Saturday, May 30, 2015

MENGGANTI NAVIGASI "OLDER POSTS" DENGAN JUDUL POSTINGAN

Assalamu'alaikum.

Teman blogger mungkin sering melihat sebuah blog yang menampilkan navigasi untuk postingan lama dan baru dengan judul postingan. Hal ini tentu saja akan mempermudah pengunjung blog untuk melihat postingan sebelum dan sesudahnya, 'kan. Lalu, bagaimana ya caranya?

Tidak perlu khawatir. Setelah menemukan tipsnya dari hasil pencarian di internet, saya akan berbagi tips bagaimana cara merubah teks navigasi postingan lama dan baru dalam blog kalian hanya dengan beberapa langkah berikut ini.
Menambahkan kode jQuery
Pertama-tama, kita perlu menambahkan kode jQuery atau JavaScript pada template blog.

1.  Template  >  Edit HTML

2.  Cari kode </head> kemudian paste-kan kode berikut tepat di atas kode </head> 

<script type="text/javascript" src="http://ajax.googleapis.com/ajax/libs/jquery/1.4.4/jquery.min.js"></script>

Menambahkan kode di Widget HTML
Setelah itu, kita perlu menambahkan kode JavaScript tertentu dengan memasukkan widget HTML pada laman Layout.

1.  Layout  >  Add a Gadget

2.  Pilih HTML kemudian masukkan kode berikut

<!-- Replacing Older and Newer post Start -->
<!-- crawlist.blogspot.com -->
<style type="text/css">
#blog-pager-newer-link {font-size:85%;width:200px;text-align:left;}
#blog-pager-older-link {font-size:85%;width:200px;text-align:right;}
</style>
<script type="text/javascript">
$(document).ready(function(){
var newerLink = $("a.blog-pager-newer-link").attr("href");
$("a.blog-pager-newer-link").load(newerLink+" .post-title:first", function() {
var newerLinkTitle = $("a.blog-pager-newer-link").text();
$("a.blog-pager-newer-link").text("<< " + newerLinkTitle);
});
var olderLink = $("a.blog-pager-older-link").attr("href");
$("a.blog-pager-older-link").load(olderLink+" .post-title:first", function() {
var olderLinkTitle = $("a.blog-pager-older-link").text();
$("a.blog-pager-older-link").text(olderLinkTitle + " >>");//rgt
});
});
</script>
<!-- Replacing Older and Newer post End -->



Widget HTML tersebut dapat diletakkan di bawah postingan blog atau diletakkan pada tempat yang kalian kehendaki.



















Setelah selesai, silahkan lihat di bawah kolom postingan terakhir atau kolom komentar di blog kalian. Selamat mencoba!

Saturday, May 23, 2015

MUSHROOM TARTLETS

Selamat pagi sahabat pembaca,

Sudahkah kamu memasak sesuatu hari ini? Saya punya resep seru nan praktis yang bisa kalian coba di akhir pekan yang cerah seperti sekarang ini. Resep ini hasil modifikasi dari bahan-bahan yang saya miliki untuk resep saya sebelumnya, Strawberry Cheese Danish (kalau lupa, resepnya bisa dilihat di sini).

Kebetulan saya masih memiliki beberapa lembar adonan puff pastry siap masak yang sengaja saya bekukan di dalam freezer. Setelah mencoba resep yang manis, bagaimana kalau kali ini kita coba resep yang gurih asin? Mushroom Tartlets. Makanan sejenis pai ini hampir mirip dengan pai jamur yang bisa kita temukan dijual frozen di beberapa food store atau supermarket. Yup, resep yang akan saya bagikan ini menggunakan jamur sebagai bahan utama isian. Tentunya juga dengan menggunakan adonan puff pastry. Mari kita lihat cara pembuatannya :)


Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

Bahan-bahan:
  1. 2 lembar puff pastry siap pakai ukuran 20 cm x 20 cm
  2. 125 gram jamur champignon, lap bersih
  3. 50 gr sosis sapi/ayam sebagai pelengkap
  4. 1/2 buah bawang bombai, iris memanjang
  5. 2 siung bawah putih, haluskan
  6. 1 sdm margarin (unsalted butter)
  7. 1 sdm minyak sayur 
  8. Garam secukupnya
  9. Lada hitam secukupnya
  10. 1 butir telur, kocok lepas
  11. Keju chedar parut atau parmesan, sebagai taburan (jika suka)

