Thursday, November 28, 2013

UNTITLED


Bisu.

Aku bisu.
Tak mampu berkata.
Tak sedang ingin berucap.
Intinya aku ingin bisu!

Kali ini saja, tapi.
Bukan esok hari, lusa, minggu depan, bulan depan
Atau selamanya.
Pokoknya hari ini!

Bisu karena aku ingin diam.
Bisu karena aku ingin dengar.
Bisu karena aku ingin berpikir.

Mungkin bukan saatnya lagi aku bicara 
Atau menangis, bahkan meraung

Aku ingin kamu,
Yang bicara!
Satu patah kata saja...

'Aku mencintaimu..'


Monday, June 17, 2013

HOW TO WIN ADS/AAS SCHOLARSHIP

Dear all. Dua hari yang lalu saya merasa lega karena pada akhirnya saya bisa mencurahkan pengalaman dan inspirasi kepada sejumlah alumni dan adik-adik mahasiswa FKM UI di acara Sharing Beasiswa ADS/AAS. Sungguh perasaan yang bahagia bisa menyalurkan semangat yang pernah saya rasakan setahun yang lalu, tepat ketika saya mempersiapkan segala sesuatu dalam perjuangan saya meraih beasiswa ADS/AAS. 

Di acara berdurasi sekitar 2 jam itu, saya dan rekan saya, bang Jerico F. Pardosi telah memberikan berbagai informasi yang tentunya bermanfaat seputar beasiswa ADS/AAS serta tips bagaimana 'memenangkan' beasiswa tersebut. Sesi pertama tentu saja diisi oleh bang Jeri. Sebagai senior dan pendahulu saya sesama penerima beasiswa ADS/AAS, beliau sangat pantas menjelaskan hal-hal mengenai gambaran beasiswa ADS/AAS dan perkuliahan di Australia. Sedangkan saya ambil posisi sebagai pemberi tips dalam meraih beasiswa tersebut (slidenya bisa dilihat di sini). Tapi kembali lagi bahwa usaha yang pernah saya lakukan tentu bisa berbeda dari usaha teman-teman pejuang yang lain. Saya pun yakin ada berbagai tips di luar sana yang mungkin sekali tidak sama dengan yang saya jelaskan waktu itu, tapi pada dasarnya itu semua merupakan bagian dari pengalaman saya, dan ketika saya dinyatakan berhasil, tak ada salahnya untuk berbagi.



Tentu peserta acara yang hadir lebih dari cukup dari apa yang sebelumnya saya bayangkan. Saya melihat antusiasme dan rasa keingintahuan mereka terhadap beasiswa ADS/AAS. Hampir sebagian besar memang masih menjabat sebagai mahasiswa, ada juga yang alumni, tapi saya yakin info seperti ini bisa kapan pun kita bagikan tak memandang apakah mereka yang akan menerima masih duduk di bangku kuliah atau sudah lulus. Intinya adalah persiapan dan acara ini merupakan bagian dari persiapan mereka. Semoga ya.. hehe.

Nah, kurang rasanya kalau saya tidak membagikan hal-hal yang sudah saya sampaikan tersebut di blog ini. Berikut adalah tips saya tentang bagaimana cara memenangkan beasiswa ADS/AAS. Tips ini tidak hanya merupakan hasil dari pengalaman saya tahun lalu, tapi juga hasil penelusuran saya terhadap kesuksesan dan keberhasilan orang lain. Silahkan disimak ya. :)

