Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

Saturday, June 30, 2018

Berburu Kuliner Maknyus di Kudus




Dijuluki sebagai kota kretek, siapa sangka kalau Kudus punya beragam kuliner yang mampu menggoyang lidah. Kudus tidak hanya terkenal dengan sotonya, tetapi ada beberapa kuliner Kudus yang terbilang unik dan menurut saya tidak ada di kota-kota lain. Dalam kunjungan kerja saya ke Kudus September 2017 silam, saya dan teman saya sengaja menyempatkan waktu berburu makanan khas Kudus yang terkenal di sana. Penasaran apa saja kuliner maknyus yang saya coba? Yuk, cari tahu di sini!


Garang Asem Gasasa


Garang asem adalah salah satu makanan khas Jawa Tengah, yaitu sejenis lauk yang dibungkus dengan daun pisang lalu dimasak dengan cara dikukus, atau dalam bahasa Jawa-nya digarang. Biasanya makanan ini menggunakan bahan dasar ayam kampung yang dipotong kecil-kecil serta memiliki citarasa asam dan pedas karena menggunakan irisan tomat hijau dan potongan cabai rawit. Hmm, pokoknya maknyus deh! Apalagi kalau disantap dengan nasi hangat. Jadi untuk kalian yang suka dengan makanan pedas, saya rekomendasikan untuk mencoba makanan yang satu ini.


Selain ayam, ada juga garang asem yang dibuat dengan jeroan ayam, ikan atau tahu. Makanan ini juga bisa kalian temukan di beberapa kota lain di Jawa Tengah, seperti Pekalongan, Demak dan Pati. Salah satu rumah makan garang asem yang terkenal di Kudus adalah Rumah Makan Garang Asem Sari Rasa atau sering disebut Gasasa. Lokasinya persis di seberang mesjid JHK. Konon katanya, rumah makan ini favoritnya Pak SBY. Kalau lagi singgah di Kudus, jangan lupa mencicipi garang asem.

RM Garang Asem Sari Rasa (Gasasa)
Alamat: Jl. Raya Agil Kusumadya No. 20, Kudus, Jawa Tengah
Jam buka: Setiap hari 07.00 - 21.30


Sate Kerbau Pak Djastro


Kuliner ini mungkin terdengar asing ya di telinga, tapi ternyata sate kerbau lebih mudah ditemui di kota Kudus dibandingkan dengan sate sapi. Asal muasalnya, pada zaman dahulu kala, banyak masyarakat Kudus yang beragama Hindu, sehingga sapi tidak disembelih dan dikonsumsi karena dianggap hewan yang suci. Hingga ketika Islam diperkenalkan oleh Sunan Kudus di kota ini, beliau kemudian melarang pengikutnya untuk menyembelih sapi sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat Hindu. Nah, sejak saat itu, daging sapi digantikan dengan daging kerbau. Di Kudus sendiri, olahan daging kerbau ternyata bermacam-macam, namun, sate kerbau inilah yang menurut saya paling unik.



Kalian mungkin membayangkan sate kerbau memiliki daging yang alot dan liat. Eits, siapa bilang? Daging sate kerbau di Kudus justru punya tekstur yang empuk, lho! Itu karena daging kerbau dicincang dan ditumbuk dahulu, sebelum diberi bumbu dan didiamkan semalaman. Setelah itu, daging baru ditusukkan ke tusukan sate lalu dibakar. Sate kerbau Kudus memiliki citarasa yang manis dan gurih, dengan aroma ketumbar dan jintan yang kuat. Sambal satenya juga sedikit berbeda karena dibuat dari campuran kacang goreng tumbuk, bawang, cabai, kentang yang dihaluskan dan kelapa serundeng. Hmm, sudah kebayang ‘kan bagaimana maknyusnya sate ini?

Baca juga Resep Se'i Sapi Saus Tiram

Salah satu warung makan terkenal yang menjual sate kerbau di kota Kudus adalah warung makan Nusantara Pak Min Djastro yang terletak di kompleks ruko KH Agus Salim. Warung ini adalah warung turun temurun dan penjualnya sendiri sudah generasi ketiga dari empunya yang pertama, yaitu Pak Djastro Djani. Untuk kisaran harga satenya, saya lupa berapa tapi yang jelas harganya terjangkau dan satenya dijual per tusuk ya, bukan per porsi. Jadi kalian bisa kira-kira berapa banyak sate yang akan dipesan sehingga pas di perut, pas juga di kantong, he he he. Oh ya satu lagi, sambal kacangnya disediakan terpisah jadi kalian bisa tambah sambal sepuasnya, dan disediakan juga acar cabai rawit buat kalian yang suka pedas.




Sate Kerbau Khas Kudus Nusantara “Pak Min Jastro”
Alamat: Ruko KH Agus Salim, Getas, Kudus, Jawa Tengah
Jam buka: Setiap hari 17.00 - 21.00


Nasi Pindang H. Sulichan


Satu lagi kuliner Kudus yang berbahan dasar daging kerbau yaitu nasi pindang kerbau. Makanan apa lagi ya ini? Jika dilihat dari penampilannya, sekilas sego pindang atau nasi pindang ini mirip dengan rawon karena kuahnya hitam menggunakan biji kluwek. Namun bedanya, kuah pindang tidak segelap kuah rawon karena  menggunakan santan encer. Nasi pindang kerbau adalah makanan khas Kudus yang tidak akan kalian temukan di kota-kota lain di Jawa Tengah. Nasi yang berisi potongan daging dan disiram kuah ini disajikan dalam piring yang telah dilapisi daun pisang. Tak lupa di atasnya diberi daun so atau daun melinjo muda. Rasanya sendiri manis dan gurih, pokoknya nikmat banget. 


Kalian bisa dengan mudah menemukan nasi pindang kerbau Kudus di pusat kuliner Taman Bojana yang terletak di samping kantor Kabupaten Kudus. Tempat ini memang terkenal sebagai sentra pedagang nasi pindang di Kudus. Ada beberapa warung di sana, namun yang selalu ramai dengan pembeli adalah nasi pindang Pak H. Sulichan. Lokasi warungnya ada di pojok kanan dalam pujasera, lurus saja dari pintu masuk arah parkiran. Warungnya terbilang sederhana karena hanya ada satu bangku memanjang di depan kios warungnya dan beberapa kursi plastik tanpa meja. Karena tempatnya tidak besar jadi kalian harus siap antri jika datang saat jam makan siang atau malam. 