Cara membuat:
  1. Siapkan bahan isian tartlets. Panaskan minyak kemudian tumis bawang putih dan bawang bombai hingga harum. 
  2. Masukkan jamur dan sosis, kemudian aduk hingga jamur layu dan matang. 
  3. Bumbui dengan garam dan lada hitam secukupnya.
  4. Sebelum diangkat, masukkan margarin dan aduk secukupnya. Matikan api, angkat. Sisihkan.
  5. Selanjutnya, siapkan adonan puff pastry. Jika baru dikeluarkan dari freezer, maka diamkan adonan selama 20 menit hingga adonan menjadi tidak lagi beku dan mudah dibentuk.
  6. Sementara itu, panaskan oven bersuhu 180 derajat celcius.
  7. Pipihkan adonan pastry sedikit hingga tidak terlalu tebal lalu cetak berbentuk lingkaran menggunakan cetakan donat atau cetakan bulat lainnya. Jika tidak ada bisa menggunakan tutup gelas ukuran besar.
  8. Letakkan masing-masing adonan yang sudah dicetak ke atas loyang pemanggang kue yang sudah diolesi dengan sedikit minyak sayur dan susun rata. 
  9. Tusuk-tusuk bagian tengah adonan (jangan seluruhnya) dengan garpu. Sisakan pinggirannya.
  10. Beri masing-masing adonan dengan 1 sdm bahan isian di atas bagian tengah adonan yang sudah ditusuk tadi.
  11. Sebelum dipanggang, olesi sekeliling sisa adonan yang tidak tertutup bahan isi dengan kocokan telur. Taburi parutan keju cheddar atau parmesan di atas bahan isi jika suka.
  12. Ulangi pembuatannya hingga bahan isi habis.
  13. Panggang adonan dalam oven selama sekitar 20-30 menit hingga pastry matang dan berwarna coklat keemasan.
  14. Jika sudah matang, angkat dan tiriskan. Nikmati dengan iced tea atau iced coffee.



CERITA DI BALIK SETIAP CERITA

Assalamu'alaikum.

Setelah sempat nggak ikutan IHB April Blog Post Challenge karena dihimpit kesibukan, maka kali ini saya putuskan untuk ikut meramaikan challenge selanjutnya. Kebetulan tema kali ini adalah "Behind the Scene of Your Blog Post". Wah menarik!

Sebenarnya saya belum terbilang blogger yang sukses, lho. Sering kali saya kena penyakit writer's block. You know what it is, kan? Kalau hari kerja, biasanya saya paling sulit menulis. Setiap malam sehabis pulang bekerja, saya sudah tidak punya gairah menulis lagi. Alih-alih capek, membuka laptop pun rasanya sudah malas bukan main. 

Memang tidak mudah untuk menjadi seorang blogger. Tapi, saya yakin banyak blogger di luar sana yang sukses menulis setiap saat tanpa mengalami penyakit seperti yang saya alami. Salah satunya adalah sahabat dunia maya saya, dek Primadita Rahma. Blognya bisa dilihat sini (Eh, saya nggak sedang promosi lho!). Menurut saya, dia itu patut dijadikan salah satu contoh blogger sejati karena dia mampu membagi waktunya untuk blogging di samping menyelesaikan kuliahnya. Pasti dia punya resep tersendiri hingga bisa rajin menulis di blog dan bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Lantas, bagaimana dengan saya? 

Ada cerita apa di balik setiap cerita di blog saya?

Getting my inspiration
Kata orang, mencari ide atau inspirasi itu gampang-gampang sulit. Kalau udah mentok, rasanya susah banget mau mengeluarkan ide dari kepala. Tapi bagi sebagian orang, memunculkan ide itu semudah membalikkan telapak tangan. Buat saya, hal itu bisa berlaku keduanya. Kadangkala, rasanya mudah sekali memunculkan inspirasi menulis, mulai dari hanya dengan mendengarkan lagu, menonton televisi, bahkan dari apa yang dialami sehari-hari. 

Ide tulisan dalam blog saya biasanya muncul dari pengalaman pribadi, misalnya dari perjalanan atau travelling saat liburan hingga kegiatan memasak resep-resep menarik yang saya peroleh dari internet atau tayangan di televisi. Selain pengalaman pribadi, saya juga sering memperoleh ide tulisan dari pengalaman orang lain. Ini biasanya saya tuangkan pada cerita-cerita flashfiction yang saya buat untuk kompetisi menulis cerita di blog. Sudah beberapa kali saya menggunakan karakter dari pengalaman pribadi orang lain, termasuk keluarga atau teman. Tapi, identitas mereka tentu saja tidak saya munculkan di dalam cerita. 

