Showing posts with label Sharing. Show all posts
Showing posts with label Sharing. Show all posts

Sunday, December 4, 2016

MY 'SPEAK UP' MOMENT



Assalamu'alaikum.

Kamu pasti percaya bahwa setiap orang itu berbeda dan punya keunikan masing-masing 'kan? Yes, everyone is different. Setiap orang di dunia ini sebenarnya memiliki sisi kelebihan yang seringkali nggak diketahui oleh mereka sendiri. Bahkan, mereka cenderung memandang sempit tentang diri mereka, hingga terlontar ucapan, "Ah, siapa sih gue? Gue bukan apa-apa!". 

Eits, ucapan itu secara nggak sadar sebenarnya salah satu bentuk ketidakpercayaan diri alias 'nggak pe-de'! Siapa bilang kalau kamu bukan apa-apa? Bisa saja selama ini kamu memiliki sesuatu hal yang luar biasa, bakat atau semacamnya, tapi you don't have any guts to do or to say. Atau contoh lain, kamu mungkin sering merasa gugup atau nggak pe-de saat berhadapan dengan orang banyak, segan jika bertemu orang baru dan nggak berani mengajak orang berbicara lebih dulu. Well, speak up guys!

Hmm, sejujurnya, saya juga pernah merasakan momen-momen itu kok, hingga rasanya saya mau menghilang saja dan tenggelam di dasar lautan (hehe, nggak deh!). Tapi, pada akhirnya saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa saya bisa dan ya, inilah salah satu kisah percaya diri saya. :) 


Momen itu saya peroleh ketika saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidato di acara Completion Ceremony, di depan puluhan teman mahasiswa pasca sarjana serta dosen di University of Sydney November 2014 silam. Completion Ceremony merupakan acara pre-graduation ceremony yang dikhususkan bagi mahasiswa internasional di luar Australia. Kebetulan pada hari itu, pihak fakultas dan International Student Office, dalam hal ini yang menangani beasiswa saya, sama-sama mengadakan acara pre-graduation, namun dilaksanakan di dua tempat yang berbeda. Nah, khusus untuk Completion Ceremony yang diadakan oleh International Student Office, acaranya lebih diperuntukkan untuk mahasiswa-mahasiswa internasional yang memperoleh beasiswa Australia Awards.

Ketika saya ditawari untuk menjadi salah satu mahasiswa yang memberikan short speech di acara yang diadakan oleh pihak fakultas, terus terang saya speechless! Dahsyatnya lagi, saya juga dimintai tolong oleh pihak International Student Office untuk membawakan pidato di acara serupa. Ah.. bagaimana ini? Sesaat saya merasa nggak pe-de dan pengen banget menolak kedua tawaran tersebut. Tapi, teman-teman dekat saya justru menyemangati saya pada saat itu. Aduh... mau ngomong apa ya saya nanti? Saya benar-benar nggak punya bayangan. Terlebih lagi, orang tua saya akan datang ke acara tersebut. Okay, take a deep breath, Nisa! Take a deep breath!

Sehari setelah diberitahu untuk menjadi speaker, saya langsung buru-buru mencari ide alias 'contekan' untuk membuat dua naskah pidato, hehe. Saya browsing semua contoh pidato kelulusan, bahkan saya coba cari naskahnya di internet. Cari contekan di Google sebenarnya mudah tapi saya tetap harus sedikit mengedit dan menyesuaikan kembali teksnya. Setelah berhasil membuat naskah yang panjangnya pun sampai hampir dua lembar, saya bersikeras untuk latihan sebelum manggung. Meski dalam keseharian saya di Australia, saya berbicara menggunakan Bahasa Inggris, tapi yang namanya pidato dan semua audiens di saat yang sama memperhatikan, saya tentu saja nggak boleh hanya baca saja. Paling tidak saya harus latihan intonasi dan mimik agar saya bisa membawakan pidato dengan lebih menarik dan yang mendengarkan juga tertarik.

Pidato pertama di depan teman-teman satu jurusan dan ketua jurusan saya pun fokus melihat saya. Uh :D

Akhirnya saya putuskan untuk latihan di kamar apartemen, ditemani oleh beberapa teman se-tanah air. Meskipun saya coba sedikit demi sedikit untuk menghafal teksnya supaya terlihat agak natural, tapi 75% saya akan tetap mengandalkan bacaan saat di TKP nanti. Fingers crossed!

Saya bersama teman-teman satu fakultas yang hadir

Ekspresi saya saat membawakan pidato yang pertama

Saat hari H, terus terang saya tidak terlalu tegang. Mungkin karena di acara pertama, ruangan tidak terlalu besar dan audiensnya pun tidak terlalu banyak. Hanya teman-teman di jurusan Public Health, dosen beserta keluarga yang ada di ruangan tersebut. Saya bisa lihat bagaimana mereka semua memperhatikan saya, termasuk ayah dan ibu saya yang jauh-jauh datang dari Jakarta, dan tentu saja ketua jurusan saya yang kebetulan ambil posisi duduk paling depan. Alhamdulillah, saya merasa sangat percaya diri membawakan pidato saya yang pertama tersebut. Apalagi ketika ada momen tawa yang pecah saat saya menambahkan lelucon berupa kata-kata mutiara yang saya contek dari mbah Google. Wah, saya langsung merinding nggak karuan. Lega, benar-benar lega. Senang banget rasanya bisa menyelesaikan satu tugas. 

Senyum yang berhasil menutup nervous-nya saya saat memberikan pidato yang kedua :)

Mungkin ini mimik wajah saya saat tegang, hehe.

Di acara pre-graduation yang kedua berlangsung sore harinya. Kali ini peserta dan undangannya lebih banyak dari acara yang pertama. Nggak hanya mahasiswa internasional dari jurusan Public Health saja yang datang, tapi juga jurusan-jurusan lain, seperti ekonomi, bahasa dan linguistik, teknik, arsitektur, hingga ilmu politik dan kebijakan. Semua adalah teman-teman saya yang lulus di tahun yang sama dengan saya, meskipun tidak semua satu angkatan. Belum lagi keluarga dan kerabat, para dosen, pihak pemberi beasiswa dan International Office, Konsulat Jenderal RI hingga yang terpenting Wakil Rektor juga menjadi tamu undangan. Huaa... tiba-tiba kok saya merasa kepedean ya? Kok mau-maunya saya diminta maju ke depan lagi untuk kasih speech? Huaa.. I'm panic! 