Buat kalian yang tidak ingin makan daging kerbau, ada menu lain yang ditawarkan di warung Pak H. Sulichan antara lain nasi pindang ayam dan soto kudus yang juga berbahan dasar ayam. Seperti layaknya soto kudus, nasi pindang juga bisa juga dinikmati dengan “teman-teman” pelengkapnya seperti rambak atau kerupuk kulit, sate telur puyuh, perkedel kentang dan sate jeroan. Tak lengkap rasanya jika mengunjungi Kudus tanpa mencicipi nasi pindang.



Nasi Pindang H. Sulichan Taman Bojana Kudus
Alamat: Pusat Kuliner Taman Bojana, Jl Simpang Tujuh, Kudus, Jawa Tengah
Jam buka: Setiap hari 07.00 - 21.30


Ayam Goreng Mentog Hj. Kasmini


Kalian mungkin sering menemukan warung makan yang menjual ayam goreng di daerah kalian, tapi jika kalian bertanya pada masyarakat Kudus apa makanan khas di daerah mereka selain sate, soto dan pindang kerbau, mereka pasti menyebutkan salah satunya adalah ayam goreng mentog Pasar Kliwon. Saya dan teman saya tahu kuliner ini dari salah satu warga lokal yang kebetulan adalah mantan atasan teman saya. Kami ke sana saat malam hari, dan warung makan ini ternyata ramai! Konon katanya, ayam goreng mentog di sini sudah jadi langganan banyak pejabat. Bahkan beberapa artis juga sudah banyak yang mampir berkunjung ke warung makan ini.


Ayam goreng mentog Bu Hj. Kasmini menggunakan ayam kampung sehingga ayamnya empuk. Bumbunya pun meresap sempurna jadi rasanya gurih dan nikmat. Nah, kenapa dinamakan ayam mentog? Ini karena daging ayamnya yang besar. Maknyus deh pokoknya. Satu porsinya berisi nasi putih, satu potong ayam goreng kampung yang bisa kalian pilih mau bagian dada atau pahanya, serta sayur semur tahu. Sambal ayam gorengnya juga tak kalah nikmat, lho! Selain ayam goreng, menu lain yang disajikan di warung ini di antaranya ayam bakar dan ayam opor. Harga satu porsi ayam goreng berkisar antara 25 ribu hingga 30 ribu. 

Warung makan ini buka dari sore hingga dini hari. Lokasinya terletak di depan ruko Pasar Kliwon, tapi saya lupa persisnya dimana. Jika kalian sedang ada di Kudus dan kesulitan mencarinya, tanya saja pada warga setempat, pasti kalian akan langsung diarahkan. 



Ayam Goreng Mentog Hj. Kasmini
Alamat: Jl. Cempaka Barat, Pasar Kliwon, Kudus, Jawa Tengah
Jam buka: Setiap hari 17.00 - 01.00


***


Itu tadi kuliner maknyus yang saya coba saat berada di Kudus. Poko'e recommended. Sebenarnya masih ada ragam kuliner Kudus yang sayang saya lewatkan, seperti Lentog Tanjung dan Opor Panggang. Jadi buat kalian yang akan berwisata ziarah ke Kudus, atau mungkin sedang singgah sebentar di kota ini, boleh lah mampir ke tempat-tempat yang saya sebutkan tadi. Nggakbakal nyesel, deh! Selamat berburu kuliner enak Indonesia ya!


Salam hangat, 

Anissa Rizkianti

Sunday, January 7, 2018

Berburu Kuliner Khas dan Halal di Melaka



Kalau bicara soal Melaka, yang ada di benak kita mungkin adalah tentang kota bersejarah di Malaysia. Terletak di sisi selatan semenanjung Malaysia, kota Melaka menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Asia Tenggara dan dinobatkan sebagai situs warisan dunia UNESCO. Tak heran kalau kota ini punya banyak sekali hal yang bisa dieksplorasi, baik tempat wisata maupun kulinernya.

Ngomong-ngomong soal kuliner, Melaka ternyata punya segudang kuliner enak yang tak boleh dilewatkan. Konon selama berabad-abad lalu telah terjadi akulturasi budaya antara etnis Melayu, Cina, India dan Arab di kota Melaka. Itulah sebabnya, ragam kuliner di sini begitu berwarna. Saya pun penasaran untuk mencicipi kelezatan beberapa kuliner di kota ini, dan yang pasti halal. :)


Mencari kuliner halal di kota-kota besar di Malaysia, seperti Kuala Lumpur memang tidak sulit, tapi kita harus pintar-pintar untuk menemukan tempat makan halal di Melaka. Maklum saja, kuliner Melaka memang banyak didominasi oleh kuliner Peranakan atau Chinese food yang belum tentu halal. Kuliner tersebut banyak ditemukan di kawasan Jonker Street.

Tapi, tak perlu khawatir bagi wisatawan Muslim yang hendak berlibur ke kota Melaka. Beberapa ragam kuliner khas Melaka yang halal bisa ditemukan di tempat-tempat yang saya rekomendasikan berikut ini. Meskipun ada beberapa yang memang belum sempat saya datangi. Silahkan dicatat. Siapa tahu bisa jadi referensi kuliner kamu di liburan berikutnya. :)

1. Ee Ji Ban Chicken Rice Ball



Entah bagaimana sejarahnya, tapi kuliner yang satu ini hanya bisa ditemukan di kota Melaka. Kalau dilihat-lihat, makanan ini sepintas sama dengan nasi Hainan yang banyak dijual di Singapura. Menunya terdiri dari nasi gurih dan potongan dada ayam rebus atau panggang. Hanya saja yang membedakan adalah bentuk nasinya. Nasinya sengaja dibentuk bulat menyerupai bola bekel. Tak heran kalau makanan ini kemudian dinamai chicken rice ball

Di Melaka, sebenarnya banyak kedai makan yang menjual chicken rice ball, tapi umumnya tidak halal. Untuk menemukan yang halal, kamu harus pergi ke daerah Bandar Hilir, Melaka. Di sana, ada satu kedai makan yang menjual chicken rice ball halal. Namanya kedai makan Ee Ji Ban. Meskipun tempatnya tak begitu luas, kedai ini selalu ramai oleh pengunjung. Jadi siapapun yang mau ke sini harus sedikit bersabar dan rela antri untuk mendapatkan tempat duduk. 