Tuliskan!
Setelah mendapat ide, maka selanjutnya yang saya lakukan adalah langsung menuliskannya di dalam blog. Meskipun saya sering kewalahan dalam hal membagi waktu untuk menulis, tapi saya lebih senang langsung menuliskan ide-ide tadi ke dalam blog saat itu juga. Hal ini juga berlaku untuk tulisan saya berupa cerita flashfiction. Untuk jenis tulisan ini, saya bahkan bisa menghabiskan waktu hingga 2 jam, he he he. Saya harus terus berada di depan komputer dan menjaga agar aliran ide cerita yang sudah membumbung di kepala tidak menguap begitu saja. Oleh karena itu, waktu yang tepat untuk menulis bagi saya adalah malam hari. Selain lebih tenang, saat malam hari paling tidak saya sudah menyelesaikan rutinitas saya, termasuk sholat lima waktu yang tidak boleh begitu saja ditinggalkan.

"Cek dan Ricek"
Istilah ini mungkin sering kalian dengar di televisi. Ya, re-checking menjadi sebuah keharusan saat menulis blog (meski saya suka kelupaan sama yang satu ini). Cek setiap tulisan yang dibuat dan akan dipublish di dalam blog, mulai dari tata letak, bahasa, kesalahan penulisan hingga pengaturan gambar dan warna tulisan. Saya yakin ini bisa mempengaruhi pembaca. Tulisan yang berantakan dan tidak disusun dengan semestinya tentu saja bisa mengganggu mereka yang membaca tulisan kita. Bahasa juga faktor penting. Salah seorang teman saya pernah berpesan kepada saya bahwa bahasa itu cerminan diri kita. Bahasa formal memang tidak selalu dituntut dalam sebuah blog pribadi, tetapi kalau terlalu informal juga tidak enak dibacanya. Selain itu, jangan lupa untuk memasukkan tautan sumber, baik dari gambar atau tulisan yang kita gunakan pada blog kita (jika memang ada). Hal ini penting supaya tidak ada unsur plagiat dan pelanggaran hak cipta. 

Preview first
Selain mengecek draft tulisan yang sudah siap dipublish, biasanya saya juga akan melihat tinjauan setiap halaman dari tulisan saya tersebut. Dengan begitu, saya bisa memastikan bahwa tulisan saya telah layak untuk ditampilkan. 

Nah, jika keempat langkah tadi sudah dilakukan, maka selanjutnya ya tinggal klik publish. Ketika sudah mengklik tombol tadi, rasanya tuh lega dan campur senang banget lho, he he he. Jadi, itu tadi cerita di balik setiap cerita yang saya tampilkan pada blog ini ya. Semoga bisa membantu menginspirasi teman-teman sekalian.

Selamat menulis!

Tulisan ini diikutsertakan dalam #IHBMayBlogChallenge 

Friday, May 15, 2015

STRAWBERRY CHEESE DANISH


Dear food lover,

Libur weekend memang paling seru bersama keluarga ditemani kudapan yang spesial seperti Strawberry Cheese Danish yang sangat nikmat jika disantap saat sarapan di pagi hari. Danish pastry dikenal sebagai makanan manis khas Denmark yang terbuat dari adonan puff pastry dan memiliki tekstur yang berlapis. Salah satu jenis Danish pastry yang terkenal di seluruh dunia adalah Croissant. Teksturnya yang crispy dan memiliki rasa yang beragam menjadi pilihan yang cocok sebagai teman menikmati teh atau kopi di pagi dan sore hari. 

Saat ini, membuat kue dengan adonan pastry tidaklah sulit. Kita bisa dengan mudah menemukan adonan puff pastry yang siap digunakan di beberapa supermarket atau toko bahan kue. Resep ini salah satu yang tergolong mudah dan bahan-bahannya pun tidak sulit untuk ditemukan. Mau coba? Yuk, kita intip resepnya!