Alhamdulillah, saya tetap berusaha tenang dan pada akhirnya semua itu saya lalui dengan lancar. Tapi kali ini saya tidak memberi lelucon lagi di dalam pidato saya (sebenarnya karena saya sudah kehabisan ide sih, hehe). Setelah itu, saya nggak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah membangkitkan rasa percaya diri saya hingga berhasilkan membawakan dua pidato dalam satu hari. Kalau kata quiz Serioxyl Confidence yang diadakan oleh L'orĂ©al nih, saya tuh orangnya 'Unstoppable'. Apa? Hehe.

Orang yang masuk kriteria 'Unstoppable' ternyata adalah mereka yang cukup percaya diri, namun seringkali menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri. Hmm... mungkin bisa dibilang juga sebagai orang yang cenderung perfeksionis. Tapi bagusnya, orang yang 'Unstoppable' ini akan tetap berusaha dan semangat untuk melakukan yang terbaik. Wah, am I belong to any kind of that person? Hehe. Yah, sepertinya iya. Saya memang kadang memegang standar yang tinggi untuk diri saya sendiri, sampai-sampai saya merasa kelelahan untuk mencapai standar tersebut.

Nah, kalau kamu sendiri bagaimana? Kamu kira-kira tipe orang dengan tingkat kepercayaan diri seperti apa, hayo? Semoga cerita saya ini bisa menambah rasa percaya diri kamu, ya! Yuk, dicoba kuisnya dan ceritakan ke saya kisah percaya diri kamu. Always be confident, ya! ;)

Hasil kuis #SerioxylConfidence
(http://serioxyl-confidence.com/quiz/result_shine2)
Tulisan atau post ini diikutsertakan dalam Blog Competition Serioxyl X IHB

Saturday, October 15, 2016

SOLO TRAVELING, WHY NOT?





Assalamu'alaikum.

Hai, sobat semua! Apakah kamu sering melakukan traveling? Pernahkah melakukannya seorang diri? Yes, I mean doing a solo traveling? Mungkin hal ini terdengar menakutkan, apalagi buat kaum hawa. Rasanya pergi berlibur tanpa seorang pun teman terdengar sangat tidak mengasyikkan. Apa enaknya jalan-jalan di tempat baru sendirian? Apalagi nggak ada teman yang nemenin. Ah, nggak seru. Pokoknya nggak asyik banget deh.

Saya pun pernah merasakan menjadi seorang solo traveler di Shanghai. Saat itu saya tengah menghabiskan sisa waktu beberapa jam sebelum kembali ke Sydney. Berawal dari pembatalan secara sepihak penerbangan saya dan beberapa orang penumpang lain oleh maskapai China Eastern Airlines, saya terpaksa harus menginap lagi semalam di Shanghai untuk diberangkatkan besok malamnya. Feeling lost, itulah hal pertama yang saya rasakan. Biarpun sebelumnya saya sudah berada di Shanghai dalam rangka short course selama 10 hari, tapi saat itu kondisinya berbeda. I'm alone and I know no one. Untuk menghilangkan bosan menunggu penerbangan berikutnya pada malam harinya, saya akhirnya seharian memberanikan diri menjelajahi kota Shanghai all by myself. Tapi dengan begitu saya jadi belajar akan banyak hal. (Baca lebih lengkap pengalaman solo traveling saya di sini)

Jadi, ada kalanya sekali-kali kamu perlu merasakan melakukan trip sendiri alias solo traveling. Meskipun menjadi seorang solo traveler itu memang nggak mudah karena nggak ada teman selama perjalanan, namun melakukan solo traveling memberikanmu banyak kesempatan yang mungkin nggak akan bisa terlupakan. Simak beberapa alasan berikut yang membuatmu untuk berpikir kembali bahwa nggak ada salahnya kok melakukan solo traveling. Artikel ini saya rangkum juga dari pengalaman beberapa teman dan sahabat yang juga pernah melakukan trip sendiri. Check it out! :)


Salah satu kenangan solo traveling saya di Shanghai tahun 2014 silam

Solivagant

(n.) a lone wanderer ; a solitary adventurer, someone who wanders or travels alone without company


LEBIH MENGENAL DIRI SENDIRI

Ini alasan pertama yang terlontar dari teman saya, Prisca Arfines, yang pernah beberapa kali menjalani solo traveling ke sejumlah daerah di Indonesia. Menurutnya, dengan melakukan traveling sendirian kita akan lebih paham dan sadar bagaimana sebenarnya sifat-sifat asli kita. Ya betul juga. Kita pasti akan 'dipaksa' untuk keluar dari zona nyaman karena harus menghadapi segala kemungkinan yang terjadi semua seorang diri. Kita akan menemukan banyak hal tentang diri kita yang mungkin selama ini belum pernah kita ketahui. Selain itu, tanpa sadar kita juga akan jadi lebih mengenal kekurangan dan kelebihan kita yang justru baik sebagai momen introspeksi diri.


LEBIH BEBAS MENENTUKAN TUJUAN DAN LEBIH HEMAT

Coba tanya deh ke diri sendiri, apakah seringkali kamu merasa direpotkan dengan berpergian bersama orang lain? Let's see... dengan teman atau keluarga sekali pun? Mungkin saja iya. Mengajak teman atau keluarga untuk traveling seringkali bukan suatu perkara mudah. Lamanya waktu, pilihan destinasi dan biaya selama perjalanan terkadang menjadi masalah. Dengan solo traveling, tentunya kamu bebas berpergian sesuka hati. Kamu bebas mengeskplor tempat-tempat yang kamu mau tanpa diburu-buru oleh teman atau anggota keluarga lainnya. Di samping itu, kamu bisa lebih menghemat biaya dan juga menemukan banyak momen indah yang mungkin saja akan terlewat jika kamu traveling beramai-ramai. Pokoknya kamu pengen berenang di laut, guling-guling di pantai atau belanja sepuasnya, terserah kamu deh! :)


BELAJAR LEBIH MANDIRI DAN BERTANGGUNG JAWAB

Pastinya saat melakukan trip seorang diri, kamu akan sadar bahwa nggak akan ada tempat yang bisa kamu jadikan sebagai sandaran. Apalagi nggak ada lagi kesempatan buat kamu untuk bermanja serta menggantungkan segalanya pada orang lain. Kamu harus melakukan semuanya sendiri. Kamu pun harus berani mengambil segala keputusan di setiap perjalananmu seorang diri. Di sinilah kamu dilatih untuk lebih mandiri dan dituntut untuk bisa bersikap lebih dewasa. Lebih berhati-hati dengan barang bawaan dan tetap waspada saat berada di tempat yang sebelumnya belum pernah dikunjungi adalah beberapa contoh sederhana. Mulai sekarang gunakan semua kemampuanmu dalam memecahkan masalah yang muncul selama perjalanan. Kalau nggak tahu, ya lebih baik bertanya (even ke mbah Google), daripada tersesat dan justru malah nggak bisa pulang, he he he. 


