Showing posts with label Study. Show all posts
Showing posts with label Study. Show all posts

Sunday, September 25, 2016

TIPS MOVE ON SAAT GAGAL DALAM SELEKSI BEASISWA





Assalamu'alaikum.

Apakah kamu baru saja gagal dalam sebuah seleksi beasiswa studi luar negeri? Apakah seketika kamu merasa dirimu adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia?

Saya yakin semua orang terlahir untuk merasakan yang namanya kegagalan, penolakan bahkan ketertinggalan dalam hidupnya. Sedih, kecewa? Wajar saja. Itu manusiawi kok. Nggak ada keberhasilan di dunia ini yang diraih dengan mulus, semulus rel kereta api. Pengusaha sekelas Steve Jobs saja pasti sering mengalami kegagalan dan harus melewati jalan berliku sebelum akhirnya berhasil. 

Banyak yang menyebutkan bahwa gagal atau fail (kosakatanya dalam bahasa Inggris) berarti First Attempt in Learning. Artinya, kegagalan hanyalah awal mula usaha kita dalam belajar. Jadi kegagalan adalah sebuah pembelajaran yang pastinya kita harapkan tidak akan terulang lagi berikutnya. 

Nah, sekarang konteksnya kamu sudah gagal dalam meraih beasiswa studi yang sudah sekian lama kamu impikan. Lalu, bagaimana kamu harus menghadapinya? Hey, move on! Kamu nggak sendiri untuk menjadi yang gagal, dan (remember this!) kamu nggak sendiri untuk menjadi yang mampu bangkit. Berikut tips dari saya supaya kamu bisa move on saat gagal seleksi beasiswa. :)


BERSEDIHLAH, LALU BERDAMAI DENGAN HATI

Seperti yang saya bilang sebelumnya, sedih setelah gagal itu wajar banget kok. Sedih itu kan juga bagian dari emosi manusia. Nah, setiap emosi ya bagusnya dikeluarkan, jangan justru dipendam. Saat kamu sedih dan seketika meneteskan air mata, kamu otomatis mengeluarkan hormon stres dari tubuhmu dan tentunya kamu akan merasa lebih baik dan lebih rileks. Kesedihan terkadang kamu butuhkan untuk bangkit lagi. Tapi, jangan lama-lama juga nangis dan galaunya ya. Kan nggak asyik juga kalau sampai matamu terus-terusan sembap. :) Jika emosimu sudah kamu keluarkan, maka kamu perlu mencoba berdamai dengan hatimu. Sematkan dalam pikiranmu bahwa kegagalan ini hanyalah permulaan. Gagal bukan berarti kamu bodoh or dumb. No, not at all. Banyak orang tua berpesan "Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda". Yes, itu cuma perkara belum waktunya saja. Jadi, berdamailah dengan hati, jangan pernah menyalahkan diri karena kamu menjadi orang yang paling tidak beruntung di dunia. Please, don't! Yakinkan saja diri kamu bahwa mungkin Tuhan belum meridhoi saat ini tapi berikutnya pada saat yang tepat, kamu insyaa Allah pasti akan dapat!



BERHENTI MEMBANDINGKAN DIRIMU DENGAN ORANG LAIN

Kamu mungkin bukanlah yang sendiri menjadi pejuang. Bisa jadi ada beribu pelamar beasiswa lain yang berkompetisi seperti dirimu. Mungkin banyak juga teman-temanmu yang ikut mencoba, namun mereka justru lebih beruntung dibandingkan dirimu. Eits, jangan pernah membandingkan hasil yang mereka dan kamu peroleh ya. Kamu nggak pernah tahu kan apa yang telah mereka lewati untuk meraih kesuksesan tersebut? Bandingkan seberapa besar kerja keras kamu dengan mereka, apakah kamu juga sudah berusaha sekeras mereka? Anggap saja itu adalah rejeki mereka yang mungkin juga sempat tertunda, yang akhirnya tiba pada waktunya. Cobalah untuk bahagia bersama mereka dan ucapkan kata-kata selamat karena mereka sudah berhasil melalui perjuangan. Dengan begitu, kamu akan lebih bisa ikhlas dan siap untuk bangkit. 

Photo credit: http://techttalks.com/

MULAI INTROSPEKSI DIRI DAN KENALI POTENSI

Setelah hatimu sudah siap untuk bangkit, mulailah untuk introspeksi diri dan mengenali potensi yang membuatmu gagal. Coba tanyakan ke dalam dirimu "Kalau mereka bisa, kenapa saya nggak ya? Kenapa ya?". Saya yakin kamu pasti akan bertanya-tanya seraya bingung sendiri: saat seleksi berkas, kamu masukkan seluruh dokumen yang diperlukan, sampai-sampai kamu sertakan pula piagam kejuaran olahraga yang kamu peroleh saat masih di bangku SMA; saat wawancara pun, kamu sudah menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan oleh para pewawancara tanpa terbata-bata, sampai-sampai kamu ikutan asyik mengobrol dengan mereka. Lantas, kenapa saya bisa nggak lolos? 