  1. Bagaimana pun juga meraih suatu beasiswa itu seperti suatu perjuangan di medan perang. Setiap akan maju berperang, tentu saja kita butuh amunisi yang cukup serta strategi dan taktik yang baik. Oleh karena itu, satu hal yang pertama kali akan kita lakukan tentu saja kenali beasiswanya. Teman-teman yang memang berniat melanjutkan studi di Australia dan melamar beasiswa ADS/AAS tentu harus tahu dengan pasti beasiswa tersebut, kan? Kenali mulai dari persyaratannya (eligible requirement), jenis beasiswa seperti apa yang akan diberikan nantinya, waktu seleksi hingga deadline. Semua ini harus teman-teman ketahui dengan seksama, agar bisa dipersiapkan secara matang. Saya yakin teman-teman sudah sering mendengar tentang beasiswa ADS/AAS? Jika tidak, teman-teman bisa buka website-nya. Sekarang tidak terlalu sulit menurut saya untuk mencari informasi, hanya berbekal sambungan internet, teman-teman sudah bisa menemukan harta karun berharga yang teman-teman cari. Intinya, jangan malu bertanya! Dan juga jangan segan mencari tahu! :) 
  2. Setelah kita sudah cukup tahu tentang beasiswa tersebut, lantas selanjutnya adalah tahap persiapan. Persiapan ini maksudnya mempersiapkan berkas-berkas dan persyaratan yang dibutuhkan dalam melamar. Oh ya, saya lupa. Satu hal yang penting adalah kemampuan bahasa. Saya yakin teman-teman sudah tidak awam lagi kalau kemampuan Bahasa Inggris menjadi penting ketika kita berencana sekolah ke luar negeri. Nah, kalau teman-teman merasa demikian, selayaknya teman-teman bisa mempersiapkan yang satu ini jauh sebelum pengumuman beasiswa ini dibuka. Kenali kemampuan kita! Ketika kita berniat melanjutkan studi ke LN tapi kita tahu kemampuan Bahasa Inggris kita masih kurang, nah di sinilah kita harus mulai meningkatkan kemampuan kita. Caranya? Tentu saja dengan belajar dan berlatih. Hal ini bisa kita lakukan dengan berlatih sendiri atau mengikuti kursus. Zaman yang modern ini memberi kita banyak kesempatan untuk dengan mudah belajar. Buku-buku persiapan TOEFL/IELTS atau online course bisa jadi alternatif sumber. Bisa juga dengan latihan membaca buku-buku atau jurnal berbahasa Inggris, menonton film/acara berita berbahasa Inggris tanpa membaca subtitlenya, dsb. Jadi bayangkan jika ketika teman-teman tahu bulan Maret-Agustus pembukaan seleksi beasiswa namun teman-teman belum punya nilai TOEFL/IELTS yang memadai dan belum sempat berlatih, tentu akan menjadi sulit bagi teman-teman, kan? Jadi, persiapkan secara matang! 
  3. Hal yang tak kalah penting adalah menetapkan jurusan dan peminatan yang dituju. Ini menjadi sangat penting karena jangan sampai ya kita pengen banget kuliah di Australia tapi bingung mau kuliah apa. :) Menurut saya, dalam proses seleksi, rencana kuliah termasuk jurusan/peminatan yang akan diambil tentunya menjadi salah satu poin penting dalam penilaian. Oleh karena itu, tentukan dari jauh-jauh hari jurusan apa yang akan kita tuju, termasuk universitasnya ya. Sering-seringlah mampir ke website universitas-universitas di Australia. Kenali jurusan-jurusan yang ditawarkan, mata kuliahnya, hingga bidang penelitian yang menjadi concern universitas tersebut. Pemilihan ini bisa bersandar dari minat kita, kelanjutan dari latar belakang pendidikan kita terdahulu, jurusan yang dibutuhkan di tempat kerja, dsb. Pasti banyak alasan teman-teman soal pemilihan ini. Yang pasti teman-teman harus tahu betul mengapa mengambil jurusan tersebut, dan mengapa harus di Australia. Nah, pertanyaan ini masuk di form aplikasi lho! ;)
  4. Jika teman-teman adalah calon pelamar S2 research atau S3, maka pencarian supervisor menjadi hal utama yang dipersiapkan. Pasalnya, ketika di perkuliahan nanti, kita akan lebih banyak berkecimpung dalam penelitian dan teman-teman akan membutuhkan seorang pembimbing/supervisor dalam hal ini. Pada dasarnya, mencari supervisor itu gampang-gampang susah, dibutuhkan kesabaran pada level skala tinggi. Teman-teman bisa mencari calon supervisor dengan sering-sering mengunjungi bagian research di website universitas yang akan teman-teman tuju. Kenali mereka dengan melihat profil singkat yang ada di website tersebut serta daftar publikasi ilmiah yang telah mereka hasilkan. Setelah itu tentu saja, menjalin komunikasi dengan mereka. Jika saat pertama mencoba, email teman-teman belum dibalas, jangan berkecil hati. Kemungkinan besar mereka sedang sibuk dan tak sempat membaca email kalian, atau mungkin judul email yang kurang eye-catching sehingga mereka enggan membacanya. Teruslah mencoba, gunakanlah bahasa yang sopan dan tidak 'menembak' mereka langsung dengan meminta untuk menjadi supervisor. Jika sudah berhasil, tidak ada salahnya melampirkan bukti komunikasi teman-teman dengan sang calon supervisor pada berkas form aplikasi. Menurut saya, ini akan menjadi nilai lebih karena menunjukkan bentuk keseriusan teman-teman.
  5. Selain mencari supervisor, hal lain yang tak kalah penting bagi teman-teman yang akan melamar S2 master by research atau S3 adalah proposal riset. Proposal riset menjadi sebuah keharusan untuk diisi pada form aplikasi dan merupakan salah satu indikator penilaian. Persiapkan secara matang. Oya, untuk teman-teman yang mengambil S2 master combination (coursework+research) seperti saya tentu juga harus mempersiapkan proposal riset. Menurut saya, menyiapkan proposal riset ini bukan perkara mudah. Dulu saya harus mengatur kalimat demi kalimat yang akan saya sampaikan dalam proposal riset agar menjadi rangkaian yang padat namun jelas. Bukan tanpa sebab, jumlah kata untuk setiap bagian proposal dibatasi. Misal latar belakang (background) dibatasi hanya 150 kata. Oleh karena itu, kita perlu menyiapkan ini dengan seksama. Jangan sampai karena dibatasi pun, penjelasan-penjelasan yang penting justru malah terlewati. Misal justifikasi masalah atau latar belakang yang tidak to the point. 