MENJADI SOSOK YANG LEBIH TANGGUH DAN BERANI

Jika kamu saja sudah berani mengambil keputusan untuk melakukan solo traveling dengan segala risikonya, berarti tandanya kamu sudah belajar menjadi sosok yang lebih tangguh dan berani. Memang pada awalnya kamu akan merasa takut untuk traveling sendiri, namun saat keberanian itu muncul, maka semuanya akan berubah menjadi perjalanan yang tak kalah menyenangkan. Selain itu, solo traveling bisa melatih rasa percaya diri kamu meskipun nggak ada satu pun teman di sisi kamu. Kamu jadi makin pede dan berani buat ngomong sama orang yang baru kamu kenal. Kembali lagi, kamu jadi seolah 'dipaksa' untuk keluar dari comfort zone kamu. Would you dare enough? 


MENEMUKAN TEMAN DAN PANDANGAN BARU


Biasanya traveling akan mempertemukanmu dengan beragam budaya baru dan petualangan yang nggak akan pernah terduga. Namun, dengan melakukan solo traveling kamu justru nggak akan kehilangan peluang untuk juga bisa bertemu dengan orang baru. Seorang solo traveler nggak akan pernah merasa benar-benar sendiri jika berani untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang baru. Toh bisa jadi kamu juga akan punya teman baru. Misalnya saja saat meminta orang lain mengambil foto untukmu. Selain itu, dari semua pengalaman yang kamu dapat selama solo traveling, kamu pun bisa menemukan perspektif baru yang mungkin saja berguna bagi kehidupanmu sehari-hari nantinya. Perbedaan kebiasaan dan pola pikir masyarakat lokal tentu akan merubah pandanganmu akan banyak hal. Jadi, brave yourself and talk to others. Siapa tahu kamu nggak hanya bertemu dengan teman baru, tapi juga belahan jiwamu? Who knows? :)


LEBIH PEKA DAN MENGHARGAI KONDISI SEKITAR

Pergi sendiri membuatmu malah nggak peka? Ups, jangan sampai ya! Justru ketika kamu melakukan perjalanan sendiri, mau nggak mau kamu otomatis akan lebih memperhatikan keadaan sekitar selain memperhatikan barang-barang milikmu sendiri. Nggak hanya itu, interaksi yang kamu lakukan dengan orang-orang yang nggak dikenal tentunya akan membuatmu lebih menghargai mereka. Kamu yang berada di lingkungan yang baru dengan sendirinya akan berusaha untuk beradaptasi. Kejadian dan kondisi tak terduga bisa setiap saat terjadi begitu saja. Oleh sebab itu, peduli dengan keadaan di sekelilingmu bisa membuatmu tetap merasa aman dan nyaman selama solo traveling

***

Jadi bagaimana? Tertantang untuk memulai perjalanan solo? Baik traveling bersama teman atau keluarga, maupun solo traveling keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentunya traveling bersama teman tetap menjadi pilihan yang bijak karena perjalanan mungkin menjadi lebih asyik dan menyenangkan. Tapi nggak ada salahnya kok untuk melakukan solo traveling jika ingin mengeksplor diri dan lingkungan lebih dalam. Apalagi buat kamu-kamu yang masih singleLet's do it!



Wednesday, September 7, 2016

THE SUNSHINE BLOGGER AWARD CHALLENGE!


Assalamu'alaikum.

Buat kamu para blogger atau yang suka nulis blog, pernah dapat The Sunshine Blogger Award? Ceritanya saya habis dapat kiriman challenge dari seorang adik beda bapak-ibu saya, dek Primadita, blogger keren yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2-nya di UGM. Awalnya bingung dan nggak ngeh, "Eh, ini challenge apa ya? He he he." Lho, ternyata semacam posting berantai dan setelah googling, udah banyak blogger yang ikutan mendapatkan award ini. Jadi, ya... anggap saja sekarang giliran saya yang mendapat hadiah 'jebakan' dari teman blogger saya itu (makasih ya Prima! *kecup)

So, here we are. I received a full package of questions, which mostly talking about.... me! What?! He he.. Sebenarnya agak ragu-ragu mikir juga ini mau jawabnya. Berasa dapat soal ujian, ujian kepribadian, he he he. Well, these are my (honest) answers :)


1.  Apa media sosial yang masih kamu pertahankan, dan kamu rasa you can’t live without?
INSTAGRAM! Mihihi. Menurut saya, medsos ini yang (setidaknya) paling honest dan paling berguna untuk sekarang ini. Kenapa? Karena Instagram sekarang udah jadi media advertising, selain sebagai media sosial. Jujur, saya seringkali kehabisan kuota internet karena medsos yang satu ini nih. Kebayang 'kan ademnya mata pas ngeliat foto-foto yang Instagram-able plus video yang lucu-lucu. Yang pasti bikin kuota cepat seret, he he he. Saya juga sering banget kepoin produk-produk tertentu, seperti produk kecantikan bahkan resep masakan dan tempat-tempat wisata kuliner yang asyik-asyik sambil melihat-lihat review dari penulisnya. Ada juga beberapa beauty dan travel blogger bahkan artis yang akunnya saya pantau terus lho. Hmm, kepoin gebetan juga pernah sih dulu, tapi setelah gebetan udah married, ya nggak lagi :D

2. Apa buku favoritmu sepanjang masa (bukan Al-Qur’an/Alkitab ya pastinya, itu sih engga usah disebut, hehe)? 
Aduh, kalau ditanya soal buku, I almost give up. Beberapa tahun terakhir, saya memang jarang banget beli buku. Terakhir kali yang dibaca buku pelajaran kuliah dan buku pinjaman berjudul "Sabtu bersama Bapak" ha ha ha. Malu banget deh untuk mengakui kalau saya jarang baca buku. Saya cenderung lebih senang membaca e-book atau browsing internet, ketimbang beli buku, meskipun kalau udah kelamaan mata jadi sepet. Tapi kalau ditanya buku favorit sepanjang masa, sementara ini yang jadi favorit adalah buku Bilik-bilik Cinta Muhammad.