Bahan-bahan:
  1. 2 lembar puff pastry siap pakai ukuran 20 cm x 20 cm
  2. 1/2 cup krim keju (cream cheese)
  3. 3 sdm selai stroberi (strawberry jam)
  4. 2 sdm gula halus (castor sugar)
  5. 1 sdt cuka apel (apple cider vinegar), atau air jeruk lemon (lemon juice)
  6. 5 buah strawberry segar
  7. 1 butir telur, kocok lepas
  8. 1 tsp air putih 

Cara membuat:
  1. Siapkan 2 lembar puff pastry siap pakai. Jika puff pastry tersebut baru dikeluarkan dari freezer, maka diamkan sejenak selama 20 menit hingga adonan tidak lagi beku. Pipihkan sedikit adonan dengan menggunakan roller. 
  2. Potong lembaran pastry tersebut ke dalam beberapa bagian dengan ukuran kira-kira masing-masing sebesar 8 cm x 6 cm.
  3. Tata potongan pastry tersebut di atas loyang kue yang sudah dialasi dengan baking paper, atau jika tidak ada, bisa diolasi dengan margarin dan ditaburi sedikit tepung. 
  4. Agar adonan pastry kemudian bisa diisi dengan isian buah dan krim keju, maka tambahkan adonan pastry di sisi-sisi lembaran hingga berbentuk menyerupai frame photo. 
  5. Tusuk-tusuk dengan garpu adonan tengah pastry. Sisihkan.
  6. Sementara menyiapkan toping, panaskan oven bersuhu 180 derajat celcius. 
  7. Haluskan krim keju yang dicampur dengan gula halus dan cuka apel, atau jika tidak ada, bisa diganti dengan air jeruk lemon. Sisihkan.
  8. Untuk toping buah, siapkan selai stroberi di dalam wadah tahan panas/microwave container, tambahkan air lalu panaskan selama 30 detik di dalam microwave. Setelah 30 detik, keluarkan dan aduk hingga tercampur rata dan selai menjadi sedikit lebih encer. Sisihkan. 
  9. Waktunya mengisi topping di atas adonan pastry. Tuang 1-2 sdm krim keju, kemudian 1 sdm selai dan beberapa potong stroberi di bagian tengah adonan pastry
  10. Terakhir, olesi pinggiran pastry dengan campuran telur dan sedikit air yang sudah dikocok lepas agar pastry tidak pucat dan berwarna kecoklatan saat sudah dipanggang. 
  11. Jika sudah siap, panggang adonan di dalam oven selama kurang lebih 20-25 menit hingga matang dan pastry berwarna kecoklatan. 
  12. Setelah matang, angkat dan sajikan dengan taburan gula halus. Kue pun siap disantap selagi hangat. 
*Resep ini untuk 8-10 potong




Monday, March 30, 2015

27 DAN MAKNA SEBUAH STATUS



Apa yang pertama terpikirkan olehmu ketika usiamu memasuki angka 27? 

Source: www.quickmeme.com

Bagi kebanyakan pria, 27 tahun mungkin adalah saat dimana mereka telah mencapai suatu tahap pendewasaan. Akan tetapi, bagi sebagian wanita, usia 27 bisa bermakna lebih dari itu. Sebuah survei menunjukkan bahwa pria akan mencapai titik usia paling matang pada umur 43 tahun, sedangkan wanita pada usia 32 tahun. Selain itu, pria lebih lama mengalami pendewasaan dibandingkan dengan wanita, yaitu sekitar 11 tahun.

Eh, kenapa saya jadi membahas soal umur ya?
Hmm, sebenarnya tulisan ini berangkat dari pengamatan saya ketika pernah tinggal di luar negeri (baca: Australia). Pasalnya ketika saya kembali ke Indonesia bulan Januari lalu, saya merasa tiba-tiba ada yang mengganjal di benak saya. Bagaimana ya pandangan orang terhadap saya ketika saya kembali berada di tengah-tengah mereka? Sebagian besar dari mereka tentu saja menyambut saya dengan ucapan selamat dan syukur, tapi tak sedikit pula dari mereka yang tampak semangat menanyakan ini: "UDAH SELESAI YA, TERUS KAPAN NIKAH?"

Seolah-olah seperti petir di siang hari bolong (maaf kali ini saya lebay, he he he), saya bingung lho ditanya begitu. Saya pun nggak tahu mau jawab apa. Rasanya jawaban "mohon do'anya" diiringi senyum tipis sudah menjadi jawaban andalan saya (hingga kini). Tapi yang semakin membuat saya kaget adalah ketika mereka mengaitkannya dengan umur: "UMURMU MEMANG BERAPA SIH SEKARANG?" Loh, memang ada apa dengan umur saya? Apa kaitannya?