Proses seleksi beasiswa itu memang hampir mirip dengan proses lamaran kerja, unpredictable :) Yang awalnya kamu yakin banget saat menjalani prosesnya, eh ternyata justru kamu yang malah gagal. Coba tengok lagi, kamu sudah kenal potensimu dengan baik atau belum? Apakah potensimu itu yang memang mereka cari? Pihak donor tentunya punya kriteria khusus bagi tiap kandidat penerima beasiswa. Mungkin saja mereka melihat dari kesiapan kamu untuk melanjutkan kuliah di negara mereka. Apakah kamu sudah yakin kamu sudah cukup menjelaskan kepada mereka kalau kamu sudah siap? Bagaimana dengan bahasa? Nilai TOEFL/IELTS-mu boleh jadi tinggi, tapi saat wawancara, tiba-tiba mulutmu seperti terkunci. Jadi, mungkin saja mereka juga melihat hal lain yang lebih mendetail, misalnya saja kemampuan interpersonal.

(Baca juga How to Win ADS/AAS Scholarship)

Kemampuan interpersonal kamu juga harus unggul, dimana contohnya kamu bisa menyampaikan goals kamu tanpa terkesan ke-PD-an atau kamu bisa berinteraksi dengan pewawancara menggunakan bahasa Inggris yang lebih mumpuni. Nah, kalau sudah mengenali potensimu tadi, saya yakin kamu langsung mulai belajar memperbaiki kekurangan-kekurangan yang mungkin ada. Entah itu di masalah bahasa atau interpersonalmu sekalipun. Ayo ayo ambil cermin, he he :)




BANGKIT DAN COBA KEMBALI!

Saya kenal beberapa teman yang sudah sampai pada titik ini, dan percaya atau nggak, mereka tetap gagal. Well, kamu memang nggak akan pernah tahu usaha yang keberapa yang akan berhasil, tapi setidaknya kamu patut berbangga atas semua usahamu itu. Saya ingin sedikit menyelipkan cerita keberhasilan teman saya yang pada akhirnya berhasil menggapai mimpinya kuliah di Australia tahun lalu setelah dua kali gagal mencoba. Kak Mawar, panggil saja demikian, sudah tiga tahun ini berjibaku dengan buku-buku IELTS. Dia bahkan saya dengar sering meluangkan waktu membaca buku-buku fiksi dan non-fiksi berbahasa Inggris di sela-sela waktu sibuknya. Tekadnya cuma satu, lolos beasiswa Australia Awards Scholarship untuk yang ketiga kalinya mencoba. Usaha pertamanya dia lakukan saat belum berada satu gedung kantor yang sama dengan saya. Gagal, lantas dia pun mencoba di tahun berikutnya, namun kemudian kembali gagal. Hingga akhirnya kesuksesan saya meraih beasiswa serupa pada tahun 2013 lalu yang mengembalikan semangat Kak Mawar untuk mencoba yang ketiga kalinya. Alhamdulillah, pada tahun 2014 dia pun dinyatakan lolos dan sejak 2015 sudah berada di Australia untuk melanjutkan studi Master of Public Health selama, insyaa Allah, dua tahun.

Pasti bahagia banget ya jika apa yang sudah kita usahakan sekian lama, pada akhirnya membuahkan hasil. Saya yakin kamu juga termasuk pribadi yang sama seperti tokoh yang baru saya ceritakan tadi - tidak menyerah begitu saja pada kegagalan. Dan saya yakin nggak akan pernah ada kesia-siaan buat siapa pun yang mau berusaha mewujudkan mimpi dan keinginan. Toh, akhirnya teman saya lolos juga kan?! Jadi, jika kamu sekarang gagal, don't worry be happy. Cobalah untuk melihat peluang! Kesempatan yang sama kadang nggak datang dua kali, tapi apa salahnya mencoba peluang dari kesempatan yang lain. Jika kamu merasa tidak ada masalah untuk mengubah lokasi tujuan studimu, kamu bisa mencoba beasiswa dari universitas atau negara yang berbeda. Mungkin saja, ada rejekimu terselip di situ. Kalau nggak dicoba, mana kita tahu? Selagi masih ada peluang dan kamu yakin potensimu bisa mengantarmu meraihnya, kenapa nggak dicoba? Jadi, tetap semangat ya! :)

Photo credit: http://blog.movingworlds.org/

Saturday, August 22, 2015

How-to Survive in Sydney (Part 1)


Adakah di antara kalian yang ingin sekali melanjutkan sekolah ke luar negeri? Saya yakin beberapa dari kalian akan menggangguk bahkan ada yang menjawab dengan lantang, "Ya, saya!", he he he. Great, lalu apakah Australia menjadi salah satu negara destinasi kalian untuk kuliah? Kalau iya, lantas di kota manakah itu? Jika Sydney jawabannya, maka ada beberapa survival tips yang patut kalian ketahui sebagai pelajar Indonesia. 

