Saturday, January 12, 2013

3 HARI UNTUK SELAMANYA

Seperti judul film saja, "3 Hari untuk Selamanya". Saya bukan ingin menulis ulasan film yang dibintangi Nicholas Saputra ini, melainkan mereview cerita "3 Hari untuk Selamanya" versi saya. Kali ini bukan Riri Riza yang menulis dan mengarahkan cerita saya ini, melainkan Dzat Maha Esa, Pemilik Alam Semesta, yang melakukan.


Tak pernah terlintas dalam bayangan saya, saya benar-benar berada dalam situasi ter-luar biasa yang pernah saya miliki dalam hidup saya. Yup, 3 hari - untuk - selamanya. Benar-benar hanya 3 hari! Dalam 3 hari, saya harus bersaing dengan para kompetitor saya yang semuanya tidak bisa saya anggap remeh, dan dalam 3 hari pula, saya harus berjuang untuk menjadi salah satu dari 450 pemenang, yakni penerima beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) 2013. 

Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya, sebagai pemula, sebagai pemimpi, dan sebagai pemilik cita-cita. Alhamdulillah, sabtu lalu, saya menghabiskan jatah 3 hari saya itu. Beberapa hari yang lalu, saya lebih dulu melewati dua ujian IELTS, yang keduanya saya akui tidaklah mudah. Kemudian diakhiri dengan sesi wawancara oleh pihak Australian Awards Indonesia sebagai proses akhir tahap seleksi.

***

Hari 1. Senin, 7 Januari 2013

Senin, hari pertama masuk sekolah, apalagi yang identik kalau bukan kemacetan. Saya bukan hanya berlomba dengan para pelamar lain untuk sampai tepat waktu di tempat ujian, melainkan juga berlomba dengan para orang tua yang mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, atau para pekerja yang tengah berangkat ke kantor, agar terhindar dari kemacetan ibukota yang sudah nampak menyeruput sejak pukul 6 pagi. Di sepanjang perjalanan, saya tak berhenti berdo'a agar saya jadi salah satu juaranya, sampai di tempat ujian tepat waktu. Itu saja sudah pertarungan yang berat. 

07.15 sampai di ruang ujian, tepatnya di salah satu gedung perkantoran swasta di bilangan Kuningan, saya sudah melihat beberapa peserta yang sudah lebih dulu sampai dari saya. Luar biasa! Mereka pasti sudah berangkat lebih pagi dari saya, pikir saya. Tetapi, bisa juga mereka cukup beruntung karena tinggal dekat dengan lokasi ujian. 

Tak soal siapa yang lebih dulu sampai, yang penting saya sudah sampai lebih dari cukup waktu, 45 menit sebelum waktu seharusnya saya tiba. 90 menit berlalu. Di saat itu pula, saya dan seluruh peserta satu persatu melakukan sesi foto dan pendaftaran sidik jari. Ujian yang saya hadapi memang bukan ujian yang main-main. Penyelenggara ujian nampaknya sangat serius dalam memilih kandidat-kandidat ini alias sang pemenang. 

Waktu latihan kesabaran saya ternyata belum usai. Saya harus menunggu giliran untuk dipanggil dan mengikuti tes berbicara (speaking). Setidaknya lebih dari 1 jam saya harus duduk dan menanti panggilan itu datang. Untungnya, saya tidak sendiri. Saya ditemani para sahabat sekaligus para pejuang yang juga tengah menanti saat itu tiba. Waktu bergulir ternyata tak selambat yang saya pikirkan hingga tiba panggilan untuk nama saya. Ketika melihat sekeliling, tinggal beberapa orang saja yang tersisa. Saya pun lantas bergerak maju, menitipkan tas dan barang-barang saya di loket penitipan barang, lalu berjalan dengan mantap ke ruang tes.

Di dalam ruangan, saya hanya berdampingan dengan seorang pewawancara, laki-laki, Warga Negara Asing (WNA), tinggi besar, dan yang pasti dia tidak mengijinkan saya untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Tes berbicara yang saya lakukan sepertinya memakan waktu yang tidak banyak. Rasanya hanya sekejap saja saya tadi ada di dalam. Banyak hal yang dia tanyakan, mulai dari pekerjaan saya, permainan yang dulu saya mainkan saat masih kecil, dan hal-hal lain seputar isu dan kejadian di sekitar saya sehari-hari. Semua itu saya harus saya jelaskan dengan baik, dengan bahasa Inggris, yang jujur saya masih malu belum bisa fasih hingga sekarang.