Jika dibandingkan dengan di Indonesia, pada umumnya orang asing merasa risih jika ditanya tentang perihal tersebut. Bagi mereka itu adalah hal yang sangat privasi dan kurang pantas untuk ditanyakan. Tetapi, saya pun tersadar, saya sudah kembali ke kampung halaman saya sehingga suka tidak suka, pertanyaan itu akan terus ditujukan ke saya. Namun, ketika usia saya mencapai 27 apakah memang sebuah keharusan bagi saya untuk menikah? Apakah status menikah atau tidak menjadi sangat penting?

Jujur saja, saya dulu bercita-cita menikah pada usia 25 tahun. Umum banget ya? Tetapi ternyata Tuhan lebih menginginkan saya untuk lebih dulu bersiap meniti pendidikan yang lebih tinggi di Australia. Menyesal? Tentu saja tidak! Hidup itu pilihan, dan pilihan itu tidak serta merta datang, tetapi Tuhan yang menunjukkan. Lantas, saya masih belum paham oleh makna sebuah status bagi mereka, para wanita (atau mungkin pria) yang sudah mencapai angka 27 dalam hidupnya.

Allah SWT bersabda bahwa manusia menikah jika memang sudah layak menikah.

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan" (QS. 24:32)

Di samping itu, Allah SWT juga menjanjikan bahwasanya:

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik..." (QS. 24:26)

Bahkan Allah SWT tidak menyebutkan secara rinci batas usia seorang manusia untuk menikah. Seseorang dipersyaratkan menikah hanya jika dia telah memasuki masa baligh. Oleh karena itu, usia berapa pun asalkan seseorang sudah dalam kondisi baligh maka dapat dikatakan sudah siap untuk menikah. Namun mengapa sepertinya status demikian begitu penting di masyarakat, khususnya bagi mereka wanita yang sudah berusia 25 tahun ke atas?

Hmm, hal ini mungkin terkait usia reproduktif seorang wanita yang dimulai sekitar 15 tahun. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa jika seorang wanita berhubungan seksual pada usia 20-an, maka dia akan terhindar dari risiko kanker payudara dan ovarium. Selain itu, emosi akan semakin terbentuk saat mulai memasuki usia 20 tahun sehingga menjadi bekal penting bagi kehidupan rumah tangga kelak. Menurut penelitian lain, fertilitas berangsur-angsur menurun pada usia 30-an. Tiga puluh lima tahun juga menjadi batas yang sering digunakan bagi mereka yang ingin memiliki buah hati mengingat salah satu risiko kematian ibu didasari oleh adanya 4T (4 Terlalu) yang salah satunya adalah "Terlalu Tua". Oleh karena itu, age sometimes does matter, doesn't it?! :)

Nah, mungkin karena itulah status seringkali dianggap sangat penting saat memasuki usia tersebut. Yah, saya sih sudah merasakan itu sejak lama, tapi ya bagaimana wong belum (eh, kok malah curcol, he he he). Tapi saya heran, banyak teman-teman saya di Australia tak terlalu ambil pusing akan hal ini, terlebih teman-teman wanita saya. Tetap saja saya pasti kepikiran...

So, intinya penekanan usia pada sebuah pernikahan tidak menjadi soal. Disebutkan bahwa yang penting sebenarnya dalah kesiapan fisik dan mental, yaitu mulai dari persiapan moral (kematangan visi keislaman), persiapan fisik, kepribadian, materi dan sosial. Oleh karena itu, (buat teman-teman yang masih single) jangan khawatir! Tanamkan saja agenda persiapan tersebut di dalam benak kita dan laksanakan semampu kita seraya menunggu. Perkara kapan dan di usia berapa, jawabannya kita serahkan sama Tuhan saja. Jadi, jika kamu berusia 27 tahun dan ditanya apa statusmu, bilang: TANYA SAJA SAMA TUHAN! He he he he :))

(Tulisan ini dibuat bukan dengan maksud menggurui ya, hanya memberikan motivasi saja buat teman-teman dan saya pribadi tentunya)

Semangat!

Saturday, March 21, 2015

MENJADI PENELITI UNTUK NEGERI



Saya saat menjadi penyaji poster ilmiah di sebuah Simposium Kesehatan Nasional

Meneliti adalah...
 Berusaha melihat lebih dekat,
Mendengar cerita lebih lama,
Mengamati lebih seksama,
Mencoba mengerti dengan logika, dan 
Menarik analisis sesuai dengan kondisi nyata.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Assalamu'alaikum.