Sydney itu kota destinasi wisata nomor satu di Australia (versi 2015's Travelers Choice Tripadvisor). Selain itu, Sydney masih masuk dalam daftar 10 negara paling nyaman untuk ditinggali. Jadi, tak heran 'kan kalau banyak warga di seluruh dunia yang ingin sekali ke sana, termasuk warga Indonesia. Nggak hanya untuk sekedar berlibur, tetapi juga untuk melanjutkan studi. Bahkan menurut data Departemen Pendidikan Australia, jumlah pelajar Indonesia di Sydney meningkat seiring waktu hingga lebih dari 15 ribu pelajar (http://www.studiesinaustralia.com/studying-in-australia/why-study-in-australia/international-students-in-australia). Wuih, luar biasa! Semoga mereka ini yang akan menjadi calon agent of change Indonesia di masa depan ya. Aamiin. :)

Oke, Sydney itu emang destinasi favorit semua orang, tapi Sydney juga terkenal sebagai kota di Australia dengan biaya hidup paling mahal. What?! Yup, itu benar banget lho! Oleh karena itu, buat pelajar Indonesia yang sudah terbiasa memperoleh barang dengan harga murah di tanah air (seperti saya, he he he), harus pintar-pintar supaya bisa tetap survive tinggal di sana. Tips berikut adalah hasil pengalaman saya selama tahun 2014, jadi maaf kalau sedikit bersifat subjektif.  Mungkin saja tidak bisa diaplikasikan oleh semua orang. Maklum, saya sekolah karena menerima beasiswa, sehingga cara hidupnya akan berbeda dengan sebagian orang. Silahkan disimak ya!


MERUBAH MIND SET RUPIAH KE DOLLAR

Img source: http://topnews.net.nz/


Yang satu ini nih, susah banget nget nget. Mungkin kamu harus tinggal paling tidak lebih dari 6 bulan supaya kamu bisa membiasakan "berhitung" dalam Dollar, he he he. Mata uang Indonesia dan Australia memang jelas berbeda, yang satu pakai Rupiah, yang satu pakai Dollar (baca: Australian Dollar/AUD). Pecahannya pun berbeda. Kalau di tanah air, pecahan Rupiah itu mulai dari 100 Rupiah, nah kalau di sana, 5 sen pun masih ada lho. Meski penggunaannya terbatas, biasanya buat change atau kembalian. Biarpun begitu, barang-barang di sana rata-rata mulai dijual dari harga 1 AUD. Bahkan di Sydney, makanan jadi yang dijual di pinggir jalan, misalnya sandwich atau sushi dijual mulai dari 2 sampai 5 AUD. Ya.. kalo diconvert ke Rupiah sekitar 30-60 ribuan. Mihil ya? Sudah pasti. Kita aja bisa dapat bubur ayam komplit enak dengan harga 7 ribu atau kurang dari 1 AUD. Jadi, jangan lantas buru-buru kita menganggap hidup kita akan menderita saking mahalnya. Justru kalau mindset perhitungan kita diubah ke Dollar, kita akan cepat menyesuaikan diri dengan kehidupan di sana, dan lama-lama mengganggap, "Ah, cuma 2 AUD.", he he he.


SUSAH NEMU MAKANAN INDONESIA? MASAK SENDIRI!


Teman saya yang habis masak tumis sayur

Kalau ini mungkin udah jadi kebiasaan banyak pelajar Indonesia yang tinggal di Australia, nggak cuma di Sydney. Tapi berhubung Sydney itu kota mahal, jadi (sangat) diwajibkan untuk masak makanan sehari-hari sendiri. Bayangkan saja, satu porsi nasi ayam kremes yang bisa kita makan di Indo dengan harga sekitar 15-20 ribu Rupiah saja, di sana bisa seharga 10-15 AUD. Widih, fantastis! Maka dari itu, buat kamu yang nggak bisa jauh-jauh dari masakan rumah (apalagi masakan emak), tapi pengen tetap bisa menikmatinya tanpa membuat kantong cepat kempes, caranya ya masak sendiri. 


Pas lagi pengen Bubur Kacang Ijo tapi nggak ada yang jual, akhirnya masak sendiri :p











Hal ini juga berlaku buat kamu yang muslim. Kita pasti sangat paham bahwa Islam di Australia adalah minoritas, jadi makanan halal kadang menjadi barang langka di sana. Ada sih makanan halal seperti masakan Timur Tengah atau India yang bisa dikonsumsi. Tapi, kalau keseringan bosen juga, he he he. Oleh karena itu, tips aman supaya kamu tetap dalam koridor agama adalah dengan memasak makananmu sendiri. Saat ini, sudah banyak kok beragam bumbu jadi masakan Indonesia yang mudah ditemukan di supermarket Asia. Lumayan lah, kalau masak sendiri, makanannya bisa untuk 1-2 hari. Hemat 'kan?


