pendidikan saya. Saya belajar dari banyak peneliti-peneliti senior yang memiliki bidang keilmuan berbeda dari saya. Ketika saya diajak dalam sebuah penelitian mengenai pengendalian Demam Berdarah contohnya, saya juga belajar tentang ilmu biologi nyamuk dan ilmu kesehatan lingkungan dari mereka. Menarik bukan?

Saya bersama teman saya memeriksa perkembangbiakan jentik nyamuk 

Mengenal karakter orang dan lingkungan sekitar

Penelitian itu pada prinsipnya tidak selalu dilakukan di dalam ruangan tertutup, misalnya di laboratorium. Penelitian yang berbasis masyarakat seperti yang saya lakukan sebenarnya lebih banyak dilakukan di lapangan. Kalau kalian pernah melihat sales penjual barang yang suka berkeliling ke rumah-rumah, mungkin peneliti juga bisa dianalogikan demikian, he he he. Peneliti kesehatan masyarakat lebih banyak berinteraksi dengan manusia dan alam. Dari situ saya jadi tahu bagaimana harus menyesuaikan diri beradaptasi dengan lingkungan. 


Tim enumerator Riskesdas saya yang siap turun ke lapangan

Saya ingat beberapa tahun lalu meneliti bagaimana status kesehatan masyarakat di Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Tergabung dalam tim Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI, saya bersama tim enumerator saya bergerak menyusuri kampung dan desa yang ada di Kabupaten tersebut. Saya memasuki satu per satu rumah yang terdaftar sebagai sampel penelitian kemudian melakukan wawancara terhadap seluruh anggota keluarga di rumah-rumah tersebut. Sungguh saat itu, saya banyak memperoleh pelajaran. Saya tidak hanya harus bisa membaur dengan mereka, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dengan baik. Saya mau tidak mau jadi bisa mengenal karakter orang, termasuk orang-orang yang ada tim penelitian saya.

Salah satu bagian di dalam sebuah penelitian: analisis data

Meningkatkan kreativitas dan inovasi

Menjadi peneliti itu dituntut harus bisa kreatif dan inovatif. Tapi bukan berarti saya itu orangnya sangat kreatif ya.. :) Nah, mengapa harus kreatif? Ide penelitian itu bisa sangat luas. Kita bisa meneliti dari hal yang kecil hingga yang besar sekali pun. Agar penelitian itu bisa menarik dan hasilnya bisa berguna bagi orang banyak, peneliti tentu saja harus bisa sekreatif mungkin menuangkan ide-idenya ke dalam sebuah penelitian. Misalnya saja, penelitian tentang tanaman obat sebagai bahan dasar jamu. Orang mungkin banyak tahu beberapa jenis jamu yang umum dikonsumsi seperti jamu kunyit asam dan beras kencur, tetapi jika kita mau berinovasi, kita bisa menghasilkan jamu dari bahan dasar lain yang tentunya memiliki khasiat yang lebih banyak. Peneliti yang kurang kreatif mungkin terkesan tidak up-to-date dan cupu ya. Tapi itu benar lho! He he he. Jadi, kreativitas dan inovasi menjadi kunci penting bagi seorang peneliti.


Menjadi pribadi yang jujur,  berani dan tangguh

"Peneliti itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong!"

Kata-kata di atas juga mencerminkan seorang peneliti lho! Hasil-hasil penelitian tentunya tidak selalu sempurna dan berhasil. Kadang peneliti bisa gagal menjawab tujuan dari penelitiannya. Maka dari itu, peneliti itu boleh saja salah. Penelitian itu 'kan proses interaksi orang yang meneliti dengan apa yang ditelitinya, jadi error atau kesalahan bisa saja terjadi. Dengan menjadi peneliti saya dituntut menjadi pribadi yang jujur, berani dan tangguh. Jujur terhadap proses dan hasil penelitian serta berani dan tangguh dalam menghadapi hambatan di dalam penelitian.

Bagi peneliti lapangan seperti saya, kendala lebih banyak datang dari luar. Akses geografi dan komunikasi yang sulit sering menjadi hambatan dalam kegiatan penelitian, contohnya jalan yang rusak, becek dan berlumpur, dan tidak adanya sinyal telepon. Bahkan jalan tidak bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor, harus dilalui dengan berjalan kaki selama berjam-jam. Hal inilah sebenarnya yang mengasyikkan dari seorang peneliti. Kita jadi lebih mandiri dan siap dengan kondisi apa pun!