Adakah di antara kalian yang pernah mendengar apa itu profesi peneliti? Tahu nggak sih apa saja yang peneliti lakukan di dalam pekerjaannya?

Menurut saya, tak banyak yang mengetahui profesi ini sebenarnya. Orang awam sering mengira bahwa peneliti itu cenderung seperti Einstein. Penampilannya terlihat sangat 'nerd' alias kutu buku dan sibuk bereksperimen untuk menghasilkan sebuah penemuan. Hmm, pada dasarnya, tidak semua peneliti demikian lho. Peneliti tidak selalu identik dengan orang yang 'freak' akan ilmu, senang menyendiri dan tidak memperdulikan penampilan. Sebaliknya, [eneliti itu ternyata sebuah profesi yang menurut saya sangat mengasyikkan. Mengapa?


Memperkaya wawasan dan ilmu

” ….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah [58] : 11)

Selama lima tahun terakhir ini, saya menggeluti bidang penelitian kesehatan masyarakat. Banyak hal yang saya peroleh dengan menjadi seorang peneliti. Pertama, saya merasa ilmu saya semakin bertambah. Ilmu sebenarnya tidak hanya didapatkan melalui pendidikan formal, tetapi juga ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai lulusan S1 Kesehatan Masyarakat, saya mungkin dinilai sudah cocok menekuni profesi ini. Tapi, saya ternyata masih harus memiliki ilmu lain untuk menjadi seorang peneliti. Untuk menjadi seorang peneliti, saya dituntut harus mampu bekerja baik sebagai individu maupun sebagai tim. Peneliti harus memiliki rasa kekeluargaan dan kerja sama yang tinggi. 

Kedua, dengan melakukan penelitian memungkinkan seorang peneliti untuk terus belajar dan belajar. Penelitian membuka gerbang saya untuk belajar menganalisis fenomena dan masalah yang saya teliti, untuk selanjutnya saya jadikan sebagai ilmu baru. Jadi, peneliti sebenarnya dapat belajar dari hasil penelitian yang diperolehnya. Selain itu, seorang peneliti mungkin saja juga menemukan sesuatu yang menarik dan tidak pernah ada sebelumnya. Misalnya, penemuan vaksin HIV/AIDS. Hebat 'kan?! Oleh karena itu, saya senang berkarya sebagai peneliti. Saya banyak belajar keilmuan di luar ilmu dari latar belakang pendidikan saya. Saya belajar dari banyak peneliti-peneliti senior yang memiliki bidang keilmuan berbeda dari saya. Ketika saya diajak dalam sebuah penelitian mengenai pengendalian Demam Berdarah contohnya, saya juga belajar tentang ilmu biologi nyamuk dan ilmu kesehatan lingkungan dari mereka. Menarik bukan?

Saya bersama teman saya memeriksa perkembangbiakan jentik nyamuk 

Mengenal karakter orang dan lingkungan sekitar

Penelitian itu pada prinsipnya tidak selalu dilakukan di dalam ruangan tertutup, misalnya di laboratorium. Penelitian yang berbasis masyarakat seperti yang saya lakukan sebenarnya lebih banyak dilakukan di lapangan. Kalau kalian pernah melihat sales penjual barang yang suka berkeliling ke rumah-rumah, mungkin peneliti juga bisa dianalogikan demikian, he he he. Peneliti kesehatan masyarakat lebih banyak berinteraksi dengan manusia dan alam. Dari situ saya jadi tahu bagaimana harus menyesuaikan diri beradaptasi dengan lingkungan. 


Tim enumerator Riskesdas saya yang siap turun ke lapangan

Saya ingat beberapa tahun lalu meneliti bagaimana status kesehatan masyarakat di Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Tergabung dalam tim Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI, saya bersama tim enumerator saya bergerak menyusuri kampung dan desa yang ada di Kabupaten tersebut. Saya memasuki satu per satu rumah yang terdaftar sebagai sampel penelitian kemudian melakukan wawancara terhadap seluruh anggota keluarga di rumah-rumah tersebut. Sungguh saat itu, saya banyak memperoleh pelajaran. Saya tidak hanya harus bisa membaur dengan mereka, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dengan baik. Saya mau tidak mau jadi bisa mengenal karakter orang, termasuk orang-orang yang ada tim penelitian saya.