Nasi bulatnya sendiri dijual dengan jumlah kelipatan lima. Kamu bisa memilih mau memesan 5, 10 atau 15 buah rice ball. Ayamnya pun bisa kamu pesan mix atau dua macam sekaligus - ayam yang direbus (boiled chicken) dan dipanggang (roasted chicken). Menu lain yang recommended di tempat ini adalah sup bakso ikan, sotong bakar dan tumis kangkung balacan. Maknyus! Dari segi harga, kedai makan ini juga tidak memasang harga yang terlalu mahal dan menurut saya masih relatif aman di kantong. Apalagi jika makan bersama keluarga atau teman, dijamin lebih hemat. :)

   

Setengah ekor ayam (boiled dan roasted), beserta nasi bola dan tumis kangkung belacan.

Ee Ji Ban Chicken Rice Ball
Lokasi: Jalan Melaka Raya 3, Taman Melaka Raya, Melaka, Malaysia
Buka: Senin - Minggu, pukul 10.00 - 21.30


2. Restoran Seri Nyonya - Hotel Equatorial 


Masakan khas Baba Nyonya yang ada di Restoran Seri Nyonya
(Photo credit: http://www.rebeccasaw.com/)

Jika datang ke kota Melaka, patut untuk mencoba masakan tradisi setempat yaitu masakan khas Peranakan, atau sering disebut Baba Nyonya. Masakan Baba Nyonya hadir karena bercampurnya budaya Tionghoa ke dalam kuliner Melayu. Masakan Baba Nyonya kental dengan perpaduan bumbu yang kuat, termasuk bumbu kari yang menjadi ciri khas kuliner Melayu.

Salah satu masakan Baba Nyonya yang sangat populer adalah Nyonya Laksa. Di samping itu, Ayam Pongteh juga menjadi masakan Peranakan yang ada di Melaka, yaitu sejenis semur ayam namun dimasak dengan tambahan bumbu tauco (fermentasi kedelai) dan jamur hitam. Untuk bisa menikmati masakan Baba Nyonya yang halal, kamu bisa datang ke Restoran Seri Nyonya yang terletak di dalam Hotel Equatorial, Melaka. Restoran ini adalah satu-satunya restoran Baba Nyonya yang telah bersertifikat halal.

Beragam kuliner khas peranakan bisa ditemukan di sini, mulai dari Popiah (atau lumpia), Ayam Pongteh, Mee Nyonya, ikan goreng Chili Garam, hingga dessert seperti Sagu Gula Melaka dan Cendol Durian.

Ayam Pongteh
(Photo credit: http://www.rebeccasaw.com/)

Restoran Seri Nyonya
Lokasi: Level 3, Hotel Equatorial, Bandar Hilir, Melaka
Buka: Senin - Minggu, pukul 12 - 14.30 (lunch); pukul 18.30 - 22.30 (dinner)


3. Pak Putra Tandoori dan Naan


Ayam Tandoori, lengkap dengan roti Naan isi keju dan nasi Briyani

Jika sudah bosan dengan masakan Melayu, maka masakan India mungkin bisa menjadi referensi kuliner di Melaka selanjutnya. Saya pada dasarnya suka dengan masakan India, dan restoran yang satu ini cukup menggoyang lidah saya. Restoran Pak Putra adalah restoran India yang paling ramai dan lezat di Melaka. Hal ini tidak cuma diakui oleh wisatawan asing yang datang ke Melaka, tetapi juga oleh masyarakat setempat. Saya sempat tanya ke salah satu driver Grab yang mengantar saya dan keluarga. Saya pun sudah membuktikannya sendiri, restoran ini penuh oleh pengunjung dan pelayan tampak sibuk mengantarkan makanan ke meja-meja pengunjung.

Restoran yang buka mulai petang hingga dini hari ini menyajikan menu khas India yakni Roti Naan dan Ayam Tandoori. Roti Naan adalah roti pipih yang bentuknya mirip seperti roti pita. Roti Naan terbuat dari tepung gandum yang diberikan ragi sehingga bentuknya mengembang, kemudian dimasak dengan cara ditempelkan pada oven tanah liat tradisional bernama Tandoor. Sementara Ayam Tandoori adalah sejenis ayam bakar yang rasanya pedas karena sebelumnya dibumbui dan direndam dengan campuran garam masala, yogurt, bawang putih, jahe, bubuk cabai dan lada merah. Tak heran kalau kuliner khas India mampu membangkitkan selera makan karena memang dimasak dengan rempah yang kuat. Restoran ini benar-benar mengingatkan saya pada salah satu restoran India terkenal di daerah Enmore, Sydney.

Yang tak kalah menarik dari restoran ini adalah pengunjung dapat menikmati pemandangan para pelayan restoran yang sedang menyiapkan pesanan mereka, mulai dari saat memasak Ayam Tandoori di dalam oven Tandoor, membuat Roti Naan hingga menyajikan makanan yang telah matang ke atas piring. Dapur restoran ini memang berada di luar, sehingga pengunjung dapat bebas melihat proses memasak. Sesekali ada juga pengunjung yang tak segan untuk melihat lebih dekat dan mengabadikannya dengan kamera, seperti saya.

Menurut saya, Ayam Tandoori di restoran ini memang enak dan kaya rasa. Selain itu, ayamnya juga empuk dan bumbunya meresap sempurna, jadi rasa pedasnya terasa. Sebagai pendamping si ayam, saya dan keluarga memesan Cheese Naan dan nasi Briyani. Menurut adik saya, rotinya tebal dan empuk. Kejunya juga terasa. Sedangkan saya sendiri menikmati ayam dengan nasi Briyani. Nasinya tidak terlalu kering dan rasa gurih berempahnya juga nikmat. Cocok jika disantap dengan kari sayuran yang pilihannya lumayan beragam. Oh ya, jangan lupa untuk memesan Mango Lassi yang merupakan minuman segar khas India yang terbuat dari campuran mangga, yogurt, gula dan kapulaga.