  6. Nah, jadi ketika mengisi form aplikasi, berhati-hati ya! Pertimbangkan bagaimana grammar-nya dan tentu saja ketepatan kosa kata yang digunakan. Kalau teman-teman merasa tidak yakin dengan apa yang sudah diisi, bisa minta cek oleh orang lain (tapi jangan malah minta dibuatkan ya, hehe). Mintakan mereka untuk melihat kembali form aplikasi yang telah teman-teman isi. Tentu saja, bisa siapa saja. Saudara, teman, sahabat, guru, atasan, atau siapa pun yang dirasakan memiliki kemampuan bahasa Inggris lebih baik. Saya juga dulu pernah melakukan hal yang sama, dan alhamdulillah cara ini berguna sekali. Selain itu, fill with your heart ya! Maksudnya jangan berlebih-lebihan. Utarakan maksud secara tulus tanpa menggambarkan keterpaksaan. Be humble and honest! :)
  7. Tips no. 1-6 itu adalah ketika teman-teman menghadapi proses seleksi awal. Nah ketika sudah  berhasil terpilih menjadi salah satu daftar pendek (shortlisted), maka teman-teman akan menghadapi tes IELTS dan wawancara JST (Joint Selection Team). So, you should be familiar with IELTS. Khususnya teman-teman yang waktu melamar menggunakan nilai TOEFL ITP. Kenali sebisa mungkin jenis pertanyaannya. Persiapkan dan berlatihlah selalu karena sebenarnya untuk bisa menempuh suatu ujian kuncinya hanya dengan sering latihan. Saya dulu hanya berbekal sebuah buku pelajaran IELTS yang lumayan tebal lengkap dengan beberapa contoh tes serta beberapa materi dan video tentang tips writing dan speaking IELTS yang saya peroleh dari internet. Saya pelajari itu semua dalam waktu kurang dari 3 bulan, pas setelah saya dinyatakan sebagai salah satu shorlisted candidate pada bulan November 2012 hingga waktu tes IELTS yang jatuh bulan Januari 2013. Minim? Tentu saja. Saya yakin jika saya berlatih lebih awal lagi, tentu skor yang saya peroleh akan lebih baik dari yang sekarang. Akan tetapi, kalau teman-teman masih sempat ikut kursus pun tidak ada salahnya. Sebelumnya saya bahkan sempat sengaja mengambil kursus conversation untuk melatih kemampuan bicara saya sekaligus meningkatkan rasa percaya diri saya. Jadi kembali lagi ke awal, prepare, prepare, and prepare. :)
  8. Lantas, bagaimana dengan tes wawancara? Tips saya, pelajari kembali form aplikasi yang teman-teman isi dan buatlah beberapa prediksi pertanyaan yang kemungkinan akan diajukan pewawancara. Seringkali, pertanyaan yang ditanyakan adalah semua hal yang teman-teman tulis di form aplikasi. Saat wawancara bulan Januari lalu, saya pertama kali langsung ditanyakan soal rencana studi saya. Tanpa basa basi salah satu pewawancara yang berasal dari universitas di Australia alias native saat itu menanyakan kepada saya tentang apa pekerjaan saya sekarang, jurusan S1 apa yang dulu saya ambil dan rencana jurusan yang kini akan saya tempuh, alasan apa memilih jurusan tersebut, lalu bagaimana jurusan tersebut bisa membantu Indonesia, bla bla bla.. Jadi kita diminta menjelaskan bukan malah menjawab pertanyaan. Saat itu saya sebisa mungkin seperti bercerita dan membuat alur, sehingga percakapannya tidak terdengar monoton dan terbentuk suasana yang tidak menegangkan. Selain itu, saya juga ditanyakan seputar proposal riset, mulai dari tujuan penelitian, mengapa memilih bidang itu, adakah penelitian yang sama sebelumnya, bla bla bla... Bahkan yang buat saya kaget, saya juga ditanyakan soal rencana S3 saya, kira-kira apa yang ingin saya teliti nantinya. Huaa... sungguh kalau yang ini di luar bayangan saya. Jadi teman-teman upayakan membuat daftar pertanyaan yang kira-kira bakal ditanyakan. Syukur-syukur dihafal ya isian form aplikasinya, hehe. Tapi jangan sampai apa yang kita sampaikan berbeda dengan apa yang pernah kita tulis. :p
  9. Terakhir, be optimist dan don't give up! Jika kamu salah satu dari sekian ratus orang yang gagal pada saat melamar pertama kali, tetaplah mencoba dan jangan menyerah. Karena kita tidak tahu kapan keberuntungan dan rejeki itu akan datang. Be confident tapi juga jangan over confident. Tetap apa adanya. Oh ya, sama satu lagi. Jangan lupa untuk terus berdo'a. Yakinlah bahwa Tuhan selalu ada untuk menyertai usaha-usaha kita, maka dekatkanlah terus diri kita padaNya. Pasrah tetapi juga tetap ikhtiar. Mintakan juga do'a orang-orang terdekat, terutama orang tua. Ada yang mengatakan bahwa do'a orang tua dapat membuka pintu rejeki seseorang. Tak lupa, do'akan juga teman-teman kita yang sedang berjuang sama seperti kita. Jika teman-teman tulus, insya Allah ada malaikat yang akan mendengarnya dan mendo'akan hal yang sama untuk teman-teman (baca dari hadist). :)
Bagaimana tipsnya? Mudah-mudahan bisa membantu ya. Kembali lagi bahwa yang apa saya sampaikan di sini adalah sebagian besar hasil pengalaman saya dan orang lain, bukan juga 100% yang saya lakukan. Karena tidak 100% makanya saya berikan tips ini biar hasil yang teman-teman dapat lebih baik dari saya. Aamiin. Oh ya, tips ini juga bisa teman-teman dapatkan dengan lebih jelas di beberapa website beasiswa, seperti miliknya Pak Made Andi, madeandi.com. Kenal kan siapa dia? Kalau tidak kenal, bisa kenalan sekilas di sini. Atau teman-teman bisa juga baca bukunya yang baru terbit berjudul "Berguru ke Negeri Kangguru". Saya juga masukkan ulasannya sedikit di sini. Ini bukan dalam rangka promosi, tapi beliau adalah salah satu guru saya, yang tentunya telah memberikan info tentang beasiswa ADS/AAS lebih banyak dari ini.
    So, selamat berjuang ya!!! Semoga bisa menginspirasi. :)