***

Hari 2. Kamis, 10 Januari 2013

Kali ini saya berangkat ke lokasi ujian yang sama dengan hari sebelumnya, 15 menit lebih cepat. Bukan tanpa sebab, seluruh peserta memang diharuskan tiba pukul 07.30, 30 menit lebih cepat. Malam sebelumnya saya sampai hampir tidak bisa membayangkan, jam berapa saya harus berangkat dari rumah. Jika saya diminta pukul 07.30 agar tiba di lokasi, setidaknya 15 menit sebelumnya kami sudah standby

Alhamdulillah, Allah memang Maha Pemurah. Dia melancarkan perjalanan saya ketika itu. Pukul 07.10 saya sudah tiba di tempat ujian. Tepat dugaan saya. Waktu tempuh perjalanan saya sama persis dengan hari senin sebelumnya. Karena 15 menit berangkat lebih awal, saya pun sampai 15 menit sampai lebih awal. 

Ada pemandangan yang tak biasa yang saya lihat. Saya sungguh terkejut ketika baru keluar dari elevator menuju ruang tes, koridor sudah dipenuhi oleh antrian peserta lain. Antrian itu sudah mengekor hingga ke barisan paling belakang. Koridor nampak begitu gaduh karena dipenuhi manusia-manusia super. Saya melihat dua sahabat saya sudah lebih dulu berbaris cantik dan sesekali melambaikan tangan ke arah saya untuk memberi kode. Saya benar-benar tak menyangka, ternyata mereka semua adalah pejuang yang tangguh. Saya sampai tak bisa membayangkan jam berapa mereka tiba, dan jam berapa mereka berangkat.

Saya pun mengantri di barisan paling belakang. Antrian dibagi ke dalam 3 kelompok besar menurut jadwal tes berbicara. Saya berbaris mengikuti kelompok jadwal hari senin. Tak lama, saya berangsur-angsur makin masuk ke dalam. Kami harus berbaris untuk daftar ulang dan menitipkan tas kami di loket penitipan barang yang juga terbagi ke dalam 2 loket. Saya sungguh salut dengan manajemen penyelenggara yang sangat rapi dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Saya pikir sekitar 1 jam lebih saya harus menunggu lagi di dalam untuk mulai tes. Mereka benar-benar bisa memperkirakan waktu hingga kami diminta tiba pagi sekali. Selain itu, mereka sangat memperhatikan kejujuran dan bentuk kecurangan yang mungkin saja terjadi. Bagi peserta yang tidak membawa tempat pensil transparan, maka oleh pihak penyelenggara diberikan tempat pensil tersebut secara cuma-cuma. Saya salah satunya. 

Ujian kali ini lebih sulit dari senin lalu karena ada 3 tipe ujian yang akan dihadapi, yakni ujian mendengarkan (listening), membaca (reading), dan menulis (writing). Ujian akan memakan waktu 2,5 jam dan saya yakin akan jadi hari yang berat bagi saya. Setelah belajar dengan cukup intensif beberapa minggu, saya merasa cukup yakin menjawab pertanyaan di dua tipe ujian mendengarkan dan membaca. Hanya saja, ada beberapa jawaban yang saya ragukan. Ini memang tak terlalu jadi soal, sementara ujian menulis adalah yang palit sulit menurut saya. Saya hanya diberi waktu 60 menit untuk menyelesaikan 2 esai dalam bahasa Inggris, dan dengan dua topik yang berbeda. Selain itu, penulisan juga ditentukan yakni tidak kurang dari 150 kata pada topik pertama, dan 250 kata pada topik kedua. 