Salah satu bagian di dalam sebuah penelitian: analisis data

Meningkatkan kreativitas dan inovasi

Menjadi peneliti itu dituntut harus bisa kreatif dan inovatif. Tapi bukan berarti saya itu orangnya sangat kreatif ya.. :) Nah, mengapa harus kreatif? Ide penelitian itu bisa sangat luas. Kita bisa meneliti dari hal yang kecil hingga yang besar sekali pun. Agar penelitian itu bisa menarik dan hasilnya bisa berguna bagi orang banyak, peneliti tentu saja harus bisa sekreatif mungkin menuangkan ide-idenya ke dalam sebuah penelitian. Misalnya saja, penelitian tentang tanaman obat sebagai bahan dasar jamu. Orang mungkin banyak tahu beberapa jenis jamu yang umum dikonsumsi seperti jamu kunyit asam dan beras kencur, tetapi jika kita mau berinovasi, kita bisa menghasilkan jamu dari bahan dasar lain yang tentunya memiliki khasiat yang lebih banyak. Peneliti yang kurang kreatif mungkin terkesan tidak up-to-date dan cupu ya. Tapi itu benar lho! He he he. Jadi, kreativitas dan inovasi menjadi kunci penting bagi seorang peneliti.


Menjadi pribadi yang jujur,  berani dan tangguh

"Peneliti itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong!"

Kata-kata di atas juga mencerminkan seorang peneliti lho! Hasil-hasil penelitian tentunya tidak selalu sempurna dan berhasil. Kadang peneliti bisa gagal menjawab tujuan dari penelitiannya. Maka dari itu, peneliti itu boleh saja salah. Penelitian itu 'kan proses interaksi orang yang meneliti dengan apa yang ditelitinya, jadi error atau kesalahan bisa saja terjadi. Dengan menjadi peneliti saya dituntut menjadi pribadi yang jujur, berani dan tangguh. Jujur terhadap proses dan hasil penelitian serta berani dan tangguh dalam menghadapi hambatan di dalam penelitian.

Bagi peneliti lapangan seperti saya, kendala lebih banyak datang dari luar. Akses geografi dan komunikasi yang sulit sering menjadi hambatan dalam kegiatan penelitian, contohnya jalan yang rusak, becek dan berlumpur, dan tidak adanya sinyal telepon. Bahkan jalan tidak bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor, harus dilalui dengan berjalan kaki selama berjam-jam. Hal inilah sebenarnya yang mengasyikkan dari seorang peneliti. Kita jadi lebih mandiri dan siap dengan kondisi apa pun!

Salah satu kendala di lapangan, akses jalan yang rusak
Bekerja sambil berwisata

Nah, hal lain yang tak ketinggalan adalah kesempatan berwisata sambil bekerja. Mungkin kita sering mendengar pepatah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Pepatah ini bisa berlaku bagi seorang peneliti. Mengapa? Penelitian yang dilakukan di banyak daerah di Indonesia memungkinkan saya untuk lebih mengenal tempat-tempat wisata yang ada di daerah-daerah tersebut. Saat di lapangan atau di waktu senggang, saya bisa sambil menikmati keindahan alam dan budaya masyarakat daerah setempat. Saya jadi semakin bersyukur dan mencintai Indonesia... :)

Nah, itu tadi sedikit pengalaman dan sharing saya tentang profesi sebagai peneliti. Tertarik untuk mengikuti jejak saya? 

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi teman-teman pembaca. Pada dasarnya, semua pekerjaan atau profesi itu menarik asalkan halal, bermanfaat dan membawa berkah bagi orang yang menjalankan dan orang lain di sekitarnya. Jadi, jalankan profesimu dengan rasa cinta dan keikhlasan maka kamu insyaa Allah akan berhasil!

Selamat berkarya!

Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge bulan Maret.

Sunday, February 1, 2015

MARTABAK MANIS (TANPA RAGI)




Dear food lover,

Siapa yang nggak pernah bosen makan martabak manis?! He he he.

Makanan yang satu ini jelas sudah menjadi favorit bagi kebanyakan orang termasuk saya sendiri. Rasanya yang tentu saja manis dan legit paling pas disajikan sebagai sajian penutup. Istilah martabak manis ternyata ada macam-macam lho! Mulai dari martabak Bangka, martabak Terang Bulan sampai martabak manis Bandung. Ayo, kamu lebih suka beli yang mana? He he he. Isian martabak pun kini beragam, dari yang sangat sederhana seperti coklat meises, susu dan ketan item, sampai isian yang mahal sekali pun seperti selai coklat Nutella atau Toblerone.