    

Pak Putra Tandoori dan Naan
Lokasi: Taman Kota Laksamana, Melaka
Buka: Selasa - Minggu, pukul 17.00 - 01.00


4. Roti Canai Awang


Roti canai lengkap dengan kari ikan Jenahak dan ikan Pari
(Photo credit: Aliaa C via https://foursquare.com/)

Satu lagi makanan yang banyak ditemui di Malaysia dan dipengaruhi oleh budaya India adalah roti canai. Roti canai juga sejenis roti pipih (flatbread) namun dipanggang menggunakan minyak. Di Indonesia, roti canai - lebih dikenal dengan roti cane atau roti maryam - dihidangkan dengan kari kambing atau domba.

Karakteristik roti ini adalah rotinya yang empuk di dalam, namun garing di luar. Di Malaysia, roti canai begitu populer dan banyak dijual di warung-warung kaki lima atau pun rumah makan mamak. Pendampingnya bisa macam-macam, bisa berupa kari ayam, kari kambing, atau hanya disantap dengan taburan gula atau susu kental manis.

Di Melaka, ada satu penjual roti canai yang konon sudah ada sejak tahun 1990-an, yaitu Roti Canai Awang. Awang adalah nama pemilik tempat makan ini. Kedai Awang memang masih sederhana dengan jumlah tempat duduk yang terbatas. Jadi jangan kaget kalau pembeli harus rela menunggu giliran untuk makan, apalagi saat akhir pekan.

Ada dua jenis roti yang disajikan di kedai ini yaitu roti canai kosong dan roti canai telur. Menurut masyarakat setempat, Roti Canai Awang memang juara, apalagi jika disantap dengan kari. Ada tiga macam menu kari yang dijual, yakni kari ikan jenahak, sotong dan pari. Meskipun tidak lagi dimasak menggunakan kayu bakar, cita rasa Roti Canai Awang pun katanya tidak berubah. Rotinya terasa tebal, tapi tetap garing di luar. Sayang, saya tidak sempat mampir ke kedai roti ini.

Roti canai kosong dan roti canai telur
(Photo credit: Jenice Loo via https://www.google.co.id/)

Roti Canai Awang
Lokasi: Jalan Delima 10, Taman Bukit Melaka, Melaka
Buka: Selasa - Minggu, pukul 07.00 - 11.00


5. Cendol Durian Bibik House



Setelah puas menyantap makanan-makanan berat tadi, selanjutnya adalah mencicipi hidangan pencuci mulut khas Melaka, yakni cendol durian. Buat penyuka durian, minuman yang satu ini tidak boleh sampai ketinggalan. Cendol durian paling pas kalau dinikmati saat siang hari, atau ketika panas terik. Tenggorokan jadi terasa segar kembali.

Tak sedikit kedai penjual cendol di Melaka. Namun, satu yang sudah melegenda adalah Cendol Durian Bibik House yang berada di kawasan kuliner Jonker Street. Konon, cendol di kedai ini sudah turun temurun dan rasanya tak pernah berubah dari waktu ke waktu. Ada dua macam cendol yang dijual yaitu cendol biasa atau original, dan cendol durian yang rasanya maknyus.

Berbeda dengan cendol di Indonesia, cendol di Melaka disajikan dengan cara yang cukup unik. Mangkuk pertama-tama diisi dengan kacang merah, kemudian ditutup dengan es serut yang menggunung. Setelah itu, es disiriam dengan santan kental dan gula merah, sedangkan cendolnya sendiri ditaruh di tempat kecil secara terpisah. Cara makannya juga berbeda karena kita harus menunggu hingga esnya, lalu diaduk bersama dengan cendolnya.

Bagi saya, untuk rasa, cendol durian terasa jauh lebih enak dibandingkan yang cendol yang original. Berbeda dengan cendol durian yang dijual di dekat kantor saya di Jakarta, cendol durian di Melaka menggunakan daging durian  tanpa biji yang diletakkan di antara gunungan es serut. Meskipun rasanya enak, saya justru lebih menyukai  cendol versi Indonesia. Di Melaka, cendolnya terasa agak tebal dan kurang lembut.

Di kedai Bibik House, semangkuk cendol original dihargai 6 RM, sedangkan yang durian harganya lebih mahal 1 RM. Selain cendol, kedai ini juga menjual aneka makanan ringan dan snack khas Melaka, salah satunya pineapple tart, atau di Indonesia juga disebut dengan kue nastar.

    



Cendol Durian Bibik House
Lokasi: Jalan Hang Jebat, Melaka
Buka: Senin - Minggu, pukul 10.30 - 20.00 / 24.00
.

Tuesday, October 31, 2017

Serunya Bermain Air di Hawai Water Park Malang



Halo sobat travelers,

Lagi merencanakan liburan akhir tahun ke Malang? Tapi bosan ke tempat yang gitu-gitu aja dan nggak ada tantangannya? Nggak perlu bingung dengan destinasi liburan bareng keluarga atau mau solo traveling di Malang, karena ada banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Salah satunya adalah Hawai Water Park yang terletak di Perumahan Graha Kencana, Jl. Raya Karanglo, Singosari, Malang. 

Sejak dibuka beberapa tahun lalu, tempat wisata di Malang ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, tidak hanya wisatawan lokal, tapi juga para wisatawan dari luar kota Malang, bahkan turis asing. Mau tahu apa yang membuat tempat wisata ini begitu populer? Yuk, simak ulasannya berikut ini.


BANYAK WAHANA

Nggak heran kalau Hawai Water Park jadi 'jujugan' atau tujuan tempat wisata di Malang, karena ada banyak wahana yang bisa kamu temukan di dalamnya. Seperti namanya, semua wahana di Hawai Water Park ini berbasis air, jadi kamu bisa puas bermain air di sini. Wahana Tsunami adalah wahana air yang menjadi andalan. Kalau kamu takut tergulung ombak Tsunami yang benar-benar menantang nyali, coba deh main seluncur air dengan papan warna-warni. Sama serunya kok! 