    Monday, May 20, 2013

    KADO DARI NEGERI KANGGURU

    Tepat hari jumat tanggal 17 Mei 2013, paket kiriman itu datang. Kiriman yang sudah saya tunggu-tunggu dari seminggu yang lalu. Paket tersebut bukanlah paket biasa, melainkan paket istimewa yang dikirimkan oleh seseorang yang kini tinggal di negeri kangguru, Australia.

    Yup. Saya baru saja mendapat kiriman paket berupa buku karangan seorang yang selama ini telah menginspirasi saya dan juga banyak orang seperti saya. Seorang mahasiswa Indonesia yang tengah menimba ilmu S3 di Australia dan tak pernah bosan menyemangati para calon mahasiswa yang tengah berjuang memperoleh beasiswa seperti dirinya di dalam blog pribadinya.

    Dialah Bapak I Made Andi Arsana. Tak afdhol jika saya tak sebut namanya yang begitu harum bagi para pejuang beasiswa ADS (atau AAS) seperti saya. Dia baru saja menerbitkan sebuah buku kitab tentang panduan lengkap memperoleh beasiswa Australian Awards Scholarship (AAS/ADS) lengkap dengan berbagai tips, trik dan segudang cerita yang akan memotivasi pembacanya. Sebenarnya buku ini merupakan kumpulan berbagai postingan dan tulisan beliau tentang beasiswa AAS/ADS di blognya, madeandi.com. Tapi kemudian dibukukan. Oya, tidak hanya itu, di dalam buku ini juga terdapat contoh research proposal bagi para pelamar S3 atau master by research, contoh isian form aplikasi, contoh CV dan resume serta berbagai prediksi soal wawancara JST (Joint Selection Test). 

    Paket kiriman buku itu pun datang. Horray!

    Beliau mengirimkan paket buku ini kepada saya karena alhamdulillah saya dipercaya olehnya menjadi salah satu orang yang testimoninya terpilih untuk dimasukkan ke dalam bukunya tersebut. Wow! Saya benar-benar surprised dengan kabar dari beliau melalui email bahwa testimoni yang beberapa bulan lalu saya kirimkan kepada beliau akhirnya menjadi salah satu yang terpilih. Tak panjang memang, hanya maksimal 40 kata dalam 1 kalimat, tapi saya rasa testimoni saya itu ikhlas saya haturkan kepada beliau sebagai ucapan rasa terima kasih saya atas berbagai tips dan panduan yang telah dia berikan sehingga saya berhasil mengikuti jejak beliau memperoleh beasiswa yang prestisius itu. Selain saya, ada juga testimoni dari beberapa ADS awardees atau penerima beasiswa dalam buku tersebut.  


    Testimoni saya di buku Berguru ke Negeri Kangguru karya Pak Made Andi
    Jadi bagi para pejuang beasiswa, tidak hanya beasiswa AAS/ADS, buku ini akan sangat membantu sekali dalam proses seleksi. Bukan promosi, tetapi hanya memberikan pilihan bagi teman-teman yang sedang berjuang. Semoga sukses dan happy reading! :) 
    "Success is not measured by what you accomplish, but by the opposition you have encountered, and the courage with which you have maintained the struggle against overwhelming odds." - Orison Swett Marden. (source: http://www.brainyquote.com/)

    Tuesday, February 5, 2013

    KEJUTAN KECIL (PART 2)

    Surel tentang hasil ADS yang dikirimkan tadi siang


    Alhamdulillahirrobbil'alamin.
    Syukur kupanjatkan pada-Nya, Maha Besar Allah dengan segala rahmat dan karunia yang tak pernah henti-hentinya Dia curahkan padaku.

    Hari ini, akhirnya saya mendapatkan berita bahagia yang saya tunggu-tunggu itu. Kejutan kecil yang kedua tiba pada saya tepat tadi siang kira-kira jam 12. Diawali dengan kondisi mati lampu selama kurang lebih sejam di kantor, saya pun meraih telepon masuk dari sahabat yang juga pejuang ADS dari kantor seberang dengan sangat cepat. Saya selalu berpikir bahwa setiap kabar datang darinya pastilah kabar tentang beasiswa itu.

    Benar saja, ternyata dia mengabari saya bahwa pengumuman beasiswa sudah dikirimkan ke masing-masing email. Hati saya mengerucut, dan jantung saya berdegup kencang mendengarnya. Spontan saya langsung menjerit ketika dia sebutkan namanya adalah salah satu pelamar yang lulus.
    "Gue lulus Nis...."
    Tak elak saya pun langsung dengan segera menutup telepon dan mencari jawaban dari teka-teki itu. Bagaimana dengan saya?

    Listrik belum juga menyala, ponsel saya tak bisa saya gunakan untuk membuka email. Bagaimana ini? Teman seperjuangan saya yang lain pun mendengar hal serupa dari balik telepon saya barusan tadi. Dia cepat-cepat menarik ponsel smartphone-nya, mirip dengan ponsel saya yang hilang 3 hari yang lalu. 
    "Nis..... aku lulus..."
    Kalimatnya tadi ditutup dengan tangisan bahagia yang menetes deras di wajahnya yang sengaja dia tutup dengan poni panjangnya. Bagaimana denganku Tuhan? 

    Teman-teman kantor lain yang mendengar keriuhan suara kami dari kejauhan, akhirnya lama-lama mendekat dan mencari penyebab kegaduhan sejenak itu tadi. Mereka pun dengan antusias meminjamkan peralatan ponsel canggih mereka kepada saya, berharap ada kejutan bahagia berikutnya datang dari saya. Saya sedikit cemas, tangan saya mulai mendingin, dan badan saya terasa lunglai.
    "Alhamdulillah......"
    Tangisan pun menetes dari balik pipi saya. Riuh jeritan kebahagian dan ucapan selamat menyambut setelahnya. Saya nyaris pingsan, tak percaya, Tuhan memang menjawab semua ini dengan sangat cepat. Kebahagiaan ini tentu saja layak saya teruskan pada orang-orang terkasih, Ayah, Ibu, dan adik saya. Kekuatan do'a merekalah yang pasti membuahkan hasil yang manis bagi saya sekarang. Saya pun langsung menghubungi mereka satu persatu. Sungguh hal yang membahagiakan sekaligus mengharukan.