Salah satu bumbu jadi yang dijual di pasar swalayan



MICROWAVE TO THE MAX

Percobaan saya membuat mug cake menggunakan microwave

Buat pelajar yang super sibuk, tentunya memasak akan sangat menyita waktu. Oke, I agree! Tapi, kita 'kan mau berhemat, jadi kenapa harus repot? Hampir di setiap tempat tinggal mahasiswa Indonesia  (bahkan di kampus!) biasanya terdapat microwave yang kegunaannya bahkan menandingi kompor lho! He he he, maaf saya lebay. Menurut saya, microwave itu patut dijadikan sebagai barang "berharga" karena memudahkan hidup kita. Misalnya, makanan yang kita beli atau masak hari ini atau semalam, bisa kita simpan di dalam kulkas lalu dihangatkan kembali esok hari untuk bekal ke kampus. Praktis 'kan? Tinggal membeli wadah kontainer untuk menyimpan makanan di kulkas. Microwave juga bisa menghangatkan roti yang sudah hampir expired. Biasanya, 2-3 hari sebelum expired, roti tawar saya simpan di kulkas. Kalau mau dimakan, tinggal dihangatkan dulu di microwave lalu dikasih isian selai dsb  ;)


JANGAN BOSAN INTIP KATALOG BELANJA


Katalog belanja supermarket Coles




Nah kalau tips yang satu ini saya terinspirasi dari dua orang teman saya, laki-laki dan perempuan. Tapi keduanya agak bertolak belakang. Teman saya yang laki-laki alasannya karena ingin berhemat, yang perempuan karena hobi belanja, he he he. Kalau saya? Ya boleh dibilang dua-duanya. Di Sydney, ada banyak supermarket lengkap dan terkenal, di antaranya ALDI, Coles, Woolworths (atau biasa disebut Woolies), IGA, Harris Farm hingga Supabarn. Selain itu, Sydney juga memiliki beragam department store sekelas Matahari hingga Metro atau Sogo, seperti Kmart, Target, Big W, Myer hingga David Jones. Biasanya supermarket atau department store ini akan menampilkan katalog belanja mereka setiap hari atau setiap minggunya. Bahkan canggihnya, mereka juga memiliki aplikasi ponsel (apps) yang bisa dengan mudah diunduh di handphone kamu sehingga kamu lebih mudah mengakses harga-harga terkini dari barang yang dijual di sana. Kalau sudah begitu, tinggal siapin catatan kebutuhan harian apa saja yang harus kita beli deh.


SAVE THE BEST FOR THE LAST


Berakhir pekan bersama teman-teman menikmati kuliner seafood di Sydney Fish Market

Maksudnya di sini, berhematlah pada waktu sibukmu dan simpan untuk akhir minggumu. Cara ini biasanya disiasati oleh mereka yang hobi traveling atau nongkrong sambil ngopi di cafe. Jangan salah, Sydney punya banyak cafe dan tempat ngopi asyik yang jadi favorit mahasiswa Indonesia, lho. Kalau saya sih dasarnya bukan pecinta kopi, jadi jarang banget ke tempat-tempat tersebut. Biasanya saya cuma lunch atau dinner bareng teman di resto, nonton di bioskop atau jalan-jalan keliling kota. Selain itu, kamu juga bisa ajak teman-temanmu untuk berpiknik pada saat musim panas (summer). Piknik sambil barbekyu (BBQ) (atau barbie istilah slangnya) adalah hal yang sangat menyenangkan. Sebagian besar taman dan tempat umum lainnya di Sydney sudah dilengkapi dengan public BBQ lho. Kamu bisa cek disini. Kamu tinggal bawa bahan makanan dan alat masak yang dibutuhkan, termasuk alat makannya. Jadi, anggap saja hal ini adalah reward dari kerja kerasmu dalam menjaga penghematan selama kuliah. Lagi pula nggak ada salahnya kok menikmati akhir pekan. Hari-hari tidak melulu diisi dengan belajar, tetapi juga perlu refreshing supaya pikiran nggak penat dan kita juga nggak bosan. 

Kegiatan piknik sambil barbekyu di salah satu taman pinggir kota bersama teman jemaah pengajian
(img source: arsip Pengajian USYD-UTS)







So far, itu dulu survival guides di Sydney versi saya ya. InshaAllah nanti ada lanjutan tulisannya di part ke-2. Jadi stay tune terus, oke?! Jika ada di antara kamu yang mau tanya-tanya lebih jauh, boleh silahkan. Semoga bermanfaat :)
    

Saturday, August 2, 2014

MY JILBAB TRAVELER'S DIARY (PART 1)

Foto bersama dengan ketua program, para dosen, asisten dosen dan teman-teman. I was the only one who used hijab :)


Assalammu'alaikum.

Siapa tak kenal kota Shanghai di Cina? Saya tidak pernah bermimpi suatu hari bisa ke kota tersebut, apalagi ke Cina. Tapi, alhamdulillah sekitar tiga minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi kota yang pernah dijuluki "Paris in the East". Huaa, senang banget akhirnya bisa mengunjungi salah satu kota terbesar di negeri Tirai Bambu.