Buku ini membuat saya jadi tahu lebih jauh tentang keseharian Rasulullah dan bagaimana perlakuan Beliau terhadap istri-istri Beliau. Buku ini menginspirasi siapapun yang membaca untuk mewujudkan "rumahku surgaku", dimana rumah tangga tidak hanya diisi dengan mewahnya harta, melainkan dikelilingi oleh kemuliaan akhlak dan keagungan cinta. Hmm.. setelah baca, saya jadi merindukan sosok suami atau pasangan yang bisa meneladani Rasulullah. Allahumma aamiin :)

3.  Apa momen paling membahagiakan dalam hidupmu hingga saat ini?
Hingga detik ini, saya nggak akan pernah berhenti bersyukur ke Tuhan karena telah berhasil menyelesaikan studi S2 di Australia. Apalagi bisa memboyong kedua orang tua ke sana untuk menghadiri acara completion ceremony. Kayaknya kalau diingat-ingat lagi, saya bisa seketika mbrebes mili, aahh. Pastinya senang sekaligus terharu bisa membahagiakan mereka. Apalagi momen itu ternyata bagaikan mimpi buat mereka. Meskipun sebenarnya saya berharap momen pernikahan akan jadi yang paling membahagiakan hidup. Tapi yo piye, wong saat ini belum ketemu sama sang abang/mas/uda/aa pujaan hati. Mudah-mudahan sebentar lagi ya. Aamiin.. *senyumtipis

4.  Apa film paling jelek yang pernah kamu tonton setahun terakhir?
Duh, pertanyaan ini sebenarnya bisa langsung kejawab, tapi sayangnya si Neng Prima malah kasih clue setahun terakhir. Alright, kalau film paling jelek yang pernah saya tonton akhir-akhir ini adalah Annabelle, he he. Saya kebetulan menontonnya di TV kabel. Filmnya pun sebenarnya nggak make sense banget. Lho kok iya ada boneka bisa gerak-gerak sendiri apalagi sampai bunuh orang sebagai tumbalnya. Tapi ajaibnya saya tonton filmnya sampai selesai. Meski diakhiri dengan penyesalan teramat sangat karena terlanjur kepo sama filmnya. Eh ya bener jelek ceritanya. Saya lebih baik nonton film-film yang seru, sedikit pake mikir atau yang sedikit dibumbui candaan.

5.  Kalau kamu boleh mengulang masa kuliah, adakah hal yang ingin kamu ubah?
Jawabannya banyak! Satu hal yang pasti adalah mengubah tempat tinggal menjadi lebih dekat dengan rumah Tuhan. Yup, selama melanjutkan kuliah di Australia, saya memang tinggal dekat dengan kampus, tapi sayangnya apartemen saya lumayan jauh dari masjid. Kalau pun ada mushola di kampus, hanya dibuka pas kuliah aja. Pemukiman apartemen saya bukan termasuk yang Muslim friendly. Saat bulan Ramadan saja, saya harus berpergian cukup jauh menaiki kereta menuju Lakemba, pemukiman Muslim di Sydney, untuk sekedar bisa beribadah sholat Tarawih. Itu pun saya cuma bisa lakukan saat akhir pekan, selebihnya ya sholat Tarawih di kamar atau di mushola kampus jika hari itu sedang kuliah sampai malam. Rasanya, pernah kuliah dan tinggal di negara minoritas Muslim membuat saya jadi banyak berkaca setelah kembali. "Dulu mau sholat aja sulitnya minta ampun, sekarang saat sudah kembali ke tanah air dan semuanya mudah, kamu justru malah senang menunda-nunda", pikirku. Astaghfirullah. Semoga diri ini selalu menjadi orang yang lebih baik :)

6.  Siapa blogger favoritmu?
Mas Arif Rahman!! Dia tuh blogger favorit saya banget. Kayaknya kalau baca tulisan-tulisan di blognya https://backpackstory.me/, saya jadi seketika tertarik buat cari tiket, beresin pakaian terus cus berangkat. Blognya informatif banget dan lengkap dengan segala hal tentang travelling. Tips yang sering dia kasih juga seringkali memudahkan para traveller, khususnya buat para backpacker, untuk menyiapkan perjalanan travelling mengelilingi Indonesia bahkan dunia (terima kasih ya Mas Arif buat tips pergi ke Jepangnya). Sesuai deh sama judul blognya. Yang mau tau lebih jauh soal sosok Mas Arif, sok atuh dikepoin blognya.

7.  Apa arti menulis/blogging buatmu?
Buat saya, menulis itu sama halnya seperti memasak. Dua-duanya hal yang paling saya suka. Seringkali, kalau saya nggak menemukan teman yang sedang selo untuk mendengarkan celotehan saya, saya pasti akan pindah ke lapak lain, yaitu menulis di blog. Entah itu tulisan resep, tips sampai cuma sekedar curhatan berkedok 'tulisan pengembangan diri', he he he. Blog itu udah semacam papan tulis yang bisa bebas saya tulisi dengan informasi apa aja yang bisa pembaca tahu dan pahami. Keseharian saya di kantor juga sebenarnya nggak jauh-jauh dari menulis. Menulis blog juga jadi wadah pertemanan saya di dunia maya. Secara langsung, dengan menulis saya jadi banyak kenal orang dan punya teman baru. Saya bahkan nggak nyangka dengan cuma menulis sebuah artikel tentang tips memenangkan beasiswa, saya langsung dihubungi banyak pemburu beasiswa yang kondisinya hampir sama dengan saya dulu. Menulis itu menyenangkan ya ternyata!

8. Kalau suatu hari memoir hidupmu dibuat film, siapa yang kamu pilih untuk memerankan dirimu?
Hmm siapa ya? Yang pasti dia harus artis berjilbab. Mungkin Natasha Rizki ya... hihi. Saya suka soalnya dia cantik sih, dan sekarang makin santun sejak berjilbab. Kayaknya cocok aja dia yang imut bisa memerankan saya yang juga... imut, he he. 