    ***

    Kini, ucapan selamat terus mengalir di kotak pesan ponsel saya, email jaringan di kantor juga, dan dinding Facebook, baik dari sahabat, teman, atasan, kolega, dan rekan kerja. Tapi aliran rasa syukur itu tak pernah terhenti dari lisan saya kepada-Nya. Terima kasih ya Allah, atas berkah yang luar biasa pada saya ini. Kejutan kecil yang akhirnya Engkau serah terimakan kepada saya hari ini. Kejutan yang telah membahagiakan mereka orang-orang yang telah mendoakan dan mengiringi perjuangan saya ini. Walaupun 3 hari sebelumnya saya mengalami musibah kecil karena kehilangan salah satu ponsel saya, tapi saya yakin inilah pengganti barang tersebut, dan nilainya ternyata jauh lebih tinggi dari itu.

    Semoga saya mampu mengemban tugas belajar ini dengan baik, meskipun nantinya saya dalam posisi berada di negeri orang. Hanya keikhlasan dan do'a restu dari orang tualah yang paling berharga bagi saya saat ini, dan semoga mereka masih terus mengirimkan hal tersebut kepada saya sehingga studi saya di Australia nanti lancar. Amin ya robbal'alamin.

    Sekarang saya tinggal menghadapi persiapan Pre-Departure Training (PDT) atau English for Academic Purpose (EAP) bulan Juli-Oktober mendatang sebagai langkah awal saya mempersiapkan keberangkatan saya ke Australia insya Allah kemungkinan akhir tahun ini atau awal tahun depan. Bismillah!!! Motto gambarimasu, Nisa-chan! 

    Terima kasih untuk do'a dan dukungan sahabat dan teman-teman yang selama ini selalu menyertai saya.... Semoga Tuhan juga menyelipkan Kejutan Kecil tersendiri untuk kalian, apapun yang terbaik nantinya. Amin.

    Saturday, January 12, 2013

    3 HARI UNTUK SELAMANYA

    Seperti judul film saja, "3 Hari untuk Selamanya". Saya bukan ingin menulis ulasan film yang dibintangi Nicholas Saputra ini, melainkan mereview cerita "3 Hari untuk Selamanya" versi saya. Kali ini bukan Riri Riza yang menulis dan mengarahkan cerita saya ini, melainkan Dzat Maha Esa, Pemilik Alam Semesta, yang melakukan.


    Tak pernah terlintas dalam bayangan saya, saya benar-benar berada dalam situasi ter-luar biasa yang pernah saya miliki dalam hidup saya. Yup, 3 hari - untuk - selamanya. Benar-benar hanya 3 hari! Dalam 3 hari, saya harus bersaing dengan para kompetitor saya yang semuanya tidak bisa saya anggap remeh, dan dalam 3 hari pula, saya harus berjuang untuk menjadi salah satu dari 450 pemenang, yakni penerima beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) 2013. 

    Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya, sebagai pemula, sebagai pemimpi, dan sebagai pemilik cita-cita. Alhamdulillah, sabtu lalu, saya menghabiskan jatah 3 hari saya itu. Beberapa hari yang lalu, saya lebih dulu melewati dua ujian IELTS, yang keduanya saya akui tidaklah mudah. Kemudian diakhiri dengan sesi wawancara oleh pihak Australian Awards Indonesia sebagai proses akhir tahap seleksi.

    ***

    Hari 1. Senin, 7 Januari 2013

    Senin, hari pertama masuk sekolah, apalagi yang identik kalau bukan kemacetan. Saya bukan hanya berlomba dengan para pelamar lain untuk sampai tepat waktu di tempat ujian, melainkan juga berlomba dengan para orang tua yang mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, atau para pekerja yang tengah berangkat ke kantor, agar terhindar dari kemacetan ibukota yang sudah nampak menyeruput sejak pukul 6 pagi. Di sepanjang perjalanan, saya tak berhenti berdo'a agar saya jadi salah satu juaranya, sampai di tempat ujian tepat waktu. Itu saja sudah pertarungan yang berat. 

    07.15 sampai di ruang ujian, tepatnya di salah satu gedung perkantoran swasta di bilangan Kuningan, saya sudah melihat beberapa peserta yang sudah lebih dulu sampai dari saya. Luar biasa! Mereka pasti sudah berangkat lebih pagi dari saya, pikir saya. Tetapi, bisa juga mereka cukup beruntung karena tinggal dekat dengan lokasi ujian. 

    Tak soal siapa yang lebih dulu sampai, yang penting saya sudah sampai lebih dari cukup waktu, 45 menit sebelum waktu seharusnya saya tiba. 90 menit berlalu. Di saat itu pula, saya dan seluruh peserta satu persatu melakukan sesi foto dan pendaftaran sidik jari. Ujian yang saya hadapi memang bukan ujian yang main-main. Penyelenggara ujian nampaknya sangat serius dalam memilih kandidat-kandidat ini alias sang pemenang. 

    Waktu latihan kesabaran saya ternyata belum usai. Saya harus menunggu giliran untuk dipanggil dan mengikuti tes berbicara (speaking). Setidaknya lebih dari 1 jam saya harus duduk dan menanti panggilan itu datang. Untungnya, saya tidak sendiri. Saya ditemani para sahabat sekaligus para pejuang yang juga tengah menanti saat itu tiba. Waktu bergulir ternyata tak selambat yang saya pikirkan hingga tiba panggilan untuk nama saya. Ketika melihat sekeliling, tinggal beberapa orang saja yang tersisa. Saya pun lantas bergerak maju, menitipkan tas dan barang-barang saya di loket penitipan barang, lalu berjalan dengan mantap ke ruang tes.