Jadi ceritanya saya alhamdulillah terpilih menjadi perwakilan mahasiswa dari University of Sydney untuk mengikuti Summer School Program tentang Millennium Development Goals (MDGs) di Fudan University selama dua minggu, 7-18 Juli 2014. Saya pun ke sana tidak sendiri. Saya berangkat dengan salah seorang teman kuliah sesama mahasiswa di USyd. Kabar keikutsertaan saya pada program ini pertama kali saya peroleh melalui email yang dikirimkan oleh dosen sekaligus Ketua Jurusan saya. Saat itu, saya benar-benar tidak menyangka. Dari begitu banyak mahasiswa yang mengambil mata kuliah Foundations of International Health, mata kuliah yang diajarkan oleh dosen saya tersebut, saya dan teman saya tadilah yang terpilih. Hal lainnya adalah saya juga tidak harus mengeluarkan uang sepeser pun untuk program tersebut. Biaya perjalanan termasuk akomodasi dan makan selama di sana sepenuhnya ditanggung oleh pihak penyelenggara. Asyik ya? Iya, saya betul-betul  bersyukur dengan kesempatan yang saya raih ini.
Oke lanjut ceritanya. Jadi sebenarnya kenapa saya kasih judul "My Jilbab Traveller's Diary" itu karena saya ingin mengenang pengalaman saya berpergian sebagai hijabi dan tentu saja sebagai kaum minoritas. Kita tahu penduduk muslim di Cina itu tidak banyak. Kebanyakan dari mereka tinggal di sekitar wilayah utara Cina. Hmm, sebenarnya saya juga sekarang sedang tinggal di negara yang kaum muslimnya minoritas, tapi entah kenapa banyak hal unik dan tak terduga yang saya rasakan selama di Shanghai. Apalagi jarang sekali saya lihat wanita berhijab selama di sana. Saya pernah berpikir jangan-jangan hanya saya nih, he he he.

So, hal pertama yang menantang bagi saya adalah merasakan ibadah puasa di tempat yang tidak pernah saya bayangkan. Alih-alih bisa menemukan masjid dan makanan halal di kota ini, saya justru menemukan banyak ketidaksukaan saya pada kota ini. Panas dan lembab, berisik oleh banyaknya kendaraan, padat penduduk, pokoknya saya seperti seolah-olah sedang kembali ke Jakarta. Setiap pagi saya harus berjalan kaki menyusuri padatnya jalanan pinggiran kota Shanghai untuk mencapai kampus dari hotel tempat saya menginap. Peliknya saya harus melewati beberapa perempatan padat kendaraan. Setelah beberapa bulan tinggal di Sydney, saya jadi terbiasa untuk taat aturan selama di jalan. Tetapi saat di Shanghai kemarin, saya seperti sedang berada di Jakarta. Meskipun lampu hijau khusus pejalan kaki sebenarnya disediakan, tapi anehnya setiap kendaraan yang berbelok tidak berhenti. Para pejalan kaki termasuk saya harus berhati-hati dan memastikan tidak ada kendaraan yang akan berbelok. Selain itu, pengendara sepeda motor di kota ini sebagian besar (bahkan hampir semua) tidak menggunakan helm! Mereka juga bebas melaju tanpa mempertimbangkan warna lampu lalu lintas. Bahkan meskipun sudah disediakan jalanan khusus motor, mereka tetap bandel melawan arus. Aduh, persis lah ya dengan  kesemrawutan jalanan di Jakarta. Teman kuliah saya pun sampai terkaget-kaget. "Look! They are crazy!", sautnya setiap hari. He he he, saya cuma bisa tertawa.

Suasana jalanan dan pemukiman di sekitar hotel saya tinggal.


Beberapa mobil yang melintas di sepanjang jalanan menuju kampus.

Suasana trotoar di pinggir jalan yang dipenuhi toko-toko. Langsung teringat dengan Jakarta :)

Suasana pagi di salah satu perempatan jalan menuju kampus. Ramai oleh pengendara mobil, motor dan sepeda.

Selama program Summer School ini berlangsung, alhamdulillah saya mendapat banyak teman. Tidak hanya mahasiswa lokal dari berbagai provinsi di China, tetapi juga beberapa mahasiswa internasional yang sama seperti saya. Di antara dari mereka berasal dari Malawi, Ghana dan Vietnam. Hanya saja, sempat ada kekhawatiran dalam diri saya, susah tidak ya berkomunikasi dengan mahasiswa-mahasiswa lokal ini? Pasalnya, bahasa Inggris mereka pun tidak terlalu mudah dimengerti. Bukan bermaksud untuk sombong, tapi pada kenyataannya saya memang mengalami kesulitan berkomunikasi lho selama di sana. Untuk makan dan membeli sesuatu saja, saya lebih banyak menggunakan bahasa tubuh. Selain itu, teman satu grup presentasi saya juga ada yang tak terlalu bisa berbahasa Inggris. Alhasil, tiap berdiskusi dengan kelompok saya ini, saya akan meminta tolong salah satu dari mereka untuk menterjemahkan hasil diskusi kami untuknya, atau sebaliknya. Hmm, repot memang, tapi itu dia seninya. Alhamdulillah saya selalu sabar, puasa he he he.