Di sinilah, saya sempat mengalami writer's block atau tiba-tiba berhenti menulis karena entah apa lagi yang mau saya tambahkan. Hingga 20 menit pertama yang seharusnya saya sudah selesai di topik pertama, saya justru masih menulis. Perlu ekstra kerja keras untuk mengejar di topik kedua karena ketentuan jumlah katanya lebih banyak. Tapi alhamdulillah, semua dapat diselesaikan tepat waktu. 2 esai yang menurut saya masih ecek-ecek, dan masih perlu belajar mengingat jika bersekolah nanti saya akan terus dituntut menulis dalam bahasa Inggris. 

***

Hari 3. Sabtu, 12 Januari 2013

Yaaaaiiiiiiyyyyy!! Hari terakhir. Hari yang menentukan ini semua. Hari ketigalah yang jadi penentuan apakah saya bisa mewujudkan keinginan saya untuk jadi salah satu pemenang. Di hari sabtu yang biasanya saya bercengkerama dengan keluarga dan melakukan hal-hal menyenangkan di rumah, kali ini saya harus kembali berangkat pagi dan bersiap diajukan beberapa pertanyaan seputar rencana pendidikan saya di Australia. 

Tiba di tempat lokasi, tidak banyak orang bergerombol di koridor lift seperti kamis lalu, mengingat seleksi ini sudah terbagi ke dalam beberapa kelompok peserta. Saya mendapat waktu di hari sabtu, berselang 2 hari dari ujian saya sebelumnya. Wawancara akan dilakukan oleh pihak ADS, dan mereka semua adalah akademisi dari beberapa universitas di Australia, dan juga akademisi universitas di Indonesia yang juga alumni penerima beasiswa ADS. Sebelum memulai proses wawancara, saya dan sekitar 37 orang peserta yang lain berkumpul untuk diberikan pengarahan. Setelah itu, dipanggil satu persatu ke ruang wawancara. Seluruh peserta dibagi ke dalam 5 ruangan dan masing-masing akan diwawancarai oleh dua orang pewawancara. 

Lucky me, nama saya menuntun saya jadi orang pertama yang diwawancarai di kelompok 5. Hari itu saya sungguh tenang, tak ada ekspresi kepanikan dan kecemasan di batin saya. Sesekali saya membaca catatan yang sengaja saya buat untuk mengantisipasi pertanyaan apa saja yang akan diajukan, sebelum memasuki ruangan. Hingga saatnya nama saya diucapkan dan saya dengan mantap berjalan menuju ruangan yang akan jadi penentuan hidup dan karir saya.

Masuk ke ruangan tersebut rasanya sangat tenang. Di dalam hanya ada kami bertiga, saya ditemani dua orang pewawancara yang tidak bisa saya remehkan begitu saja, namun harus saya hormati. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan kepada saya sebagai bentuk konfirmasi dan penilaian atas apa yang pernah tulis dalam formulir aplikasi saya pada saat saya melamar. Tak pernah saya duga, ternyata pertanyaan yang diarahkan ke saya lebih banyak tentang penelitian yang akan saya lakukan. Alhamdulillah, Allah memudahkan dan melancarkan ucapan saya hingga saya mampu menjelaskan dengan baik, meskipun beberapa kali salah menyebutkan istilah bahasa Inggris. 

***
Kini, saya tinggal menunggu keputusan Illahi, apakah saya diijinkan menjadi salah satu pemenang di babak akhir ini atau harus bersabar dan ikhlas menerima kegagalan sebagai pembelajaran saya paling berharga. Saya sudah membuktikan usaha dan kerja keras saya selama kurang lebih 1 tahun untuk memperoleh hasil yang baik selama 3 hari kemarin. 3 hari yang akan jadi penentu masa depan saya selamanya. Semoga di bulan Februari depan, ada kabar membahagiakan bagi saya, keluarga, dan teman serta para sahabat yang sudah tulus mendo'akan perjuangan saya ini. Amiin ya robbal 'alamin. 