    Di dalam ruangan, saya hanya berdampingan dengan seorang pewawancara, laki-laki, Warga Negara Asing (WNA), tinggi besar, dan yang pasti dia tidak mengijinkan saya untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Tes berbicara yang saya lakukan sepertinya memakan waktu yang tidak banyak. Rasanya hanya sekejap saja saya tadi ada di dalam. Banyak hal yang dia tanyakan, mulai dari pekerjaan saya, permainan yang dulu saya mainkan saat masih kecil, dan hal-hal lain seputar isu dan kejadian di sekitar saya sehari-hari. Semua itu saya harus saya jelaskan dengan baik, dengan bahasa Inggris, yang jujur saya masih malu belum bisa fasih hingga sekarang.

    ***

    Hari 2. Kamis, 10 Januari 2013

    Kali ini saya berangkat ke lokasi ujian yang sama dengan hari sebelumnya, 15 menit lebih cepat. Bukan tanpa sebab, seluruh peserta memang diharuskan tiba pukul 07.30, 30 menit lebih cepat. Malam sebelumnya saya sampai hampir tidak bisa membayangkan, jam berapa saya harus berangkat dari rumah. Jika saya diminta pukul 07.30 agar tiba di lokasi, setidaknya 15 menit sebelumnya kami sudah standby

    Alhamdulillah, Allah memang Maha Pemurah. Dia melancarkan perjalanan saya ketika itu. Pukul 07.10 saya sudah tiba di tempat ujian. Tepat dugaan saya. Waktu tempuh perjalanan saya sama persis dengan hari senin sebelumnya. Karena 15 menit berangkat lebih awal, saya pun sampai 15 menit sampai lebih awal. 

    Ada pemandangan yang tak biasa yang saya lihat. Saya sungguh terkejut ketika baru keluar dari elevator menuju ruang tes, koridor sudah dipenuhi oleh antrian peserta lain. Antrian itu sudah mengekor hingga ke barisan paling belakang. Koridor nampak begitu gaduh karena dipenuhi manusia-manusia super. Saya melihat dua sahabat saya sudah lebih dulu berbaris cantik dan sesekali melambaikan tangan ke arah saya untuk memberi kode. Saya benar-benar tak menyangka, ternyata mereka semua adalah pejuang yang tangguh. Saya sampai tak bisa membayangkan jam berapa mereka tiba, dan jam berapa mereka berangkat.

    Saya pun mengantri di barisan paling belakang. Antrian dibagi ke dalam 3 kelompok besar menurut jadwal tes berbicara. Saya berbaris mengikuti kelompok jadwal hari senin. Tak lama, saya berangsur-angsur makin masuk ke dalam. Kami harus berbaris untuk daftar ulang dan menitipkan tas kami di loket penitipan barang yang juga terbagi ke dalam 2 loket. Saya sungguh salut dengan manajemen penyelenggara yang sangat rapi dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Saya pikir sekitar 1 jam lebih saya harus menunggu lagi di dalam untuk mulai tes. Mereka benar-benar bisa memperkirakan waktu hingga kami diminta tiba pagi sekali. Selain itu, mereka sangat memperhatikan kejujuran dan bentuk kecurangan yang mungkin saja terjadi. Bagi peserta yang tidak membawa tempat pensil transparan, maka oleh pihak penyelenggara diberikan tempat pensil tersebut secara cuma-cuma. Saya salah satunya. 

    Ujian kali ini lebih sulit dari senin lalu karena ada 3 tipe ujian yang akan dihadapi, yakni ujian mendengarkan (listening), membaca (reading), dan menulis (writing). Ujian akan memakan waktu 2,5 jam dan saya yakin akan jadi hari yang berat bagi saya. Setelah belajar dengan cukup intensif beberapa minggu, saya merasa cukup yakin menjawab pertanyaan di dua tipe ujian mendengarkan dan membaca. Hanya saja, ada beberapa jawaban yang saya ragukan. Ini memang tak terlalu jadi soal, sementara ujian menulis adalah yang palit sulit menurut saya. Saya hanya diberi waktu 60 menit untuk menyelesaikan 2 esai dalam bahasa Inggris, dan dengan dua topik yang berbeda. Selain itu, penulisan juga ditentukan yakni tidak kurang dari 150 kata pada topik pertama, dan 250 kata pada topik kedua. 

    Di sinilah, saya sempat mengalami writer's block atau tiba-tiba berhenti menulis karena entah apa lagi yang mau saya tambahkan. Hingga 20 menit pertama yang seharusnya saya sudah selesai di topik pertama, saya justru masih menulis. Perlu ekstra kerja keras untuk mengejar di topik kedua karena ketentuan jumlah katanya lebih banyak. Tapi alhamdulillah, semua dapat diselesaikan tepat waktu. 2 esai yang menurut saya masih ecek-ecek, dan masih perlu belajar mengingat jika bersekolah nanti saya akan terus dituntut menulis dalam bahasa Inggris. 

    ***

    Hari 3. Sabtu, 12 Januari 2013

    Yaaaaiiiiiiyyyyy!! Hari terakhir. Hari yang menentukan ini semua. Hari ketigalah yang jadi penentuan apakah saya bisa mewujudkan keinginan saya untuk jadi salah satu pemenang. Di hari sabtu yang biasanya saya bercengkerama dengan keluarga dan melakukan hal-hal menyenangkan di rumah, kali ini saya harus kembali berangkat pagi dan bersiap diajukan beberapa pertanyaan seputar rencana pendidikan saya di Australia. 