Sumber: hawaiwaterpark.com

Sumber: hawaiwaterpark.com

Selain itu, kamu juga bisa bersantai menyusuri Lazy River yang bisa membawamu berkeliling kawasan Hawai Water Park di atas air yang tenang. Yang tak kalah menarik adalah kursus Scuba atau menyelam yang merupakan kursus Scuba pertama di Malang. Kamu bisa mengikuti kursus menyelam di kolam dalam (diving) yang disediakan khusus di Hawai Water Park, baik untuk tingkat dasar maupun tingkat profesional dengan sertifikat yang bisa kamu gunakan untuk mengambil lisensi ke level yang lebih tinggi.


JAM BUKA

Hawai Water Park buka setiap hari, yaitu sejak pukul 08.00 sampai 16.00 pada hari kerja, dan 08.00 hingga 17.00 pada akhir pekan dan libur nasional. Jadi, kamu bisa mengunjungi Hawai Water Park kapan saja, tanpa harus terbentur waktu di saat weekend. Mau cuti kerja beberapa hari cuma untuk main air di sini? Boleh banget, he he he.

Harga tiket masuk ke Hawai Water Park juga lumayan terjangkau lho! Cukup membayar Rp 75.000,- untuk hari biasa (weekday), atau 
Rp 100.000,- untuk akhir pekan dan hari libur nasional (weekend), kamu sudah bisa puas seseruan dan main air di Water Park ini. 

Waktu terbaik untuk berkunjung ke Hawai Water Park adalah pada pagi hari atau setelah tengah hari. Karena di waktu-waktu ini, kulitmu nggak bakal gosong terkena paparan sinar matahari yang menyengat. Kamu tentu nggak mau dong setelah asyik main air di Hawai Water Park, kamu justru mengalami sunburn? Jadi jangan lupa juga untuk selalu menggunakan sunblock minimal 15 menit sebelum bermain air, agar mencegah kulitmu tidak terbakar oleh sinar matahari.



FASILITAS

Di dalam Hawai Water Park, kamu bisa mengandalkan loker yang tersedia untuk menyimpan barang berharga kamu. Kamu bisa menyewa loker single ataupun untuk keluarga yang ukurannya lebih besar.

Selain itu, terdapat juga kamar bilas, tempat ibadah bagi umat Muslim yang ingin shalat, serta titik-titik tempat peristirahatan untuk keluarga pendamping atau yang tidak ikut bermain ke dalam air. Toilet pun mudah dijangkau, jadi kamu nggak perlu bingung mencari ketika mendadak harus ke kamar kecil.

Kalau kamu lapar, nggak perlu khawatir! Aneka penjual makanan yang ada di dalam Hawai Water Park siap mengisi perutmu yang kelaparan setelah bermain air. Namun, tolong diingat ya bahwa pengunjung dilarang membawa makanan dan minuman dari luar.


MALANG NIGHT PARADISE

Keseruan Hawai Water Park ternyata tidak hanya itu. Setelah matahari terbenam dan semua wahana air sudah tutup, kawasan ini berubah menjadi tempat wisata penuh lampu yang amat cantik, namanya Malang Night Paradise.

Sumber: dakatour.com

Tiket untuk masuk ke Malang Night Paradise berbeda dengan Hawai Water Park, namun tidak terlalu mahal kok. Tempat ini juga buka setiap hari, dan paling cantik jika dikunjungi saat malam hari dan langit sudah benar-benar gelap.

Berbagai sudut cantik yang terbuat dari lampu dan lampion di kawasan Malang Night Paradise menjadi daya tarik tersendiri. Kamu bisa menemukan spot-spot foto yang sangat Instagram-able, jadi cocok buat ngeksis atau bermain seru dengan keluarga.

Sumber: trivindo.com

JALAN MENUJU JALUR HAWAI WATER PARK

Buat kamu yang tertarik untuk mengunjungi tempat wisata di Malang ini, lokasi Hawai Water Park berada tepat sebelum masuk ke kawasan kota. Tepatnya di daerah Karanglo, bagian utara Kota Malang yang menjadi perbatasan antara kota Malang dengan kabupaten Malang.

Jika kamu naik kendaraan umum, kamu harus menuju terminal Arjosari terlebih dahulu, kemudian oper menggunakan taksi atau ojek menuju Hawai Water Park. Karena lokasinya yang berada di dalam perumahan dan cukup menguras tenaga jika ditempuh dengan berjalan kaki, maka disarankan agar menggunakan jasa ojek untuk masuk ke dalam tempat wisata ini.

Dengan berbagai wahana dan keseruan kegiatan selama di Hawai Water Park, nggak heran tempat wisata ini jadi favorit keluarga di Malang hanya dalam waktu singkat. Penasaran dan tertarik untuk ikutan seru-seruan di sana? 

-->

Sunday, October 1, 2017

Wisata Terapung di Lok Baintan



Ada yang sudah pernah ke Kalimantan Selatan? Kira-kira apa ya yang terkenal dari Kalimantan Selatan? Batu akik? he he he. Batu akik atau permata asal Kalimantan Selatan - atau lebih tepatnya Martapura - memang tersohor sampai ke pelosok nusantara. Tapi, sebenarnya banyak hal lain yang unik dari Kalimantan Selatan.

Kamu tentu tahu 'kan kalau Kalimantan Selatan memiliki satu sungai terpanjang di Indonesia? Yup, sungai Barito. Sungai ini adalah sungai terpanjang ketiga di Indonesia setelah sungai Kapuas dan Mahakam. Sungai Barito menjadi sungai terpenting di Kota Banjarmasin, karena merupakan salah satu pusat perdagangan dan perekonomian warga. Kenapa begitu? Di sungai ini terjadi transaksi jual beli yang tidak biasa karena dilakukan di atas air. Tak heran lantas disebut sebagai pasar terapung.