9.  Apa lagunya Adele yang menurutmu paling galau dan bisa bikin depresi? 
Semua lagu Adele emang bikin galau, ya nggak?! He he he, tapi sepanjang hidup saya dengerin lagu-lagunya Adele, cuma lagu "Chasing Pavements" yang pernah hampir bikin saya depresi (Hmm, sebenarnya nggak selebay itu juga sih :p). Dari judul dan liriknya aja udah mengisahkan tentang seseorang yang galau apakah harus lanjut atau tidak... Yang pasti lagu ini pernah jadi backsound kisah saya sama ex yang menurut saya paling dramatis dan menyakitkan beberapa tahun silam. Hmm.. tapi ya, itu sekarang sudah jadi masa lalu dan saya sudah bahagia dengan kehidupan saya, begitu pula dengannya. Saya cuma berdo'a semoga di album berikutnya Adele bikin lagu yang lebih menyemangati, misalnya "Chasing a Dream"? :D

10. Seandainya kamu menjadi atlet, apa olahraga yang akan kamu pilih?
Menurut saya atlet memanah itu sexy! Mungkin ada yang bilang, memanah itu bukan sebuah jenis olahraga, tapi saya yakin orang yang memanah itu pasti akan keringetan kok... mungkin karena tegang supaya bisa nembak tepat mengenai sasaran :) Saya sebenarnya pengen banget belajar memanah, seperti yang pernah diriwayatkan oleh Rasulullah SAW bahwa menembak (baca: memanah) adalah latihan permainan yang paling bagus. Menurut saya, skill memanah itu bukan sekedar memerlukan kekuatan untuk memegang busur, tetapi juga membutuhkan ketepatan dan ketelitian dalam menembakkan panahnya. Apalagi memanah itu secara tidak langsung melatih kita agar menjadi pribadi yang lebih tenang dan mudah mengendalikan emosi. Jadi, ada yang mau ajarin saya memanah? :)

11. Bagaimana pendapatmu tentang ‘perempuan harus bisa masak’? 
Kalau yang berbeda pendapat dengan saya, mohon jangan protes dulu ya! Sejujurnya saya adalah orang yang lebih cenderung mengiyakan pernyataan di atas, bahwa 'perempuan harus bisa masak'. Kenapa? Oke, sekarang jaman memang sudah modern. Perempuan akan disuguhi dengan berbagai kemudahan dan kepraktisan, apalagi dalam hal urusan perut. Rumah makan enak nan murah tentunya sudah jadi bisnis yang makin menjamur dan bagi kita yang mendewakan alasan kepraktisan tadi tentunya akan sangat bahagia. Tapi coba deh kita pikirkan, apa kita juga bisa menjamin makanan di luar sana itu juga sehat? 

Perempuan memang nggak harus bisa merajai dapur layaknya koki, tapi paling nggak perempuan perlu bisa menyiapkan makanan-makanan yang sederhana minimal untuk keluarga di rumah. Buat saya, memasak itu nggak gifted kok. Orang yang nggak pernah pegang wajan dan mengenal bumbu dapur sekali pun pada akhirnya akan bisa membuat orak-arik telor dan nasi goreng. Percaya deh. Memasak itu cuma soal latihan. Makanya saya bersyukur sedari kecil saya selalu diminta mama untuk bantu memasak, mulai dari cuma mengupas dan mengulek bawang. Saya membayangkan bahagianya saya ketika bisa menyiapkan bekal untuk anak saya kelak saat mereka pergi ke sekolah dan akan lebih membahagiakan saat mereka berkata 'Ibu, aku rindu masakan Ibu'. So sweet.. :)

Akhirnya finished! Nah, sekarang giliran saya yang akan memberikan pertanyaan. Siap-siap ya guys! ;)

Pertanyaannya sebagai berikut:

1. Apakah pekerjaan impianmu? 
2. Jika kamu dilahirkan sebagai seseorang yang superpower, lantas kekuatan apa yang ingin kamu miliki? 
3. Siapakah inspirasi terbesar dalam hidupmu hingga saat ini?
4. Makanan 'berdosa' apa yang nggak bisa kamu tahan untuk bisa sering-sering kamu makan?
5. Jika kamu dituntut harus mengganti judul blogmu, kamu akan menggantinya dengan judul apa?
6. Jelaskan satu hal yang menarik tentang dirimu!
7. Apa destinasi wisata yang ingin sekali kamu wujudkan di akhir tahun ini?
8. Apa film paling menyedihkan yang pernah kamu tonton seumur hidup?
9. Apa postingan blog yang pernah kamu tulis dan jadi favoritmu?
10. Keju dan cokelat, mana yang lebih kamu pilih?
11. Jika kamu diberikan kesempatan untuk hidup satu kali lagi, hal apa yang ingin kamu perbaiki di kehidupanmu selanjutnya?

Silahkan bagi para blogger yang saya sebutkan di bawah ini untuk menjawab sebelas pertanyaan di atas. 

Selamat!! He he.. Jangan lupa untuk men-tag saya dalam postinganmu ya. Selamat menulis dan have fun! :)

Saturday, August 22, 2015

How-to Survive in Sydney (Part 1)


Adakah di antara kalian yang ingin sekali melanjutkan sekolah ke luar negeri? Saya yakin beberapa dari kalian akan menggangguk bahkan ada yang menjawab dengan lantang, "Ya, saya!", he he he. Great, lalu apakah Australia menjadi salah satu negara destinasi kalian untuk kuliah? Kalau iya, lantas di kota manakah itu? Jika Sydney jawabannya, maka ada beberapa survival tips yang patut kalian ketahui sebagai pelajar Indonesia. 

Sydney itu kota destinasi wisata nomor satu di Australia (versi 2015's Travelers Choice Tripadvisor). Selain itu, Sydney masih masuk dalam daftar 10 negara paling nyaman untuk ditinggali. Jadi, tak heran 'kan kalau banyak warga di seluruh dunia yang ingin sekali ke sana, termasuk warga Indonesia. Nggak hanya untuk sekedar berlibur, tetapi juga untuk melanjutkan studi. Bahkan menurut data Departemen Pendidikan Australia, jumlah pelajar Indonesia di Sydney meningkat seiring waktu hingga lebih dari 15 ribu pelajar (http://www.studiesinaustralia.com/studying-in-australia/why-study-in-australia/international-students-in-australia). Wuih, luar biasa! Semoga mereka ini yang akan menjadi calon agent of change Indonesia di masa depan ya. Aamiin. :)

Oke, Sydney itu emang destinasi favorit semua orang, tapi Sydney juga terkenal sebagai kota di Australia dengan biaya hidup paling mahal. What?! Yup, itu benar banget lho! Oleh karena itu, buat pelajar Indonesia yang sudah terbiasa memperoleh barang dengan harga murah di tanah air (seperti saya, he he he), harus pintar-pintar supaya bisa tetap survive tinggal di sana. Tips berikut adalah hasil pengalaman saya selama tahun 2014, jadi maaf kalau sedikit bersifat subjektif.  Mungkin saja tidak bisa diaplikasikan oleh semua orang. Maklum, saya sekolah karena menerima beasiswa, sehingga cara hidupnya akan berbeda dengan sebagian orang. Silahkan disimak ya!