Salah satu kendala di lapangan, akses jalan yang rusak
Bekerja sambil berwisata

Nah, hal lain yang tak ketinggalan adalah kesempatan berwisata sambil bekerja. Mungkin kita sering mendengar pepatah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Pepatah ini bisa berlaku bagi seorang peneliti. Mengapa? Penelitian yang dilakukan di banyak daerah di Indonesia memungkinkan saya untuk lebih mengenal tempat-tempat wisata yang ada di daerah-daerah tersebut. Saat di lapangan atau di waktu senggang, saya bisa sambil menikmati keindahan alam dan budaya masyarakat daerah setempat. Saya jadi semakin bersyukur dan mencintai Indonesia... :)

Nah, itu tadi sedikit pengalaman dan sharing saya tentang profesi sebagai peneliti. Tertarik untuk mengikuti jejak saya? 

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi teman-teman pembaca. Pada dasarnya, semua pekerjaan atau profesi itu menarik asalkan halal, bermanfaat dan membawa berkah bagi orang yang menjalankan dan orang lain di sekitarnya. Jadi, jalankan profesimu dengan rasa cinta dan keikhlasan maka kamu insyaa Allah akan berhasil!

Selamat berkarya!

Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge bulan Maret.

Wednesday, January 14, 2015

MINGGUKU BERCERITA


Source: Google images, edited by Nissa

Assalamu’alaikum.

Bagaimana kabar pembaca sekalian? Memasuki minggu kedua di awal tahun 2015, adakah resolusi yang sudah kalian lakukan untuk segera diwujudkan? Atau apakah kalian justru masih menyusun resolusi untuk tahun ini?

Membuat resolusi biasanya menjadi agenda tahunan bagi sebagian orang untuk mengawali datangnya tahun yang baru. Resolusi berisi segala hal yang ingin dicapai dalam jangka waktu 365 hari ke depan. Nah, berhubung kebetulan saya memang belum membuat resolusi untuk tahun 2015 ini, saya akhirnya jadi semangat untuk mengikuti Blog Post Challenge yang diadakan oleh Indonesian Hijab Blogger (IHB) team, dengan tema pertamanya adalah membuat resolusi blog tahun 2015. Wah, seru ya!!!

Tapi ngomong-ngomong, daftar resolusi yang saya buat sangat simple lho. Resolusi blog saya di tahun ini adalah:

"MINGGUKU BERCERITA"

Lho, kok simple banget? He he he. Iya memang sangat simple. Sesuai dengan judul tulisan saya ini, saya ingin sekali bisa lebih berkarya dan lebih banyak menghasilkan tulisan, yakni caranya dengan setiap minggu bercerita! 

Saya akui saya sering sekali lho kena penyakit writer's block. Dalam beberapa bulan, tak jarang saya bahkan tidak sempat ataupun tidak ada ide untuk menulis. Oleh karena itu, tahun ini saya ingin sekali bisa sering menulis, paling tidak satu kali dalam seminggu. Makanya saya senang banget ada challenge dari IHB team. Saya bisa jadi makin semangat membuat tulisan di blog. Tentu saja tulisan itu akan banyak bercerita tentang karya-karya fiksi saya, resep makanan yang pernah saya buat serta sharing pengalaman maupun tips and trik seputar studi, perjalanan wisata dan kegemaran saya yang lain. Saya akan mengurangi tulisan-tulisan yang tidak perlu, curhat contohnya, he he he. 

Intinya, tahun ini, insyaa Allah, saya harus terus semangat menulis yang tentunya menulis sesuatu yang bisa bermanfaat bagi teman-teman pembaca, termasuk cerita-cerita fiksi yang bisa jadi teman ngopi atau ngeteh di kala sore, he he he. Jadi ingat sebuah pepatah Cina yang isinya seperti ini:

"When someone shares something of value with you and you benefit from it, you have a moral obligation to share it with others."

Semoga kita selalu bisa saling berbagi informasi yang bermanfaat ya...! Mari semangat menulis! :)

*Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge 2015

Source: http://indonesianhijabblogger.blogspot.com.au/

Tips Untuk Membuat Tamu Rumah Liburan Merasa Senang Di Rumah Anda

Pernahkah Anda memiliki perasaan tidak pasti bepergian ke suatu tempat untuk tinggal bersama keluarga yang tidak Anda kenal dengan baik? ...