Wednesday, December 26, 2012

PERSEMBUNYIAN YANG MANIS


Aku terkurung
Terkunci dalam sebuah relung kebisuan
Tak ada lisan terucap
Tak ada deru bergetar

Aku terhempas
Terdorong dalam sebuah ruang hampa
Kering tanpa udara
Sepi tanpa bisik

Hingga tetesan embun membiaskan difusi cahaya
Memancar melewati sudut ruang berkelok
Memberi terang kepada sebuah perkamen lusuh
Untuk kembali memaksaku menguntai kata terucap

Sungguh persembunyian yang manis, tadi
Kusadari itu dirimu, sang cahaya embun di kaki langit
Menemukanku dalam kekosongan
Mendengarkanku dalam kesunyian 
Suara-suara rinduku yang lama tak kau jamah

ENAM JURUS MENULIS CERPEN

Siapa di antara teman-teman pembaca yang suka membaca cerpen? Atau yang bahkan suka menulis cerpen? Bagaimana sih cara menulis cerpen itu? Apakah cerpen sama dengan novel? 

Saya kebetulan punya tips menulis cerpen yang saya ulas dari tulisan Mbak Naning Pranoto, salah satu penulis Kumpulan Cerpen "Sebilah Pisau dari Tokyo". Berikut ulasannya.

Apa sih cerpen itu?
Cerpen atau cerita pendek merupakan cerita yang ditulis pendek, umumnya ditulis 5.000-8.000 kata, namun tema dan persoalan yang ada di dalam cerpen dibahas hingga tuntas secara utuh. Awal cerita (opening) dari sebuah cerpen ditulis secara menarik dan eye-catching, kemudian ditutup dengan akhir cerita yang memberikan sebuah kejutan bagi pembacanya.

Lalu bagaimana tips menulis cerpen?

Menurut Mbak Naning Pranoto, ada 6 jurus dalam menulis sebuah cerpen.
  1. Buatlah dunia dan seluruh kejadian di dalamnya menjadi sumber inspirasi
  2. Bacalah karya-karya para pengarang terkemuka
  3. Petakan apa yang ingin kau tulis
  4. Buatlah setting cerita dan penokohannya
  5. Ciptakan konflik dan masalah
  6. Ciptakan cerita bak mendaki gunung
Buatlah dunia dan seluruh kejadian di dalamnya menjadi sebuah inspirasi
Menurut Mbak Naning, menulis cerpen adalah sebuah proses kreatifitas seseorang, dari tidak ada menjadi ada yaitu sebuah cerita. Kita mungkin setuju dengan pendapatnya tersebut. Oleh karena itu, segeralah menulis dan janganlah menunda-nunda. Seorang sastrawan terkemuka dari Amerika Serikat, 

Ernest Hemingway, pernah mengatakan, "Jika Anda mengalami kesulitan pada saat akan memulai menulis, buka jendela lebar-lebar, lihat keluar sejauh mungkin. Dunia dan semua isinya adalah sumber cerita dan setiap kejadian adalah sebuah keajaiban!". Jadi jangan katakan bahwa kita tidak segera menulis karena tidak ada inspirasi. Carilah inspirasi dari lingkungan sekitar teman-teman. Siapa tahu inspirasi menulis ternyata muncul dari dalam kisah kehidupan teman-teman sendiri.

Bacalah karya-karya para pengarang terkemuka
Pengarang sebuah cerpen adalah seseorang yang kreatif. Dia akan menampilkan berbagai kisah dan jalan cerita dengan gaya penulisan yang berbeda-beda pula. Kreatifitas tersebut tidak hanya tergantung dari sebuah inspirasi, melainkan juga dari daya imajinasi, kekayaan materi yang ditulis, wawasan akan berbagai pengetahuan, penguasaan tata bahasa dan kosa kata, serta kelihaian dalam mengolah kata maupun merangkainya menjadi kalimat-kalimat yang eye-catching. Tentu saja hal-hal tersebut dapat diperoleh salah satunya dengan membaca karya para pengarang atau penulis terkemuka. Seraplah bacaan tersebut agar dapat digunakan sebagai pembanding karya teman-teman nanti. Selain itu, menulis secara rutin dan disiplin ternyata sangat dianjurkan, serta berpikirlah bahwa menulis itu pekerjaan yang menyenangkan. Berambisi menghasilkan cerpen yang bermutu dan bagus juga ternyata dapat mendorong kita untuk selalu giat menulis.