MERUBAH MIND SET RUPIAH KE DOLLAR

Img source: http://topnews.net.nz/


Yang satu ini nih, susah banget nget nget. Mungkin kamu harus tinggal paling tidak lebih dari 6 bulan supaya kamu bisa membiasakan "berhitung" dalam Dollar, he he he. Mata uang Indonesia dan Australia memang jelas berbeda, yang satu pakai Rupiah, yang satu pakai Dollar (baca: Australian Dollar/AUD). Pecahannya pun berbeda. Kalau di tanah air, pecahan Rupiah itu mulai dari 100 Rupiah, nah kalau di sana, 5 sen pun masih ada lho. Meski penggunaannya terbatas, biasanya buat change atau kembalian. Biarpun begitu, barang-barang di sana rata-rata mulai dijual dari harga 1 AUD. Bahkan di Sydney, makanan jadi yang dijual di pinggir jalan, misalnya sandwich atau sushi dijual mulai dari 2 sampai 5 AUD. Ya.. kalo diconvert ke Rupiah sekitar 30-60 ribuan. Mihil ya? Sudah pasti. Kita aja bisa dapat bubur ayam komplit enak dengan harga 7 ribu atau kurang dari 1 AUD. Jadi, jangan lantas buru-buru kita menganggap hidup kita akan menderita saking mahalnya. Justru kalau mindset perhitungan kita diubah ke Dollar, kita akan cepat menyesuaikan diri dengan kehidupan di sana, dan lama-lama mengganggap, "Ah, cuma 2 AUD.", he he he.


SUSAH NEMU MAKANAN INDONESIA? MASAK SENDIRI!


Teman saya yang habis masak tumis sayur

Kalau ini mungkin udah jadi kebiasaan banyak pelajar Indonesia yang tinggal di Australia, nggak cuma di Sydney. Tapi berhubung Sydney itu kota mahal, jadi (sangat) diwajibkan untuk masak makanan sehari-hari sendiri. Bayangkan saja, satu porsi nasi ayam kremes yang bisa kita makan di Indo dengan harga sekitar 15-20 ribu Rupiah saja, di sana bisa seharga 10-15 AUD. Widih, fantastis! Maka dari itu, buat kamu yang nggak bisa jauh-jauh dari masakan rumah (apalagi masakan emak), tapi pengen tetap bisa menikmatinya tanpa membuat kantong cepat kempes, caranya ya masak sendiri. 


Pas lagi pengen Bubur Kacang Ijo tapi nggak ada yang jual, akhirnya masak sendiri :p











Hal ini juga berlaku buat kamu yang muslim. Kita pasti sangat paham bahwa Islam di Australia adalah minoritas, jadi makanan halal kadang menjadi barang langka di sana. Ada sih makanan halal seperti masakan Timur Tengah atau India yang bisa dikonsumsi. Tapi, kalau keseringan bosen juga, he he he. Oleh karena itu, tips aman supaya kamu tetap dalam koridor agama adalah dengan memasak makananmu sendiri. Saat ini, sudah banyak kok beragam bumbu jadi masakan Indonesia yang mudah ditemukan di supermarket Asia. Lumayan lah, kalau masak sendiri, makanannya bisa untuk 1-2 hari. Hemat 'kan?


Salah satu bumbu jadi yang dijual di pasar swalayan



MICROWAVE TO THE MAX

Percobaan saya membuat mug cake menggunakan microwave

Buat pelajar yang super sibuk, tentunya memasak akan sangat menyita waktu. Oke, I agree! Tapi, kita 'kan mau berhemat, jadi kenapa harus repot? Hampir di setiap tempat tinggal mahasiswa Indonesia  (bahkan di kampus!) biasanya terdapat microwave yang kegunaannya bahkan menandingi kompor lho! He he he, maaf saya lebay. Menurut saya, microwave itu patut dijadikan sebagai barang "berharga" karena memudahkan hidup kita. Misalnya, makanan yang kita beli atau masak hari ini atau semalam, bisa kita simpan di dalam kulkas lalu dihangatkan kembali esok hari untuk bekal ke kampus. Praktis 'kan? Tinggal membeli wadah kontainer untuk menyimpan makanan di kulkas. Microwave juga bisa menghangatkan roti yang sudah hampir expired. Biasanya, 2-3 hari sebelum expired, roti tawar saya simpan di kulkas. Kalau mau dimakan, tinggal dihangatkan dulu di microwave lalu dikasih isian selai dsb  ;)


JANGAN BOSAN INTIP KATALOG BELANJA


Katalog belanja supermarket Coles




Nah kalau tips yang satu ini saya terinspirasi dari dua orang teman saya, laki-laki dan perempuan. Tapi keduanya agak bertolak belakang. Teman saya yang laki-laki alasannya karena ingin berhemat, yang perempuan karena hobi belanja, he he he. Kalau saya? Ya boleh dibilang dua-duanya. Di Sydney, ada banyak supermarket lengkap dan terkenal, di antaranya ALDI, Coles, Woolworths (atau biasa disebut Woolies), IGA, Harris Farm hingga Supabarn. Selain itu, Sydney juga memiliki beragam department store sekelas Matahari hingga Metro atau Sogo, seperti Kmart, Target, Big W, Myer hingga David Jones. Biasanya supermarket atau department store ini akan menampilkan katalog belanja mereka setiap hari atau setiap minggunya. Bahkan canggihnya, mereka juga memiliki aplikasi ponsel (apps) yang bisa dengan mudah diunduh di handphone kamu sehingga kamu lebih mudah mengakses harga-harga terkini dari barang yang dijual di sana. Kalau sudah begitu, tinggal siapin catatan kebutuhan harian apa saja yang harus kita beli deh.


SAVE THE BEST FOR THE LAST


Berakhir pekan bersama teman-teman menikmati kuliner seafood di Sydney Fish Market

Maksudnya di sini, berhematlah pada waktu sibukmu dan simpan untuk akhir minggumu. Cara ini biasanya disiasati oleh mereka yang hobi traveling atau nongkrong sambil ngopi di cafe. Jangan salah, Sydney punya banyak cafe dan tempat ngopi asyik yang jadi favorit mahasiswa Indonesia, lho. Kalau saya sih dasarnya bukan pecinta kopi, jadi jarang banget ke tempat-tempat tersebut. Biasanya saya cuma lunch atau dinner bareng teman di resto, nonton di bioskop atau jalan-jalan keliling kota. Selain itu, kamu juga bisa ajak teman-temanmu untuk berpiknik pada saat musim panas (summer). Piknik sambil barbekyu (BBQ) (atau barbie istilah slangnya) adalah hal yang sangat menyenangkan. Sebagian besar taman dan tempat umum lainnya di Sydney sudah dilengkapi dengan public BBQ lho. Kamu bisa cek disini. Kamu tinggal bawa bahan makanan dan alat masak yang dibutuhkan, termasuk alat makannya. Jadi, anggap saja hal ini adalah reward dari kerja kerasmu dalam menjaga penghematan selama kuliah. Lagi pula nggak ada salahnya kok menikmati akhir pekan. Hari-hari tidak melulu diisi dengan belajar, tetapi juga perlu refreshing supaya pikiran nggak penat dan kita juga nggak bosan. 