Kalau kamu salah satu penyuka panganan yang satu ini, wajib sesekali mencobanya di rumah. Memang sih nggak usah pusing-pusing kalau lagi pengen. Tinggal keluar rumah sebentar, penjual martabak manis biasanya udah menjamur di pinggir-pinggir jalan. Tapi nggak ada salahnya lho kalau kamu mau membuatnya di rumah. Selain hemat, isiannya bisa kamu gunakan dengan bahan yang lebih variatif.

Setelah sebelumnya saya sudah pernah posting resep martabak manis di sini, kini saya mau membagi resep martabak manis yang tanpa menggunakan ragi. Memang apa sih bedanya? 

Yang jelas, ada perbedaannya. Pertama dari tingkat kemiripan dengan yang dijual oleh penjual martabak. Kedua adalah tekstur martabak itu sendiri. Martabak manis yang tanpa menggunakan ragi dikenal sebagai resep yang biasa digunakan penjual martabak pada umumnya. Kalian bisa membedakannya dari tekstur kulit dan kue martabak. Rahasianya ada pada penggunaan BAKING SODA atau SODA KUE! 

Nah, resep yang akan saya share sekarang telah saya modifikasi dari resep berikut ini. Karena adonan yang dibuat dalam resep tersebut terlalu banyak, jadi saya kurangi jumlah takarannya pada resep saya. Tapi jangan khawatir, martabak yang saya buat pun berhasil.

Penasaran? Yuk, dicatat bahan-bahan dan cara membuatnya. Selamat mencoba ya!!
Bahan-bahan:
  1. 300 gram tepung terigu, ayak
  2. 1/4 sdt vanili bubuk/ esens vanili
  3. 1/4 sdt garam
  4. 2 butir telur
  5. 4 sdm gula pasir
  6. 250 ml susu cair
  7. 1/2 sdt soda kue/baking soda
  8. Gula secukupnya, sebagai taburan
  9. Margarin, sebagai olesan
  10. Pisang/meises coklat/selai coklat, kacang atau buah-buahan/keju cheddar parut/susu kental manis, sebagai topping
Cara membuat:
  1. Campurkan tepung terigu yang sudah diayak bersama garam dan vanili pada wadah kering. Sisihkan.
  2. Pada wadah terpisah, kocok telur bersama gula pasir menggunakan mikser dengan kecepatan tinggi selama kurang lebih 5 menit hingga adonan telur berwarna putih pucat.
  3. Setelah itu kurangi kecepatan mikser lalu masukkan terigu dan susu cair secara bergantian ke dalam adonan telur hingga tercampur rata.
  4. Terakhir masukkan soda kue/baking soda, aduk rata lalu matikan mikser.
  5. Tutup wadah dan diamkan adonan selama kurang lebih 1 jam.
  6. Setelah 1 jam, siapkan wajan anti lengket berdiameter kurang lebih 20 cm (di sini saya menggunakan wajan dengan ukuran yang lebih kecil). Panaskan di atas api sedang.
  7. Tuang kurang lebih 2-3 sendok sayur adonan ke dalam wajan, kecilkan api. Tutup wajan dan masak hingga muncul banyak pori pada permukaan martabak.
  8. Jika sudah muncul banyak pori seperti itu, taburkan gula pasir secukupnya di atas permukaan martabak. Tutup wajan kembali dan masak hingga matang.
  9. Setelah martabak matang dan permukaannya telah berwarna kecoklatan, angkat martabak.
  10. Selagi panas, oleskan margarin di atasnya. Kemudian, taburkan topping sesuai selera. Lipat martabak lalu potong-potong. Sajikan.

Campur tepung terigu, garam dan vanili bubuk ke dalam satu adonan.


Kocok telur dan gula pasir hingga putih pucat.



Masukkan sedikit demi sedikit terigu bergantian dengan susu cair


Adonan yang sudah siap didiamkan selama 1 jam.


Taburkan gula pasir ketika pori-pori pada martabak telah muncul


Martabak yang telah matang dan siap diangkat


Olesi martabak yang baru diangkat dengan margarin secukupnya.


Olesi dengan topping sesuai selera (saya menggunakan selai coklat dan irisan pisang)

Tips Untuk Membuat Tamu Rumah Liburan Merasa Senang Di Rumah Anda

Pernahkah Anda memiliki perasaan tidak pasti bepergian ke suatu tempat untuk tinggal bersama keluarga yang tidak Anda kenal dengan baik? ...