Petakan apa yang ingin kau tulis
Memetakan materi yang akan kita tulis dalam sebuah cerpen ternyata juga penting, lho teman-teman! Susunlah tema cerita, judul, para pelaku atau tokoh cerita, serta setting atau tempat kejadian dari cerpen kita nanti. Plot atau jalan cerita juga penting untuk disusun. Selain membantu kita untuk berkreatif dan berimajinasi, memetakan materi cerita juga penting untuk mempersiapkan pengolahan kata yang akan digunakan dalam merangkai tiap kalimat di dalam cerita kita. Proses pemetaan ini juga dapat disebut sebagai mind mapping. Seperti contoh mind mapping membuat novel di bawah ini. 

Happiness Novel Mind Map
(http://soilnanowrimo.wordpress.com)

Buatlah setting cerita dan penokohannya
Sebuah cerpen yang menarik untuk dibaca adalah cerpen yang mampu menciptakan karakter tokoh yang kuat serta mampu memainkan emosi pembacanya. Di sisi lain, hal ini terkadang dapat menimbulkan pro dan kontra, bahkan opini-opini baru. Lantas, bagaimana menciptakan karakter tokoh seperti itu. Menurut Mbak Naning, hal yang harus digali adalah nama pelaku/tokoh, umur, pekerjaan, tempat tinggal, penampilan, perilaku, status (belum menikah/menikah), status sosial (kaya atau miskin), teman dan sahabatnya, lawan jenis impiannya, obsesi serta kebencian, dan sebagainya. Banyak yang bisa digali dari suatu karakter tokoh. Jangan lupa untuk membuat setting terkait dengan kehidupan si tokoh dan juga kejadian-kejadian di dalam cerita. Pelaku/tokoh bisa menjadi orang pertama, orang kedua, atau orang ketiga.

Ciptakan konflik dan masalah
Selain penokohan, hal yang membuat sebuah cerpen menarik pembacanya adalah jalan cerita yang disuguhkan. Seringkali pembaca menjadi benar-benar merasakan bahwa cerita yang dibacanya terjadi di dalam kenyataan.  Hal tersebut dapat terjadi dari adanya permasalahan atau konflik yang timbul di dalam plot cerita. Konflik dan permasalahan dapat mempengaruhi emosi pembaca. Oleh karena itu, buatlah cerpen yang eye-catching sehingga konflik dapat ditangkap. Mbak Nining memberika tipsnya, yakni dengan cara "melukiskan bukan menceritakan". Contohnya:
Sepasang alisnya yang tebal menyatu, membuat keningnya berkerut-kusut, dan matanya merah menyala memandang ke arah saya. Suaranya lirih serak menekan "Keluar!" giginya menggegat.
Menarik bukan?

Ciptakan cerita bak mendaki gunung
Konflik atau permasalahan dalam sebuah cerita dapat menjadi sebuah penentu (turning-point) untuk mencapai suatu titik yang dramatik. Hal ini dapat juga disebut sebagai klimaks atau puncak cerita. Klimaks disajikan sebelum menuju akhir cerita (ending). Dalam menuju akhir cerita, buatlah penuturan kata yang cenderung melandai atau anti klimaks, sehingga seperti seseorang yang tengah mendaki gunung.

***

Bagaimana tips-tipsnya? Sudah cukup bermanfaat? Semoga tips dari Mbak Naning Pranoto tadi bisa menambah wawasan teman-teman dalam menulis cerpen, sekaligus membantu teman-teman untuk tetap semangat membuat cerpen. Saya pun demikian. 

Enjoy writing!!

Sumber: Tips Singkat Enam Jurus Menulis Cerpen oleh Naning Pranoto dalam Creative Writing Workshop

Friday, November 30, 2012

KEJUTAN KECIL


Dag, dig, dug..

Alhamdulillahirobbil'alamin. Akhirnya kemarin sore surat cinta yang kutunggu datang juga. Sejak dikabari sahabat sekaligus teman seperjuanganku, Lulu, bahwa dia menerima surat dari ADS dan lolos seleksi, aku jadi deg-degan luar biasa. Saat itu, aku masih asyik merapikan draft laporan penelitianku di Bogor. Dia menelepon dan mengabari bahwa ayahnya di rumah menerima surat dari ADS. Spontan dia bbm, dan menanyakan keadaanku. Memang aku sudah tahu ADS akan mengirimkan hasil seleksi tahap I akhir November, tapi entah tanggal berapa. Aku yang penasaran akhirnya menelepon ayah ke rumah, tapi beliau bilang tidak ada surat masuk. Mungkin belum, pikirku. Untungnya, sore itu, aku sudah mau pulang ke Jakarta. Mudah-mudahan sesampainya di rumah, surat itu sudah ada.