Teman-teman satu grup presentasi saya :)

Suasana saat diskusi. Mereka diskusi dulu dalam bahasa Mandarin, lalu salah seorang menterjemahkannya pada saya :p

Hal lain yang menantang selama mengikuti program ini adalah saya adalah satu-satulah mahasiswa yang berpuasa pada saat itu. Sebenarnya hal ini tak terlalu sulit bagi saya. Tantangan terberat mungkin ketika harus berpuasa di musim panas dengan perbedaan lama puasa yang cukup signifikan dengan di Sydney. Saya harus menahan rasa haus, lapar dan hawa nafsu selama 16 jam lamanya. Tentu saja dengan suasana udara yang panas dan peluh yang hampir tiap hari menetes dari balik jilbab saya. Wah, luar biasa puasa saya kali ini. Terlebih lagi, hampir setiap hari saya selalu ditanya oleh beberapa teman asal Cina, "Why are you not eating?". Meskipun sudah berulang kali saya beritahu bahwa saya sedang menahan makan dan minum sejak matahari terbit hingga terbenam, mereka tetap bertanya, dan kadang yang menyebalkan adalah ketika mereka mengasihani saya. Aduh, please teman-teman, jangan mengasihani saya. Ini adalah kewajiban saya sebagai muslim. Tapi saya tetap memaklumi. Mungkin banyak dari mereka yang tidak tahu apa itu puasa Ramadan, bahkan apa itu Islam. Indahnya ya, saya seperti diberikan kesempatan oleh Allah untuk berdakwah. Setiap mereka menanyakan hal-hal menyangkut ibadah puasa saya atau penampilan saya yang berbeda dari mereka, saya pasti akan cerita mengenai Islam. Masya Allah... :)

Gerbang utama kampus, Fudan University.

Gedung School of Public Health, Fudan University

Kantin halal di kampus. Alhamdulillah, jadi favorit kebanyakan mahasiswa di sana.

Cerita soal makanan, alhamdulillah saya tidak terlalu banyak mengalami kesulitan selama di sana. Jadi, kampus ternyata menyediakan kantin halal bagi mahasiswa muslim. Lokasinya pun berdekatan dengan asrama mahasiswa internasional. Meskipun menunya terbatas, cuma ada kedai mie dan makanan siap saji ala warteg, saya sebenarnya sudah sangat senang. Selain makanannya yang menurut saya enak, tempat ini juga ternyata jadi favorit kebanyakan mahasiswa lokal. Berhubung sedang puasa, jadi saya hanya bisa membeli makanan selepas kuliah. Itu pun tidak bisa makan di tempat, alias harus dibungkus untuk dibawa pulang. Pasalnya jam berbuka puasa atau waktu sholat Maghrib setempat adalah sekitar pukul 19.00, sementara kelas sudah selesai sejak pukul 17.00. Tak apalah. Yang penting saya bisa menyantapnya secara gratis, cukup tunjuk makanan yang saya mau (maklum persoalan bahasa) lalu bayar menggunakan kartu dengan cara ditap. Selama program berlangsung, seluruh mahasiswa memperoleh kartu berisi uang yang dipergunakan  untuk membeli makanan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari di kantin dan mini market kampus. Kartu itu pun nantinya dikembalikan saat program selesai. Jadi, bisa dibayangkan 'kan kagetnya teman saya saat melihat nominal sisa uang yang ada di kartu saya masih banyak. Maklum puasa, jadi jarang makan.. he he he :)

Menu makanan yang saya beli di kantin halal kampus. Sederhana tapi nikmat.

Ayam goreng pedas (spicy chicken) favorit yang selalu saya makan.  Aduh kangen..
Program Summer School ini sepertinya sudah menjadi agenda tahunan Fudan University. Kami tidak hanya mempelajari filosofi dan sejarah dibentuknya MDGs, tapi kami juga mempelajari tiap target di dalam MDGs. Seluruh materinya pun diberikan oleh para dosen menggunakan bahasa Inggris. Tidak hanya itu, kami juga diberikan tugas kelompok berupa presentasi kelompok mengenai kasus malnutrisi di salah satu daerah di Afrika. Jadi kami diberikan studi kasus yang sama, namun diminta mempresentasikan proposal proyek bernilai 1 juta dollar untuk mengatasi permasalahan tersebut. Uniknya, tugas ini dikompetisikan. Jadi ada hadiah bagi kelompok yang proposalnya terpilih sebagai juara. Seru ya... Selain itu, hal yang saya sukai dari program ini adalah kegiatan field trip ke beberapa pusat kesehatan ibu dan anak di distrik Pudong, Shanghai. Kami berkunjung ke tiga tempat, mulai dari Maternal and Child Health Care Centre, Rumah Sakit tipe B dengan fasilitas MCH yang mumpuni, serta salah satu Primary Health Care dan Village Health Post di distrik tersebut.