Kegiatan piknik sambil barbekyu di salah satu taman pinggir kota bersama teman jemaah pengajian
(img source: arsip Pengajian USYD-UTS)







So far, itu dulu survival guides di Sydney versi saya ya. InshaAllah nanti ada lanjutan tulisannya di part ke-2. Jadi stay tune terus, oke?! Jika ada di antara kamu yang mau tanya-tanya lebih jauh, boleh silahkan. Semoga bermanfaat :)
    

Tuesday, July 14, 2015

LEBARAN SEBENTAR LAGI



...
Lebaran sebentar lagi
Tak ada miskin tak ada kaya
Semua sama di depan Tuhan
Yang berbeda cuma amalnya
Semua ingin Lailatul Qadar
Semoga kita mendapatkannya



Assalamu'alaikum.

Ada yang masih ingat lirik lagu di atas nggak? Pasti di antara teman-teman ada yang masih ingat tembang Islami yang pernah dibawakan oleh Bimbo dan dipopulerkan oleh Gigi! Yup, sekarang lagu tersebut dinyanyikan kembali oleh Afgan, Andien dan Nidji. Oke, kalau sudah ingat dengan lagu dan syairnya, tahu nggak kamu makna yang tersimpan dalam lagu tersebut?

Hmm.. Sebenarnya saya sedang tidak ingin membahas lagu, tapi beberapa kalimat yang ada pada lagu Lebaran Sebentar Lagi tadi ternyata memiliki makna yang dalam lho. Contohnya penggalan syair yang saya kutip di atas. Coba deh teman-teman perhatikan, di situ disebutkan bahwa ketika hari lebaran tiba, tidak akan ada perbedaan antara si miskin dan si kaya. Semua manusia akan sama di hadapan Tuhan YME, Allah SWT. Dalam lirik tersebut bahkan disebutkan bahwa manusia hanya akan dibedakan berdasarkan amalan-amalannya saja. Hal yang menarik lainnya adalah bagaimana manusia ingin mendapatkan Lailatul Qadar. Namun, sekarang pertanyaannya, apakah kita termasuk di antara mereka yang menginginkan malam yang agung tersebut? Apakah kita juga salah satu dari mereka yang akan memperoleh tanda-tandanya?


KELEBIHAN MALAM LAILATUL QADAR
Aduh, hari kok cepat sekali ya berlalu. Tiba-tiba kita sudah memasuki hari-hari terakhir Ramadan. Kita mungkin sudah terlalu sibuk mempersiapkan kebutuhan Hari Raya, mulai dari kebutuhan pangan hingga kebutuhan sandang. Kita juga mungkin sudah terlalu khawatir memikirkan rute mana yang paling mudah dan aman untuk dilewati saat mudik nanti. Tapi, adakah dari kalian yang justru mulai merasa sedih karena sebentar lagi akan ditinggalkan bulan Ramadan?

Sahabat muslim, kita patut bersedih hati dengan semakin dekatnya kita dengan hari berakhirnya Ramadan, namun kita juga justru harus makin semangat beribadah. Pasalnya, 10 malam terakhir Ramadan merupakan di antara malam-malam yang penuh dengan keberkahan dan rahmat. Keistimewaan ini pun tertuang di dalam Al-Qur'an yaitu surat Al-Qadr. Malam Lailatul Qadar  juga sering dikenal dengan sebutan malam seribu bulan seperti yang pernah diriwayatkan oleh Rasulullah SAW.

"Ramadan telah datang kepada kalian, bulan penuh berkah. Allah telah mewajibkan kalian puasa. Pintu-pintu langit akan dibuka, pintu-pintu neraka akan dikunci, dan setan-setan akan dibelenggu oleh Allah. Di dalamnya ada sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang telah diharamkan (untuk meraih malam tersebut) berarti dia telah diharamkan (dari semua kebaikan)" (HR. An-Nasa'i)

Oleh sebab itu, malam-malam ini merupakan malam-malam yang sangat ditunggu oleh seluruh kaum Mukmin. Coba deh sahabat muslim bayangkan jika kita mendapatkan berkah Lailatul Qadar, berarti sama dengan memperoleh berkah seribu bulan lebih. Dengan kata lain, orang seperti itu memiliki kualitas yang lebih baik dan panjang daripada usia rata-rata manusia. Masya Allah! Siapa yang nggak mupeng...?

Selain itu, di dalam Al-Qur'an sendiri dijelaskan bahwa pada malam Lailatul Qadar, para malaikat akan turun ke bumi, sebagaimana yang diungkapkan dalam Surat Al-Qadr ayat 4. Terus emang kalau malaikat turun kenapa? Allah SWT menerangkan dalam beberapa ayat bahwa ketika malaikat turun, mereka akan membawa berkah bagi orang-orang yang beriman. Masya Allah, sahabat, nikmat mana lagi yang harus kita dustakan?


TANDA-TANDA MEMPEROLEH LAILATUL QADAR
Jadi sahabat muslim, agar kita menjadi salah satu orang yang beruntung tersebut, kita tentu harus memaksimalkan ibadah kita selama 10 malam terakhir Ramadan. Biasanya, malam yang terbaik adalah malam-malam yang ganjil. Namun yang pasti, waktu munculnya Lailatul Qadar tetap Allah yang tahu dan merahasiakannya. Tak seorang pun yang mengetahui kapan akan terjadi malam Lailatul Qadar. Lantas, ada nggak sih tanda-tanda yang dapat kita rasakan atau alami seandainya kita memperoleh malam yang penuh berkah ini?

Beberapa sumber pun sebenarnya sudah ada yang menjelaskan tentang hal ini. Mulai dari kondisi langit dan udara sekitar yang dapat kita rasakan, hingga kejadian-kejadian yang tak biasa seperti mendengar ucapan salam dan kata-kata lain dari Malaikat. Wallahua'lam. Yang pasti, kita hanya bisa dengan ikhlas bermunajat kepada Allah dan bersungguh-sungguh beribadah kepadaNya. Insya Allah, orang yang memperoleh Lailatul Qadar akan diberikan petunjuk oleh Allah SWT. 

So, tetap semangat menjemput malam tersebut ya! Lebaran.. eh Ramadan selesai sebentar lagi, tapi masih ada sisa satu malam ganjil terakhir. Bisa jadi itu kesempatan terakhir kita memperoleh Lailatul Qadar di bulan Ramadan tahun ini. 