Selama di bus dan kendaraan umum, aku tak henti-hentinya berdoa, bahkan sempat terharu membayangkan seandainya aku benar-benar bisa berangkat sekolah ke Aussie tahun depan. Aku terharu sampai sempat hampir meneteskan air mata. Hiks! 


Tapi semua kecemasan itu terjawab sudah. Saat sudah dekat rumah, ibuku mengabari via bbm bahwa ada surat dari Aussie, mungkin maksudnya dari ADS. Alhamdulillah. Aku lega karena surat itu sudah sampai dengan selamat. Tetapi aku belum tahu apa isinya. Apa sama dengan yang Lulu terima?

Jeng-jeng... Membukanya saja aku sudah deg-degan. Saat kubaca suratnya...
  "Congratulation...."
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau memberikan kejutan kecil di akhir November ini. Aku pun lolos seleksi tahap I dan menjadi salah satu dari 757 kandidat yang akan kembali berjuang di tes IELTS dan wawancara bulan Januari tahun depan. Aku hampir menangis melihat reaksi ibuku yang hanya terpaku menatapku tapi dengan senyum lembutnya aku percaya dia selalu mendoakanku.

Jadi tinggal selangkah lagi kah? Bulan Januari? Baik, insya Allah aku akan berusaha dengan semaksimal mungkin untuk meraih cita-citaku. Mulai belajar buku IELTS yang sempat setengah rusah karena kebanjiran dan juga lebih giat latihan speaking. Ya Allah, kumohon dekap aku dan mudahkanlah. Kabulkanlah keinginanku ini. Semoga kejutan kecil ini tak berakhir sampai di sini, semoga Engkau memberikan kejutan kecil berikutnya tahun depan... Amin ya robbal 'alamin. Iyoshhhh, ganbatte!!! :)

Saturday, June 9, 2012

RED VELVET, WANNA SOME?



Berani ngaku pecinta kuliner pastry semacam kue, roti, dan sejenisnya? Pasti tahu deh yang disebut Red Velvet Cake? Yup, kue yang booming di film "The Vow" ini sekarang ternyata jadi banyak incaran pemburu kuliner, termasuk saya. Tidak hanya penampilannya yang cantik, Red Velvet Cake juga dikatakan memiliki rasa yang menggoda. Hmm, saya pun jadi penasaran ingin mencicipinya.

Hari ini saya baru saja memutuskan untuk melangkahkan kaki berburu Red Velvet Cake yang katanya enak di seputar Jakarta. Sebelumnya, saya dan adik saya berusaha mencari tahu dengan browsing di internet. Ternyata banyak blog dan tulisan tentang review kue yang satu ini. Rekomendasinya pun beragam. Saya tilik satu-satu, ternyata ada satu tulisan yang memikat saya. Dari pemaparan penulisnya - bagaimana rasa dan penampilan Red Velvet Cake di toko kue yang dia beritahu itu, membuat saya tertarik untuk membelinya. Akhirnya saya dan adik saya memutuskan untuk menuju ke toko tersebut tadi siang.

Nama tokonya La Gourmet. Letaknya ada di Mall Grand Indonesia East Mall Lt. LG, dekat dengan Ranch Market. Sebenarnya tidak berbentuk toko tetapi seperti sebuah stand yang menjual beragam roti, kue, dan pastry lain. Pas kesana ternyata saya dikejutkan dengan penampilan si Red Velvet Cakenya (kalau disana dijual dengan nama "Rapsberry Velvet"). Warna kue yang bergradasi merah dan putih dari krim yang mengelilingi kue, di atasnya dihiasi dengan sebuah potongan stroberi pada tiap slice. Tampaknya memang enak. Saya pun membeli 1 slice kue yang dihargai Rp. 34.000/slice. Yang lebih murah pun juga ada tapi potongannya lebih kecil, harganya Rp. 28.000/slice.