Kunjungan ke Maternal and Child Health Care Centre. Para tenaga medis berpakaian pink bersiap untuk jadi guide kami.

Suasana di loket pendaftaran.

Lokasi selanjutnya, Rumah Sakit tipe B yang luasnya udah sama dengan RSCM. 

Suasana di ruang rawat jalan ibu dan anak.

Lokasi ketiga, Primary Health Care.

Ruang poli anak.

Lokasi terakhir, Village Health Post, yang sepintas mirip Puskesmas di Indonesia. Ayo, saya dimana? :)

Ruangan khusus penyuluhan yang hampir ada di setiap Village Health Post, lengkap dengan media sosialiasi.

Untuk melepas penat dari rutinitas kuliah setiap hari dari pagi hingga sore, saya dan beberapa teman internasional pun menikmati kota Shanghai di waktu pekan. Kami menghabiskan waktu berjalan-jalan menyinggahi beberapa tempat wisata yang katanya wajib dikunjungi di Shanghai, seperti Yu Yuan Garden, Shanghai Old Street dan The Bund. Yu Yuan Garden dan Shanghai Old Street letaknya berdekatan. Sementara Yu Yuan Garden terkenal dengan keindahan taman khas Cina yang konon dibuat oleh seorang pebisnis Cina yang kaya raya, sementara Shanghai Old Street adalah tempat yang harus didatangi jika kita ingin belanja souvenir khas negeri Tiongkok. Mulai dari tas, baju, sepatu, lukisan, pajangan hingga batu permata dijual di sana. Sayangnya, tak semua lho produk Cina itu murah. Menurut saya barang-barang souvenir yang dijual di daerah ini bervariasi, ada yang mahal dan ada juga yang cukup murah. Berhubung cuaca kota Shanghai di akhir pekan kemarin kurang bersahabat, kami pun hanya bisa berjalan-jalan di hari sabtu. Minggu depannya baru kami menyambangi The Bund, salah satu tempat di mana kami bisa melihat Pearl Tower, landmark kota Shanghai. Kami sengaja pergi di malam hari agar bisa melihat keindahan cahaya di sekitar tempat tersebut. Meskipun malam itu suasana sangat ramai oleh pengunjung, tapi kami tetap senang setelah melihat pemandangan yang terhampar di seberang Sungai Huangpu. Bagus!

Gerbang masuk menuju Yu Yuan Garden

Pusat pertokoan dan penjualan souvenir di sisi kiri dan kanan jalan menuju Yu Yuan Garden

Yu Yuan Garden yang indah.

Jalanan di Shanghai Old Street. Berasa lagi di dalam film Cina terkenal, he he he.
Gedung Oriental Pearl Tower yang sangat fenomenal. Aduh, indahnya malam itu.
Lokasi The Bund yang bermandikan cahaya lampu. :)

Puas menikmati kota Shanghai di akhir pekan dan di beberapa hari terakhir sebelum pulang, saya sebenarnya masih menyimpan banyak cerita he he he. Hari terakhir adalah hari dimana kompetisi presentasi project proposalnya dilaksanakan. Kelompok saya pun mempresentasikan konsep berupa penelitian RCT (Randomised Controlled Trial) tentang penggunaan RUTF (Ready to Use Therapeutic Food) pada sejumlah sampel balita gizi buruk di Oromiya, Afrika. Meskipun konsep kami dinilai baik dari segi ilmiah, sayangnya, kami tidak terpilih sebagai kelompok terbaik. Tapi saya sudah cukup senang dengan prestasi dan hasil dari usaha teman-teman di kelompok saya. Mengingat bagaimana susahnya saya berkomunikasi dengan mereka karena masalah bahasa, he he. 

Cerita lain yang mungkin jadi cerita terakhir saya kemarin adalah ketika saya masih dikasih kesempatan sama Allah untuk mengeksplorasi Shanghai selama sehari. Akibat kejadian yang tidak mengenakkan yang dilakukan oleh pihak maskapai penerbangan China Eastern kepada saya dan beberapa penumpang dengan rute menuju Sydney dan Melbourne, penerbangan kami akhirnya diundur satu hari. Kami pun tidak dapat diberangkatkan sesuai jadwal akibat kesalahan sistem penjualan tiket yang membuat kami tidak kebagian kursi. Inilah kali pertama saya bingung sendirian di negara orang karena tidak bisa pulang. Subhanallahu, betul-betul cobaan. Ponsel saya pun pada saat itu mati dan tidak ada tempat untuk mencharge baterai. Saya hanya bisa pasrah karena tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Tapi alhamdulillah, semua bisa teratasi. Saya pun mendapat kompensasi termasuk penginapan gratis oleh pihak maskapai. Sesampainya di penginapan, saya baru bisa menghubungi orang-orang terdekat termasuk salah satu pihak panitia dari Fudan University. 