Konon, dulu sebenarnya ada banyak pasar terapung di Kalimantan Selatan. Bahkan salah satunya sempat menjadi tempat syuting iklan 'RCTI Oke', lho! (mungkin kamu masih ingat ya?) Pasar ini dinamakan pasar terapung Muara Kuin. Namun, makin ke sini, banyak pasar yang akhirnya 'punah' . Sekarang hanya tersisa dua yang masih bertahan, yaitu Muara Kuin dan satu lagi Lok Baintan. Lokasi keduanya cukup berjauhan - Muara Kuin sendiri berada di Kota Banjarmasin, sementara Lok Baintan ada di Kabupaten Banjar. Meskipun Muara Kuin pernah menjadi primadona, tapi geliatnya sudah tidak seperti dulu. Pasar terapung Lok Baintan kini justru tengah 'naik daun'. Bahkan menurut orang Banjar sendiri, pasar terapung ini lebih banyak dicari oleh  wisatawan dari luar Kalimantan Selatan.

Suasana pasar yang sudah mulai ramai di kala hari sudah mulai terang

Berbeda dengan Muara Kuin yang berada di hulu sungai Barito, pasar terapung Lok Baintan berada di sungai Martapura. Untuk sampai ke pasar terapung Lok Baintan, kamu bisa menempuh jalur sungai selama 45 menit. Waktu mau ke sana, saya kebetulan sedang dalam perjalanan dinas di Kota Banjar Baru. Setelah dipikir-pikir, rasanya sayang banget kalau sampai tak sempat datang ke Lok Baintan. Dalam waktu yang terbilang mepet, saya dan kelima teman dinas saya akhirnya memutuskan berkunjung ke Lok Baintan sebelum melakukan tugas penelitian. Mengingat kami berenam menginap di Banjar Baru, kami pun harus menempuh jalan darat ke Banjarmasin terlebih dahulu, baru menyambung dengan menaiki perahu klotok ke Lok Baintan.

Alhamdulillah, perjalanan darat ke Banjarmasin hanya ditempuh kurang lebih 45 menit karena jalanan terbilang masih sepi. Sesampainya di Banjarmasin, kami kemudian harus menyewa perahu klotok. Perahu klotok adalah semacam perahu kayu kecil bermotor yang bisa diisi hingga 10 orang. Salah satu dermaga yang biasa melayani perjalanan sungai menuju Lok Baintan adalah dermaga bawah jembatan di daerah Banua Anyar. Lokasinya tepat di Rumah Makan Soto Bang Amat. Harga sewa perahunya sendiri Rp300.000,-. 

Suasana saat berangkat menuju Lok Baintan, langit masih gelap



RM Soto Bang Amat yang jadi dermaga perahu-perahu menuju Lok Baintan

Perahu klotok kami (kanan) yang terparkir di dermaga

Setelah menyempatkan diri sholat subuh di langgar dekat dermaga, saya dan teman-teman berangkat menuju Lok Baintan dalam kondisi langit masih gelap. Udara waktu itu juga masih dingin dan belum ada pemandangan yang bisa dilihat, he he he. Ketika sampai di pasar terapung jam 6 pagi, kami pun disambut dengan wajah ceria ibu-ibu penjual sayur dan buah. Sambil menaiki perahu kayu atau jukung, dalam bahasa Banjar, mereka satu per satu menghampiri klotok kami. Beberapa di antara mereka ada yang menggunakan topi capil, bahkan ada yang memoles wajahnya dengan bedak dingin. Lucu deh, he he he.

Ibu-ibu itu ternyata ramah banget dan mereka tidak bosan menawarkan barang dagangannya kepada kami dengan wajah tersenyum. Mereka bahkan tidak segan menawarkan kami untuk berfoto di atas perahu mereka sambil memegangi barang jualan. Kalau mau pakai topi capilnya si ibu juga boleh banget kok. Mungkin itu juga trik si ibu untuk menggaet pembeli. 

Suasana pasar yang mulai ramai dengan ibu-ibu penjual

Para pedagang pasar terapung yang selalu ceria dan tersenyum

Sensasi menaiki jukung bersama ibu penjual, benar-benar pas di badan, he he

Saya dan teman-teman dinas selama di Banjar Baru - dua orang bapak itu adalah penduduk asli Banjar

Dagangan yang dijual ibu-ibu ini bermacam-macam, mulai dari sayur, buah, ikan asin, ikan basah, hingga panganan nasi bungkus dan kue khas Banjar. Yang tak boleh terlewat untuk dibeli adalah buah-buahan khas Kalimantan dan ikan asinnya. Salah satu yang jadi incaran saya adalah jeruk siam Banjar yang bentuknya hijau besar dan rasanya seperti jeruk sunkist. Manis dan segar. Kalau kamu berani, kamu juga bisa mencicipi buah khas Kalimantan lainnya, seperti buah mentega, mundar dan kasturi. Rasanya unik. 

Buah-buahannya dijual dalam keranjang, jadi tidak ditimbang. Satu keranjang jeruk dihargai Rp50.000,-, sedangkan seplastik ikan asin dibandrol Rp25.000,-. Mahal memang, tapi tak apalah, hitung-hitung bagi rejeki ke mereka. Mereka kebetulan memetik buah dari kebun yang berada di luar desa. Kalau mau menawar, tentu boleh saja. Tapi sepanjang saya nawar, ujung-ujungnya tetap tidak dikasih sama si ibu, he he he. Akhirnya saya putuskan hanya membeli setengah keranjang jeruk dan seplastik ikan asin untuk dibawa pulang. Lumayan, mungkin kalau ditimbang jeruknya bisa sampai 1,5 kilo. Barang dagangan pun dibungkus menggunakan tas anyaman... sangat tradisional.