Nah sekarang tinggal mencicipinya. Karena tidak disediakan makan di tempat, maka kami membungkusnya (take away) dan memakannya di rumah. Ketika diamati lagi, kuenya memang agak lembab. Saya cicipi ternyata enak. Tidak salah saya membelinya. Tekstur kue sponge yang dilapisi oleh krim keju di tiap lapisannya sungguh menggoyangkan lidah saya. Rasanya yang manis dan sedikit asam dari buah rapsberry juga legitnya krim keju yang melapisi kue membuat sensasi rasa yang menarik. Wah sungguh enak.

Pokoknya kue ini jadi rekomendasi saya. Satu slice dimakan sendiri sudah cukup memuaskan, apalagi kuenya tidak terlalu bikin eneg. Pas di lidah... 

Oh ya satu lagi. Ternyata di La Gourmet tidak hanya dijual Rapsberry (Red) Velvet Cake saja, ada juga jenis velvet lain yang saya pun baru pertama kali tahu, yaitu "Pistacchio Velvet" yang bewarna hijau, dan "Caramel Velvet" yang sepertinya patut dicoba juga. Oke semoga review ini bisa ngebantu kamu hunting Kue Red Velvet di Jakarta. So, give it a try! :)

Sunday, May 13, 2012

CUEK BEBEK

Kubuka saku celana
Terdengar ponsel berdering memekakkan telinga
Pesan yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga
Senyum kecil membekas tiba-tiba

Kupandangi layar depan seketika
Satu pesan terlihat di depan mata
Aku kaget, satu kalimat terbaca
"Alhamdulillah, baik"
Ha, hanya itu saja?

Kuberpikir panjang setelahnya
Tak adakah kau tanyakan kabarku?
Tak inginkah kau tahu sedang apa aku saat ini?
Menyesal aku dibuatnya
Kumatikan saja ponselku
Berharap tak ada lagi inginku menghubungi

...........................

Sampai rumah kuberpikir lagi
Apa memang kau tidak peduli?
Apa memang kau tak mengasihi?

...........................

Aku berpikir lagi
Lagi, lagi, dan lagi

...........................

Sudah cukup aku peduli!
Kalau kamunya cuek bebek!
Sudah puas aku kasihi!
Kalau kamunya cuek bebek!
Ah tak lagi aku sms-i
Toh kamunya pun cuek bebek!!

Thursday, April 19, 2012

Patah Satu Tumbuh Seribu

Dilihat dari judul tulisan ini "Patah Satu Tumbuh Seribu" menggambarkan bahwa jika kita gagal pasti ada kesempatan lain di luar sana. Rasanya luar biasa sedih waktu kita menghadapi kenyataan bahwa kita gagal sebelum berperang. Padahal mungkin baru mencoba mengisi amunisi senjata untuk melawan musuh, ternyata amunisinya salah atau senjatanya tidak cukup mampu menghadapi perang yang ternyata sangat sulit.

Persoalannya terkadang kita menyesal kenapa tidak jauh hari mempersiapkan segala keperluan perang yang kita tahu akan berat. Tapi ya sudah mungkin memang kita tidak mampu menghadapi perang tersebut.

Adakalanya dalam kehidupan nyata kita seringkali menemukan hal seperti ini. Saya baru saja mengalaminya. Di kala sedang semangat mempersiapkan aplikasi beasiswa S2 Research Monbukagakusho ke Jepang, justru nilai TOEFL saya anjlok. Sebenarnya saya sudah prediksi, mungkin saya belum mampu menghasilkan nilai melebihi 550, atau maksimal 550 pas. Tapi saya punya tekad kuat untuk terus mencoba meskipun saya tahu persiapan saya menghadapi tes TOEFL kemarin masih kurang. 

Awal mengetahui ada pembukaan lamaran beasiswa Kedutaan Besar Jepang atau yang sering disebut Monbukagakusho (Monbusho) dari teman saya, saya langsung tertarik dan bersemangat. Sudah bertahun-tahun saya menunggu kesempatan setahun sekali ini muncul di depan saya. Ketika kesempatan itu datang, saya bertekad akan mempersiapkannya dengan matang. Namun di setiap awal usaha pasti ada saja kendalanya. Setelah lihat pengumumannya di website, saya sempat kaget ternyata kesempatan saya hanya 1 bulan untuk mempersiapkan diri. Bahkan mungkin hanya kurang dari 1 bulan. Padahal saya tahu saya belum tes TOEFL. Saya hanya mengikuti prediction test bulan lalu, dan hasilnya tidak dapat digunakan untuk melamar. Dengan demikian, tentu saja saya harus mendaftar untuk ujian TOEFL ITP. 