    Tiba di tempat lokasi, tidak banyak orang bergerombol di koridor lift seperti kamis lalu, mengingat seleksi ini sudah terbagi ke dalam beberapa kelompok peserta. Saya mendapat waktu di hari sabtu, berselang 2 hari dari ujian saya sebelumnya. Wawancara akan dilakukan oleh pihak ADS, dan mereka semua adalah akademisi dari beberapa universitas di Australia, dan juga akademisi universitas di Indonesia yang juga alumni penerima beasiswa ADS. Sebelum memulai proses wawancara, saya dan sekitar 37 orang peserta yang lain berkumpul untuk diberikan pengarahan. Setelah itu, dipanggil satu persatu ke ruang wawancara. Seluruh peserta dibagi ke dalam 5 ruangan dan masing-masing akan diwawancarai oleh dua orang pewawancara. 

    Lucky me, nama saya menuntun saya jadi orang pertama yang diwawancarai di kelompok 5. Hari itu saya sungguh tenang, tak ada ekspresi kepanikan dan kecemasan di batin saya. Sesekali saya membaca catatan yang sengaja saya buat untuk mengantisipasi pertanyaan apa saja yang akan diajukan, sebelum memasuki ruangan. Hingga saatnya nama saya diucapkan dan saya dengan mantap berjalan menuju ruangan yang akan jadi penentuan hidup dan karir saya.

    Masuk ke ruangan tersebut rasanya sangat tenang. Di dalam hanya ada kami bertiga, saya ditemani dua orang pewawancara yang tidak bisa saya remehkan begitu saja, namun harus saya hormati. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan kepada saya sebagai bentuk konfirmasi dan penilaian atas apa yang pernah tulis dalam formulir aplikasi saya pada saat saya melamar. Tak pernah saya duga, ternyata pertanyaan yang diarahkan ke saya lebih banyak tentang penelitian yang akan saya lakukan. Alhamdulillah, Allah memudahkan dan melancarkan ucapan saya hingga saya mampu menjelaskan dengan baik, meskipun beberapa kali salah menyebutkan istilah bahasa Inggris. 

    ***
    Kini, saya tinggal menunggu keputusan Illahi, apakah saya diijinkan menjadi salah satu pemenang di babak akhir ini atau harus bersabar dan ikhlas menerima kegagalan sebagai pembelajaran saya paling berharga. Saya sudah membuktikan usaha dan kerja keras saya selama kurang lebih 1 tahun untuk memperoleh hasil yang baik selama 3 hari kemarin. 3 hari yang akan jadi penentu masa depan saya selamanya. Semoga di bulan Februari depan, ada kabar membahagiakan bagi saya, keluarga, dan teman serta para sahabat yang sudah tulus mendo'akan perjuangan saya ini. Amiin ya robbal 'alamin. 

    Wednesday, December 26, 2012

    PERSEMBUNYIAN YANG MANIS


    Aku terkurung
    Terkunci dalam sebuah relung kebisuan
    Tak ada lisan terucap
    Tak ada deru bergetar

    Aku terhempas
    Terdorong dalam sebuah ruang hampa
    Kering tanpa udara
    Sepi tanpa bisik

    Hingga tetesan embun membiaskan difusi cahaya
    Memancar melewati sudut ruang berkelok
    Memberi terang kepada sebuah perkamen lusuh
    Untuk kembali memaksaku menguntai kata terucap

    Sungguh persembunyian yang manis, tadi
    Kusadari itu dirimu, sang cahaya embun di kaki langit
    Menemukanku dalam kekosongan
    Mendengarkanku dalam kesunyian 
    Suara-suara rinduku yang lama tak kau jamah

    ENAM JURUS MENULIS CERPEN

    Siapa di antara teman-teman pembaca yang suka membaca cerpen? Atau yang bahkan suka menulis cerpen? Bagaimana sih cara menulis cerpen itu? Apakah cerpen sama dengan novel? 

    Saya kebetulan punya tips menulis cerpen yang saya ulas dari tulisan Mbak Naning Pranoto, salah satu penulis Kumpulan Cerpen "Sebilah Pisau dari Tokyo". Berikut ulasannya.

    Apa sih cerpen itu?
    Cerpen atau cerita pendek merupakan cerita yang ditulis pendek, umumnya ditulis 5.000-8.000 kata, namun tema dan persoalan yang ada di dalam cerpen dibahas hingga tuntas secara utuh. Awal cerita (opening) dari sebuah cerpen ditulis secara menarik dan eye-catching, kemudian ditutup dengan akhir cerita yang memberikan sebuah kejutan bagi pembacanya.

    Lalu bagaimana tips menulis cerpen?

    Menurut Mbak Naning Pranoto, ada 6 jurus dalam menulis sebuah cerpen.
    1. Buatlah dunia dan seluruh kejadian di dalamnya menjadi sumber inspirasi
    2. Bacalah karya-karya para pengarang terkemuka
    3. Petakan apa yang ingin kau tulis
    4. Buatlah setting cerita dan penokohannya
    5. Ciptakan konflik dan masalah
    6. Ciptakan cerita bak mendaki gunung
    Buatlah dunia dan seluruh kejadian di dalamnya menjadi sebuah inspirasi
    Menurut Mbak Naning, menulis cerpen adalah sebuah proses kreatifitas seseorang, dari tidak ada menjadi ada yaitu sebuah cerita. Kita mungkin setuju dengan pendapatnya tersebut. Oleh karena itu, segeralah menulis dan janganlah menunda-nunda. Seorang sastrawan terkemuka dari Amerika Serikat, 

    Ernest Hemingway, pernah mengatakan, "Jika Anda mengalami kesulitan pada saat akan memulai menulis, buka jendela lebar-lebar, lihat keluar sejauh mungkin. Dunia dan semua isinya adalah sumber cerita dan setiap kejadian adalah sebuah keajaiban!". Jadi jangan katakan bahwa kita tidak segera menulis karena tidak ada inspirasi. Carilah inspirasi dari lingkungan sekitar teman-teman. Siapa tahu inspirasi menulis ternyata muncul dari dalam kisah kehidupan teman-teman sendiri.