Buah mundar, manggis mini yang rasanya asam manis

Hasil belanjaan saya dari Lok Baintan

Menikmati jeruk siam Banjar yang manis dan segar saat kembali ke hotel

Oya, perlu diingat ya bahwa pasar terapung ini hanya buka saat pagi hari saja, yaitu sejak sekitar jam 6 hingga jam 9 pagi. Jadi jangan sampai telat! Waktu yang paling pas untuk datang ke pasar terapung Lok Baintan adalah sekitar jam 6-7 pagi. Di jam-jam ini, pedagang sudah banyak yang berkumpul. Jangan lupa membawa uang tunai secukupnya. Kalau mau ikutan pakai sistem barter seperti penduduk lokal, mungkin juga tak apa, he he. Lalu setelah puas berfoto dan berbelanja, kamu juga bisa sekalian sarapan di atas perahu. Kamu bisa membeli nasi kuning dan aneka kue khas Banjar seperti bingka, apang dan kue pisang. Tapi kalau kamu lebih senang membeli sarapan saat kembali ke Banjarmasin, jangan lupa untuk mampir dulu di Soto Bang Amat ya, biar jadi pelengkap perjalananmu di Lok Baintan. Semoga bisa menyusul ya! :)


Wednesday, June 7, 2017

Berguru di Negeri Kincir Angin




Assalamu'alaikum.

Dua bulan vakum dari aktivitas blogging karena mengurus segala persiapan studi ke Belanda ternyata benar-benar membuat saya rindu setengah mati sama blog ini. Rasanya kok seperti ada yang hilang ya. Tekad saya untuk tetap menulis selama di sana pun pada kenyataannya kandas karena alasan kesibukan. Tiga minggu di Amsterdam memang terasa begitu melelahkan bagi saya. Tapi alhamdulillah-nya, rasanya semua terlewati begitu cepat. Kalau kata orang, itu tandanya saya bisa beradaptasi. Nggak tahu juga, mungkin ada benarnya, meskipun saya mengalami lagi yang namanya cultural shock

Selama di Belanda, saya mengikuti short course mengenai Sexual and Reproductive Health Rights Policy, Governance and Financing di sebuah perguruan tinggi di Amsterdam bernama Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT), atau sering disebut dengan Royal Tropical Institute. KIT mungkin memang bukan salah satu perguruan tinggi yang memiliki rangking 50 besar dunia, tapi setelah saya googling, ternyata universitas ini memiliki reputasi yang mumpuni di dunia kesehatan internasional, terutama dalam bidang health system and development. KIT juga ternyata memiliki sejarah kerjasama yang cukup panjang dengan World Health Organisation (WHO) dalam berbagai proyek mengenai health system. KIT bahkan menjadi WHO Strategic Centre of Expertise untuk beberapa isu kesehatan, termasuk HIV dan AIDS, serta menjadi WHO Collaborating Centre for Research, Training and Development untuk bidang Human Resources of Health. 



Saya, saat baru pulang sekolah :)

Gedung KIT tampak dari depan

Suasana di dalam hall utama KIT yang sangat bergaya Eropa klasik


Teman-teman sekelas saya di program SRHR policy

Hari-hari saya saat menyelesaikan tugas akhir, ditemani secangkir kopi espresso

Ngomong-ngomong soal program studi, saya mengambil studi tentang kebijakan kesehatan karena tanpa diduga program studi yang saya apply di awal, yaitu Sexual and Reproductive Health Rights: Organising Effective Response tidak jadi dibuka. Qadarullah, semua mungkin sudah atas ijin Allah. Kurang lebih tiga bulan sebelum keberangkatan, pihak universitas tiba-tiba meng-email saya tentang perihal pembatalan tersebut. Rasa kecewa tentunya ada, tapi setelah pertimbangan yang cukup panjang, pada akhirnya saya menerima tawaran mereka untuk mengikuti program lain yang akan dilaksanakan di waktu yang sama. Alhamdulillah, pihak Stuned pun setuju dan tidak mempermasalahkan. Jujur saja, kebijakan kesehatan selama ini adalah topik yang tidak terlalu saya minati. Namun, yang membuat saya tertarik tak lain karena adanya mata kuliah mengenai analisis kebijakan dan penyusunan policy brief, yang saya yakini akan sangat berguna ketika saya kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai seorang peneliti.



Menariknya belajar di KIT adalah metode pembelajarannya yang menurut saya inovatif. Perkuliahan tidak hanya diisi oleh pembelajaran tatap muka antara dosen dengan mahasiswa, tetapi juga melalui metode lain seperti group quiz, debat, tutorial, role playing (atau bermain peran) dan journal club. Mau nggak mau, saya mesti mempersiapkan diri sebelum masuk ke kelas dan diusahakan sudah membaca terlebih dahulu materi-materi yang akan dibahas di dalam setiap sesi, khususnya saat sesi debat atau journal club. Tugas akhir yang diberikan pun adalah membuat policy brief yang sesuai dengan topik kesehatan reproduksi dan seksual. Dalam tugas ini, saya dan kawan-kawan tidak hanya diminta menyelesaikan policy brief kami masing-masing, tetapi juga harus memberikan feedback satu sama lain yang ternyata berguna sekali dalam proses penyempurnaan policy brief kami

Albert Cuyp market - open market di Amsterdam favorit saya yang hanya tutup pada hari Sabtu

Salah satu open market di kota Haarlem

Gluten-free stroopwafels yang saya temukan di pasar kaget di Haarlem

Salah satu toko yang menjual segala jenis produk gluten-free

Produk-produk bebas gluten yang dijual, mulai dari roti, tepung, biskuit, dll

Hidup di negeri orang memang selalu memiliki tantangan tersendiri. Meskipun hanya tinggal sebentar, saya juga perlu berdaptasi selama di Belanda - mulai dari mengenal bahasa dan kebiasaan warga lokal, menyesuaikan waktu tidur dan ibadah shalat, hingga mencari makanan yang ramah untuk orang Muslim seperti saya. Kendala bahasa saat berbelanja ke supermarket serta bersepeda layaknya warga lokal adalah dua contoh kesulitan yang sempat saya alami ketika baru tiba pertama kali di Amsterdam. Maklum, bahasa Belanda yang saya tahu hanya sebatas ucapan terima kasih, selamat pagi dan sampai jumpa, hehe. ðŸ˜„. Di supermarket, misalnya, hampir seluruh produk makanan dan minuman dijual dalam bahasa lokal. Dengan berbekal kamus yang ada di ponsel, saya berusaha mengartikan kandungan bahan yang ada di dalam setiap produk agar tidak salah tafsir. Sebenarnya sebagian besar warga Belanda juga bisa berbahasa Inggris, namun tetap saja, ada hal-hal lucu dan sedikit 'menjengkelkan' yang terjadi karena kendala bahasa, seperti saat saya salah membeli hati ayam karena mengira sosis ayam, salah memilih kasir karena tak bisa membaca petunjuk bahwa kasir tersebut tidak menerima pembayaran cash, hingga gagal berbelanja di sebuah halal butcher yang penjualnya ternyata berkebangsaan Turki tapi sama sekali tak bisa berbahasa Inggris.😊😄.