Tantangan lainnya justru lebih sulit dari yang saya bayangkan. Nilai TOEFL ITP yang dimintakan harus minimal 550. Tentu saja ini sangat sulit.... sulit sekali. Kadang saya berpikir mampukah saya bisa menembus nilai itu, padahal hasil prediction test kemarin saja baru mencapai 530. Ah..... sungguh tantangan luar biasa. Di samping itu saya hampir tidak kebagian kuota tes untuk jadwal yang saya inginkan. Benar-benar cobaan berat di awal. Tapi bukan saya kalau gugur begitu saja. Saya tetap mengoptimalkan waktu memanfaatkannya untuk belajar dan latihan. Saya sampai rela sehari bolos kerja untuk belajar. Tapi memang usaha saya jelas sekali belum maksimal. Seharusnya dari 3 bulan yang lalu saya sudah rajin latihan tapi justru hanya seminggu. Dan seringkali saya tidak sempat belajar sepulang kantor karena terlalu lelah.

Ketika menghadapi tes, cobaan lain datang. Pertanyaan yang disodorkan menurut saya sulit sekali. Selama beberapa kali saya pernah mengikuti tes TOEFL, tidak pernah sesulit ini. Mulai dari listening, structure, sampai reading semuanya sulit. Ahhhh...... di sela-sela ujian saya saja hampir tidak yakin bisa lolos ke angka 550, bahkan mungkin bisa nembus angka 500 saja sudah alhamdulillah. Selesai ujian, saya hanya bisa pasrah dan berharap semua bayangan-bayangan tadi tidak terjadi.

Seminggu menunggu hasil rasanya seperti setahun. Lama sekali.... Saya belum berani mempersiapkan hal lain seperti foto 4,5 cm x 3,5 cm, karena saya harus menunggu hasilnya dulu. Padahal kalaupun lolos, saya harus cepat mempersiapkannya, karena jarak waktu dari keluarnya hasil sampai batas waktu pengumpulan berkas sangat singkat, hanya seminggu. 

Kemarin hari penantian itu tiba. Ternyata Tuhan belum meridhoi usahaku untuk bisa belajar di Jepang melalui beasiswa itu. Gugur sudah usahaku untuk melamar. Sedih rasanya. Tapi saya sudah berusaha tegar dan pasrah. Sebenarnya saya sudah kurang yakin dengan hasilnya. Sesaat sebelum mengambil hasil, saya sempat beberapa kali mencari tahu universitas di Jepang yang memiliki program kuliah Kesehatan Masyarakat. Tetapi dari hasil penelusuran, saya tidak berhasil menemukan. Saya agak tidak puas, kenapa lebih banyak aplikasi ilmu kesehatan komunitas di Jepang bergerak di bidang klinis. Saya sudah takut saja apa saya bisa mengambil jurusan tersebut di sana. 

Sekarang perasaan saya sudah lega. Penantian itu sudah berakhir. Mungkin Tuhan tahu, tidak mungkin bagi saya untuk mempersiapkannya hanya dalam waktu sebulan. Meskipun saya sedih sekali, saya gagal bisa mewujudkan impian belajar di Jepang. Sebenarnya masih ada kesempatan saya untuk mencoba jalur lain dan beasiswa lain. Tapi semoga Tuhan memberikan jalan terbaik buat saya apapun itu. Amin ya rabbal 'alamin.

* Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mendo'akan dan memberikan semangat! Perjuangan yang saya tempuh belum selesai. Masih ada semangat lain untuk mencoba yang lain.

Tips Untuk Membuat Tamu Rumah Liburan Merasa Senang Di Rumah Anda

Pernahkah Anda memiliki perasaan tidak pasti bepergian ke suatu tempat untuk tinggal bersama keluarga yang tidak Anda kenal dengan baik? ...