    Bacalah karya-karya para pengarang terkemuka
    Pengarang sebuah cerpen adalah seseorang yang kreatif. Dia akan menampilkan berbagai kisah dan jalan cerita dengan gaya penulisan yang berbeda-beda pula. Kreatifitas tersebut tidak hanya tergantung dari sebuah inspirasi, melainkan juga dari daya imajinasi, kekayaan materi yang ditulis, wawasan akan berbagai pengetahuan, penguasaan tata bahasa dan kosa kata, serta kelihaian dalam mengolah kata maupun merangkainya menjadi kalimat-kalimat yang eye-catching. Tentu saja hal-hal tersebut dapat diperoleh salah satunya dengan membaca karya para pengarang atau penulis terkemuka. Seraplah bacaan tersebut agar dapat digunakan sebagai pembanding karya teman-teman nanti. Selain itu, menulis secara rutin dan disiplin ternyata sangat dianjurkan, serta berpikirlah bahwa menulis itu pekerjaan yang menyenangkan. Berambisi menghasilkan cerpen yang bermutu dan bagus juga ternyata dapat mendorong kita untuk selalu giat menulis.

    Petakan apa yang ingin kau tulis
    Memetakan materi yang akan kita tulis dalam sebuah cerpen ternyata juga penting, lho teman-teman! Susunlah tema cerita, judul, para pelaku atau tokoh cerita, serta setting atau tempat kejadian dari cerpen kita nanti. Plot atau jalan cerita juga penting untuk disusun. Selain membantu kita untuk berkreatif dan berimajinasi, memetakan materi cerita juga penting untuk mempersiapkan pengolahan kata yang akan digunakan dalam merangkai tiap kalimat di dalam cerita kita. Proses pemetaan ini juga dapat disebut sebagai mind mapping. Seperti contoh mind mapping membuat novel di bawah ini. 

    Happiness Novel Mind Map
    (http://soilnanowrimo.wordpress.com)

    Buatlah setting cerita dan penokohannya
    Sebuah cerpen yang menarik untuk dibaca adalah cerpen yang mampu menciptakan karakter tokoh yang kuat serta mampu memainkan emosi pembacanya. Di sisi lain, hal ini terkadang dapat menimbulkan pro dan kontra, bahkan opini-opini baru. Lantas, bagaimana menciptakan karakter tokoh seperti itu. Menurut Mbak Naning, hal yang harus digali adalah nama pelaku/tokoh, umur, pekerjaan, tempat tinggal, penampilan, perilaku, status (belum menikah/menikah), status sosial (kaya atau miskin), teman dan sahabatnya, lawan jenis impiannya, obsesi serta kebencian, dan sebagainya. Banyak yang bisa digali dari suatu karakter tokoh. Jangan lupa untuk membuat setting terkait dengan kehidupan si tokoh dan juga kejadian-kejadian di dalam cerita. Pelaku/tokoh bisa menjadi orang pertama, orang kedua, atau orang ketiga.

    Ciptakan konflik dan masalah
    Selain penokohan, hal yang membuat sebuah cerpen menarik pembacanya adalah jalan cerita yang disuguhkan. Seringkali pembaca menjadi benar-benar merasakan bahwa cerita yang dibacanya terjadi di dalam kenyataan.  Hal tersebut dapat terjadi dari adanya permasalahan atau konflik yang timbul di dalam plot cerita. Konflik dan permasalahan dapat mempengaruhi emosi pembaca. Oleh karena itu, buatlah cerpen yang eye-catching sehingga konflik dapat ditangkap. Mbak Nining memberika tipsnya, yakni dengan cara "melukiskan bukan menceritakan". Contohnya:
    Sepasang alisnya yang tebal menyatu, membuat keningnya berkerut-kusut, dan matanya merah menyala memandang ke arah saya. Suaranya lirih serak menekan "Keluar!" giginya menggegat.
    Menarik bukan?

    Ciptakan cerita bak mendaki gunung
    Konflik atau permasalahan dalam sebuah cerita dapat menjadi sebuah penentu (turning-point) untuk mencapai suatu titik yang dramatik. Hal ini dapat juga disebut sebagai klimaks atau puncak cerita. Klimaks disajikan sebelum menuju akhir cerita (ending). Dalam menuju akhir cerita, buatlah penuturan kata yang cenderung melandai atau anti klimaks, sehingga seperti seseorang yang tengah mendaki gunung.

    ***

    Bagaimana tips-tipsnya? Sudah cukup bermanfaat? Semoga tips dari Mbak Naning Pranoto tadi bisa menambah wawasan teman-teman dalam menulis cerpen, sekaligus membantu teman-teman untuk tetap semangat membuat cerpen. Saya pun demikian. 

    Enjoy writing!!

    Sumber: Tips Singkat Enam Jurus Menulis Cerpen oleh Naning Pranoto dalam Creative Writing Workshop

    Tips Untuk Membuat Tamu Rumah Liburan Merasa Senang Di Rumah Anda

    Pernahkah Anda memiliki perasaan tidak pasti bepergian ke suatu tempat untuk tinggal bersama keluarga yang tidak Anda kenal dengan baik? ...