Hari berikutnya saya masih harus dihadapkan dengan waktu menunggu keberangkatan pesawat yang terbilang cukup lama. Karena cuma ada satu penerbangan di jam yang sama, yakni pukul 20.20 waktu setempat, saya pun memutuskan untuk menghabiskan waktu berplesir mengelilingi kota Shanghai sekali lagi seorang diri. Mencoba memberanikan diri, saya mengunjungi beberapa tempat yang kemarin belum sempat saya datangi. Saya pergi dengan berbekal gambar peta perjalanan kereta bawah tanah (subway) yang sudah saya unduh malam sebelumnya di penginapan. Maklum saja, selama di Shanghai saya tidak membeli kartu sim card untuk ponsel. Saya hanya mengandalkan jaringan wifi yang tersedia gratis selama di kampus dan hotel tempat saya menginap kemarin. Selama perjalanan, saya tidak merasa khawatir. Pasalnya, saya sudah pernah pergi menggunakan kereta di hari sebelumnya bersama teman saya asal Harbin, Cina. Jadi saya cukup mengerti bagaimana cara membeli tiket dan berganti jalur kereta di stasiun. Sisa perjalanan pun saya tempuh dengan berjalan kaki. Wah saya layaknya seorang turis backpacker yang kesepian, ha ha ha.. 

Foto selfie saya di Jing'an Temple. Huaa, panasnya siang itu. 

Kereta magnet Maglev dari Pudong airport menuju Longyang Metro Station


Interior di dalam kereta Maglev.

Ramainya pusat perbelanjaan terbesar di Shanghai, East Nanjing Road

Bangunan mushala yang tiba-tiba muncul di depan mata. Masya Allah :)

Gerbang depan mushala.

Mushala di sekitar Shanghai Old Street. Tempat yang selama ini dicari.. :)

Suasana di dalam mushala yang sejuk. Berbeda dengan panasnya udara di luar. 

Alhamdulillah akhirnya bisa sholat di mushala itu sesaat sebelum kembali ke bandara. Saya sungguh terharu.. :((

Beberapa tempat yang saya kunjungi di antaranya Jing'an Temple yaitu salah satu kuil terbesar di Shanghai, kawasan perbelanjaan East Nanjing dan Shanghai Old Street untuk kedua kalinya. Saya juga tak lupa mencoba menaiki kereta magnet super cepat Maglev saat berangkat dari bandara maupun saat kembali untuk pulang. Dengan membeli tiket pp seharga 80 RMB (Chinese Yuan), saya sudah bisa merasakan sensasi menaiki kereta yang kecepatannya mirip dengan kereta peluru itu. Waktu tempuh dari bandara ke pusat kota yang berjarak kurang lebih 20 km saja cuma 8 menit. Masya Allah, seru! Hal yang tentu saja tidak akan pernah saya lupa lagi adalah bagaimana saya akhirnya menemukan sebuah mushala saat berkunjung ke Shanghai Old Street. Itu pun satu jam sebelum saya harus kembali lagi ke bandara. Kenapa kemarin saat saya ke sana bersama teman-teman nggak nemu ya? Wallahu a'lam. Yang pasti tiba-tiba saja saya berdiri di depan gedung itu dan perhatian saya teralihkan ke kubah kecil yang ada di atasnya. Saya benar-benar bersyukur bisa sholat di tempat tersebut. Saya juga melihat beberapa wanita Cina muslim berjilbab seperti saya. Masya Allah, saat itu perasaan saya antara senang, sedih, haru campur jadi satu, mengingat pengalaman yang sudah terjadi selama di Shanghai. Seusai beribadah, saya pun berjalan melihat beberapa pertokoan untuk terakhir kali lalu kembali ke bandara. Alhamdulillah, perjalanan kembali ke Sydney malam itu lancar meskipun penerbangan sempat delay selama satu jam.

Panjang juga ya cerita perjalanan saya ini. Sebenarnya masih ada hal menarik lainnya yang saya alami. Tapi cukuplah sampai di sini. Intinya, saya benar-benar bersyukur memperoleh pengalaman fisik maupun spiritual selama di Shanghai. Pengalaman yang tentu saja, unforgettable, kalau kata salah satu teman saya. Semoga pengalaman serupa bisa dirasakan teman-teman, terutama teman-teman sesama hijabi. 

Do not ever worry of what you possibly can't do and face, because it is always be possible for Allah and He will always be there for you. :)

Tips Untuk Membuat Tamu Rumah Liburan Merasa Senang Di Rumah Anda

Pernahkah Anda memiliki perasaan tidak pasti bepergian ke suatu tempat untuk tinggal bersama keluarga yang tidak Anda kenal dengan baik? ...