Wallahua'lam :)

Sumber: Arif M. Riswanto. Mukjizat Lailatul Qadar: Menemukan Berkah pada Malam Seribu Bulan. Bandung: 2007

Tulisan ini diikutsertakan pada IHB Blog Post Challenge Ramadhan: All About Ramadhan dan Idul Fitri

Monday, March 30, 2015

27 DAN MAKNA SEBUAH STATUS



Apa yang pertama terpikirkan olehmu ketika usiamu memasuki angka 27? 

Source: www.quickmeme.com

Bagi kebanyakan pria, 27 tahun mungkin adalah saat dimana mereka telah mencapai suatu tahap pendewasaan. Akan tetapi, bagi sebagian wanita, usia 27 bisa bermakna lebih dari itu. Sebuah survei menunjukkan bahwa pria akan mencapai titik usia paling matang pada umur 43 tahun, sedangkan wanita pada usia 32 tahun. Selain itu, pria lebih lama mengalami pendewasaan dibandingkan dengan wanita, yaitu sekitar 11 tahun.

Eh, kenapa saya jadi membahas soal umur ya?
Hmm, sebenarnya tulisan ini berangkat dari pengamatan saya ketika pernah tinggal di luar negeri (baca: Australia). Pasalnya ketika saya kembali ke Indonesia bulan Januari lalu, saya merasa tiba-tiba ada yang mengganjal di benak saya. Bagaimana ya pandangan orang terhadap saya ketika saya kembali berada di tengah-tengah mereka? Sebagian besar dari mereka tentu saja menyambut saya dengan ucapan selamat dan syukur, tapi tak sedikit pula dari mereka yang tampak semangat menanyakan ini: "UDAH SELESAI YA, TERUS KAPAN NIKAH?"

Seolah-olah seperti petir di siang hari bolong (maaf kali ini saya lebay, he he he), saya bingung lho ditanya begitu. Saya pun nggak tahu mau jawab apa. Rasanya jawaban "mohon do'anya" diiringi senyum tipis sudah menjadi jawaban andalan saya (hingga kini). Tapi yang semakin membuat saya kaget adalah ketika mereka mengaitkannya dengan umur: "UMURMU MEMANG BERAPA SIH SEKARANG?" Loh, memang ada apa dengan umur saya? Apa kaitannya?


Jika dibandingkan dengan di Indonesia, pada umumnya orang asing merasa risih jika ditanya tentang perihal tersebut. Bagi mereka itu adalah hal yang sangat privasi dan kurang pantas untuk ditanyakan. Tetapi, saya pun tersadar, saya sudah kembali ke kampung halaman saya sehingga suka tidak suka, pertanyaan itu akan terus ditujukan ke saya. Namun, ketika usia saya mencapai 27 apakah memang sebuah keharusan bagi saya untuk menikah? Apakah status menikah atau tidak menjadi sangat penting?

Jujur saja, saya dulu bercita-cita menikah pada usia 25 tahun. Umum banget ya? Tetapi ternyata Tuhan lebih menginginkan saya untuk lebih dulu bersiap meniti pendidikan yang lebih tinggi di Australia. Menyesal? Tentu saja tidak! Hidup itu pilihan, dan pilihan itu tidak serta merta datang, tetapi Tuhan yang menunjukkan. Lantas, saya masih belum paham oleh makna sebuah status bagi mereka, para wanita (atau mungkin pria) yang sudah mencapai angka 27 dalam hidupnya.

Allah SWT bersabda bahwa manusia menikah jika memang sudah layak menikah.

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan" (QS. 24:32)

Di samping itu, Allah SWT juga menjanjikan bahwasanya:

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik..." (QS. 24:26)

Bahkan Allah SWT tidak menyebutkan secara rinci batas usia seorang manusia untuk menikah. Seseorang dipersyaratkan menikah hanya jika dia telah memasuki masa baligh. Oleh karena itu, usia berapa pun asalkan seseorang sudah dalam kondisi baligh maka dapat dikatakan sudah siap untuk menikah. Namun mengapa sepertinya status demikian begitu penting di masyarakat, khususnya bagi mereka wanita yang sudah berusia 25 tahun ke atas?

Hmm, hal ini mungkin terkait usia reproduktif seorang wanita yang dimulai sekitar 15 tahun. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa jika seorang wanita berhubungan seksual pada usia 20-an, maka dia akan terhindar dari risiko kanker payudara dan ovarium. Selain itu, emosi akan semakin terbentuk saat mulai memasuki usia 20 tahun sehingga menjadi bekal penting bagi kehidupan rumah tangga kelak. Menurut penelitian lain, fertilitas berangsur-angsur menurun pada usia 30-an. Tiga puluh lima tahun juga menjadi batas yang sering digunakan bagi mereka yang ingin memiliki buah hati mengingat salah satu risiko kematian ibu didasari oleh adanya 4T (4 Terlalu) yang salah satunya adalah "Terlalu Tua". Oleh karena itu, age sometimes does matter, doesn't it?! :)

Nah, mungkin karena itulah status seringkali dianggap sangat penting saat memasuki usia tersebut. Yah, saya sih sudah merasakan itu sejak lama, tapi ya bagaimana wong belum (eh, kok malah curcol, he he he). Tapi saya heran, banyak teman-teman saya di Australia tak terlalu ambil pusing akan hal ini, terlebih teman-teman wanita saya. Tetap saja saya pasti kepikiran...

So, intinya penekanan usia pada sebuah pernikahan tidak menjadi soal. Disebutkan bahwa yang penting sebenarnya dalah kesiapan fisik dan mental, yaitu mulai dari persiapan moral (kematangan visi keislaman), persiapan fisik, kepribadian, materi dan sosial. Oleh karena itu, (buat teman-teman yang masih single) jangan khawatir! Tanamkan saja agenda persiapan tersebut di dalam benak kita dan laksanakan semampu kita seraya menunggu. Perkara kapan dan di usia berapa, jawabannya kita serahkan sama Tuhan saja. Jadi, jika kamu berusia 27 tahun dan ditanya apa statusmu, bilang: TANYA SAJA SAMA TUHAN! He he he he :))

(Tulisan ini dibuat bukan dengan maksud menggurui ya, hanya memberikan motivasi saja buat teman-teman dan saya pribadi tentunya)

Semangat!

Tips Untuk Membuat Tamu Rumah Liburan Merasa Senang Di Rumah Anda

Pernahkah Anda memiliki perasaan tidak pasti bepergian ke suatu tempat untuk tinggal bersama keluarga yang tidak Anda kenal dengan baik? ...