Meski begitu, hal membahagiakan yang saya rasakan ketika tinggal di Belanda salah satunya adalah kemudahan menemukan produk makanan bebas gluten baik di supermarket maupun restoran di Amsterdam dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan di Indonesia. Meskipun saya harus melihat dari segi kehalalannya juga, tapi paling tidak saya bisa dengan aman mengkonsumsi berbagai macam roti dan makanan manis khas Belanda yang sarat akan gluten, contohnya stroopwafels, poffertjes dan pancake. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan sehari-hari warga Belanda untuk menikmati roti saat sarapan di pagi hari, baik menggunakan mentega dengan topping irisan keju, coklat meises (sprinkles), sirup ataupun selai. Menariknya, saya jadi bisa dengan mudah menemukan roti bebas gluten di kota ini, serta membeli berbagai bahan makanan seperti pasta dan tepung gluten-free di toko khusus yang menjual produk-produk tersebut. 

Rijksmuseum yang merupakan salah satu museum terbesar di kota Amsterdam

Amsterdal Centraal station, stasiun tersibuk di kota Amsterdam

Salah satu sudut pemukiman warga di kota Haarlem

Ciri khas bangunan rumah di kota Amsterdam, termasuk rumah terapung (houseboat)

Bangunan-bangunan yang didirikan di atas kanal di kawasan Damrak, layaknya bangunan di kota Venice
Weekend atau akhir pekan tentunya adalah saat yang ditunggu-tunggu untuk refreshing sambil melakukan plesiran ke kota-kota di sekitar Amsterdam. Meskipun tidak jadi mampir ke Lisse dan mengunjungi taman tulip di Keukenhof karena musim bunga yang sudah habis, alhamdulillah saya masih bisa berplesir ke beberapa kota di sekitar Amsterdam, seperti Haarlem, Volendam dan Zaandam. Kalau dihitung-hitung, Belanda sebenarnya memiliki banyak tempat wisata yang menarik. Kota Zaandam saja misalnya, memiliki sebuah desa kincir angin bernama Zaanse Schans, yang sekaligus menjadi tempat produksi coklat. Perjalanan menuju ketiga kota tersebut pun dapat ditempuh menggunakan bus atau pun kereta antar kota (intercity) dengan jarak tempuh tak kurang dari 1,5 jam. Bagi saya, mengelilingi Belanda dan berkunjung ke wilayah perdesaannya sudah sangat menyenangkan.

Kota Amsterdam sendiri sebenarnya juga menawarkan kegiatan wisata yang tak kalah menarik. Tercatat ada lebih dari 90 museum di kota Amsterdam. Beberapa di antaranya merupakan museum yang sudah mendunia, seperti museum Van Gogh, Anne Frank House, Rijks museum dan Royal Palace. Selain itu, Amsterdam memiliki kanal sepanjang lebih dari 100 km yang menjadikan kota ini dikenal dengan sebutan Venice of the North. Menyusuri kanal di Amsterdam menjadi salah satu kegiatan wisata yang wajib, lho! Untuk urusan belanja, Amsterdam juga memiliki sejumlah open market yang menjual berbagai macam barang kebutuhan, mulai dari sayur dan buah-buahan segar, boga bahari, pakaian, sepatu, barang kebutuhan rumah tangga hingga barang antik, dengan harga yang relatif terjangkau. Buah tangan atau souvenir khas Belanda juga bisa ditemukan dengan mudah. Open market ini layaknya pasar kaget di Indonesia, yang buka pada hari-hari tertentu. Pasar ini tentu bisa jadi pilihan bagi para shopaholic. 

Pemandangan kota Haarlem di sepanjang kanal

Wisata di sekitar Edam, Volendam dan Marken yang dapat dijangkau menggunakan bus dengan tiket harian

Suasana pedesaan di kota Broek in Waterland yang sangat asri dan menenangkan

Pemukiman warga di daerah pedesaan di kota Broek in Waterland

Kota nelayan yang sangat sibuk di Volendam

Suasana di kota Marken, terletak di pulau kecil yang berada di tenggara kota Volendam

Beberapa kincir angin yang terdapat di desa Zaanse Schans

***

Itu tadi sebagian cerita mengenai pengalaman saya saat berguru di negeri kincir angin, Belanda. Saya sekarang paham bahwa pengaruh kolonialisme Belanda terhadap Indonesia sungguh besar. Begitu pula sebaliknya, Indonesia juga memberikan banyak pengaruh pada sebagian budaya dan tradisi di negeri van oranje ini. Terbukti dari sejumlah makanan khas Indonesia yang telah menjadi makanan sehari-hari warga Belanda, bahkan sebagian dianggap makanan mewah karena harganya yang selangit. Namun demikian, saya akui Belanda memang negara yang nyaman untuk ditinggali. Tak heran kalau banyak sekali warga Indonesia yang menetap di sana.

Jadi, apakah kamu juga tertarik kuliah di Belanda? Ayo raih kesempatanmu untuk bisa meraih pendidikan di negeri oranye. Tak usah khawatir dengan biaya pendidikan karena kini sudah banyak beasiswa pendidikan ke Belanda yang disediakan bagi mahasiswa Indonesia, salah satunya beasiswa Stuned. Semoga cerita saya bisa menginspirasi teman-teman pembaca semua. Sampai jumpa di artikel saya berikutnya!


Tips Untuk Membuat Tamu Rumah Liburan Merasa Senang Di Rumah Anda

Pernahkah Anda memiliki perasaan tidak pasti bepergian ke suatu tempat untuk tinggal bersama keluarga yang tidak Anda kenal dengan baik? ...